Kusala vacci kamma
penyejuk hati
Setiap apa yang kita ucapkan
tidak terlepas dari pendengaran orang lain, sehingga ketika kita berucap harus
dipikirkan secara matang sehingga nantinya tidak menyakiti orang lain. Sekarang
ini banyak orang yang sering berkata kasar hanya karena terpancing emosi oleh lawan
bicaranya sehingga timbul kata-kata kasar bahkan menyakiti orang lain. Untuk
bisa dipahami oleh orang lain kita harus terlebih dahulu memahami orang
tersebut, untuk dapat dihormati oleh orang lain terlebih dahulu kita
menghormati orang tersebut, ketika kita ingin mendengarkan kata-kata ramah dari
orang lain terlebih dahulu kita bersikap ramah tamah dalam berucap kepada orang
lain, seperti sabda buddha:
“Berpengetahuan luas dan terampil
Terlatih baik dalam vinaya
Ramah tamah dalam berucap
Itulah berkah utama”
(Maha Mangala Sutta)
Setiap orang ingin mendengarkan
kata-kata yang indah dari orang lain sehingga Kusalla vacci kamma menjadi penyejuk hati setiap orang yang
mendengarkanya. Setiap orang hendaknya berucap yang benar agar dapat dihormati dan
dapat dipercayai oleh orang lain. Untuk dapat mempraktekan ucapan benar,
seseorang harus menjalankan sila ke-4 dengan baik, seperti dusta, fitnah,
kata-kata kasar dan omong kosong. Sifat yang jujur itulah yang selalu di
inginkan oleh setiap orang, ketika seseorang berlaku jujur orang tersebut akan
dipercayai oleh orang lain. Seseorang harus mampu jujur, sungguh jujur dan
berlaku baik, seperti sabda sang Buddha:
“Ini yang harus dikerjakan oleh
mereka yang terampil dalam kebaikan
Untuk mencapai ketenangan
Harus mampu jujur, sungguh jujur
Ikhlas, lemah lembut, tiada
sombong”
(Karaniya Metta Sutta)
Dalam sabda tersebut dijelaskan
jika seseorang ingin terampil dalam kebaikan maka seseorang tersebut harus
mampu untuk jujur, sungguh jujur. Dalam hal ini seseorang berbicara hal yang
penting untuk dibicarakan ataupun hal yang bermanfaat untuk dibicarakan,
seperti sabda Buddha:
“Daripada seribu kata yang tak
berarti, adalah lebih baik sepatah kata yang bermanfaat, yang dapat memberi
kedamaian kepada pendengarnya”
(Dhp. VIII, 100)
Dengan begitu seseorang akan
mengatakan kata yang berarti untuk diucapkan agar dapat membawa kedamaian bagi
seseorang yang mendengarkan kata-kata itu.
1. Menghindari
dusta
Jika seseorang menghormati
kebenaran ataupun menjalankan pancadhamma ke- 4 maka seseorang tersebut akan
menghindari dusta. Apabila orang secara konsisten menghindari dusta seseorang
tersebut akan dipercayai oleh kerabat, teman-teman, sanak saudara, tidak hanya
dipercayai tetapi orang tersebut akan dihargai oleh mereka. Jika kita renungkan
sejenak, perkataan tidak benar ataupun bohong yang kita lakukan biasanya akan
ditutupi lagi dengan kebohongan lainya. Untuk menyembunyikan kebohongan yang
telah dibuat, mau tidak mau ditutupi lagi dengan kebohongan. Inilah yang
disadari oleh sang Buddha, sehingga beliau menyatakan tidak seharusnya
seseorang melakukan kebohongan sekalipun demi sebuah lelucon. (M. 61).
Sang Buddha bersabda:
“Bukan hanya karena pandai
bicara, dan bukan pula karena memiliki wajah bagus seseorang dapat menyebut
dirinya orang baik, apabila dirinya masih bersifat iri, kikir, dan suka menipu”
(Dhp. XIX. 256)
Dari sabda tersebut dapat
dimengerti bahwa bukan dari wajah yang bagus orang dapat dikatakan baik tetapi
dari perkataan yang jujur, dan tidak memiliki sifat iri antara sesama. Ketika
orang berkata bohong sekalipun dan hal itu telah diketahui oleh orang lain maka
seseorang yang mengetahuinya tidak akan percayai padanya dan kebohongan
tersebut akan menimbulkan suatu penyesalan dikemudian hari. Seharusnya
seseorang mempunyai tekad yang baik dalam dirinya sendiri sehingga tekad itu
dapat membawa hasil yang positif untuk orang lain dan juga dirinya sendiri.
Sang Buddha bersabda:
“Aku akan meninggalkan dan
menjauhkan diri dari ucapan bohong, mengucapkan yang benar, ucapan sesuai
kenyataan, ucapan yang dapat dipercaya, ucapan yang dapat diandalkan, tidak
berdusta kepada siapa pun”.
(Uposatha
sutta. A. VIII, 41)
Dengan memiliki tekad seperti itu
seseorang akan menjadi orang yang dapat dipercayai oleh orang lain, dan
mempunyai teman dan juga sanak saudara yang senantiasa akan selalu dekat dengan
nya.
2. Menghindari
fitnah
Fitnah merupakan penyebab
pertengkaran ataupun pertikaian antar manusia. Orang yang berusaha untuk
memfitnah tersebut mempunyai itikad jahat untuk merusak reputasi dari orang
tersebut. Orang seharusnya memupuk sikap saling menjaga satu sama lainya agar
dapat menjadi saudara yang baik sehingga tercipta kerukunan dan tidak akan
terjadi pertikaian antara yang lain.
3. Menghindari
kata-kata kasar
Manusia sering berkata kasar
ataupun sering menghina antara satu sama lain, hal itu sudah kita ketahui
dengan seperti itu bisa menyebabkan pertengkaran antar sesama. Kata-kata kasar
juga dapat menyebabkan seseorang kehilangan orang yang ia cintai. Orang berkata
kasar biasanya disebabkan karena tidak bisa menahan amarah yang sedang melanda
dirinya sendiri yang disebabkan oleh orang lain. Sebagai manusia hendaknya bisa
menahan amarah kita agar dapat menciptakan hidup harmonis antar sesama. Sang
Buddha bersabda:
“Barang siapa dapat menahan
kemarahannya yang memuncak seperti menahan kereta yang sedang melaju, ia patut
diberi sais sejati. Sedangkan sais lainya adalah sebagai pemegang kendali
belaka”.
(Dhp. XVII, 222)
Oleh sebab itu seseorang
sebaiknya menggunakan ucapan yang lembut sehingga dapat membawa kedamaian bagi
orang yang mendengarkan kata-kata kita, bukan kata-kata kasar yang dapat
membawa pertengkaran satu sama lainya. Banyak orang tua mencontohkan kebiasaan
berkata kasar didepan anaknya. Seharusnya sebagai orang tua tidak selayaknya
berkata kasar walaupun perkataan itu tida didasari dengan kebencian. Banyak
pula anak muda membiasakan diri dalam pergaulan dengan maki-makian yang kasar.
Sebagai generasi muda kita harus menghindari itu semua. Mengatasi ucapan kasar
dengan melatih kesabaran, agar kita bisa berfikir sebelum berbicara. Buddha
tidak menganjurkan kita untuk berkata kasar karena kan menyakitkan jika
kata-kata kasar itu terlontar untuk kita. Seperti sabda Buddha:
“Janganlah berbicara kasar kepada
siapapun, karena mereka yang mendapat perlakuan demikian akan membalas dengan
cara yang sama. Sungguh menyakitkan kata-kata kasar itu, yang pada giliranya
akan melukaimu”.
(Dhp. X, 133)
4. Menghindari
omong kosong
Omong kosong ataupun gosip adalah
kata yang sering dilakukan oleh seorang perempuan. Gosip sering melanda ibu-ibu
dala lingkungan mereka tinggal hal itu sering dilakukan yang awalnya hanya
berkumpul untuk menanyakan kabar tetapi lama kelamaan membicarak orang lain.ng
digosipkan olehnya. Aktifitas ini harus
ditinggalkan karena dapat membawa dampak yang luar biasa bagi orang yang sedang
di gosipkanya itu. Gosip merupkan penyebab perpecahan antar sahabat, kerabat
ataupun kawan kerja. Para penggosip tersebut tanpa mereka sadari telah
menciptakan permusuhan bagi dirinya sendiri ataupun dengan orang lain.
Seseorang dapat melihat bahwa
ucapan memegang peranan penting dalam kehidupan jika seorang salah berucap
dapat melukai hati orang lain sehingga seseorang harus berucap yang benar dan
dapat membawa kedamaian bagi orang yang mendengarkanya. Kata-kata yang baik
dapat membawa keharmonisan, tetapi sebaliknya kata-kata yang buruk dapat
membawa perpecahan, pertengkaran antar satu sama lainya. Seseorang dapat
mempengaruhi orang lain dengan kata-katanya sehingga kusalla vaci kamma menjadi
penyejuk hati setiap orang yang mendengarnya.
Dengan menghindari 4 hal tersebut
seseorang akan mampu menjalankan ajaran sang Buddha yaitu sila ke-4. Di Sutta
Nipata 451 dikatakan bahwa ucapan yang bermanfaat tersebut adalah pengucapan
kata-kata yang tidak menyakiti antar satu sama lainya. Contohnya memberi
nasehat kepada teman ataupun sanak saudara, ucapan dalam memberikan suatu
pandangan kebenaran (Dhamma) yang
secara langsung dapat membuat seseorang melakukan kebaikan tanpa henti.
“Dari pada seribu bait syair yang
tak bermanfaat, adalah lebih baik satu kata Dhamma yang dapat memberi kedamaian
kepada pendengarnya.”
(Dhp. VIII, 102)
Sebuah ucapan menjadi bermakna
ketika mempunyai tujuan atau alas an dibalik ucapan yang kita lakukan.
Bertujuan juga mengindikasikan ada manfaat dari ucapan yang kita lakukan.
“Ucapan yang bermanfaat adalah
yang paling utama, kata orang-orang suci. Orang harus berbicara apa yang
berharga dan bukan apa yang tidak berharga. Inilah yang kedua. Orang harus
berbicara apa yang menyenangkan dan bukan yang tidak menyenangkan. Inilah yang
ketiga. Orang harus berbicara yang benar dan bukan apa yang salah. Inilah yang
keempat.”
Subhasita
sutta (Sn 450)
Dari sutta tersebut kita dapat
melihat bahwa penekanan sang Buddha terhadap ucapan yang bermanfaat paling
diutamakan. Hal itu karena ucapan tersebut berhubungan dengan orang lain.
Referensi:
Cintiawati, Wena dan Anggawati,
Lanny (penerjemah inggris-indonesia). Bhikkhu Nanamoli dan Bhikkhu Bodhi
(penerjemah pali-inggris). 2006. Majjhima
Nikaya, kitab Suci Agama Buddha. Klaten: Vihara Bodhivamsa Wisma
Dhammaguna.
Cintiawati, Wena dan Anggawati,
Lanny (penerjemah inggris-indonesia). Nyanaponika Thera dan Bhikkhu Bodhi
(penerjemah pali-inggris). 2001. Petikan
Angutara Nikaya, kitab Suci Agama Buddha. Klaten: Wisma Meditasi dan Pelatihan Dhammaguna.
Cintiawati, Wena dan Lanny
Anggawati dan Endang Widyawati (penerjemah inggris-indonesia). H. Saddatissa (Penerjemah
pali-inggris). 1999. Sutta Nipata. Klaten:
Vihara Bodhivamsa.
Dharmavimala, Mahatera. 2014. Panduan Puja Bakti dan Upacara. Jakarta:
Vihara Ekayana Arama.
Widya, R. Surya (penerjemah).
2002. Kitab Suci Dhammapada. Jakarta:
Penerbit Yayasan Dhammadipa Arama.
Wijaya, Willy Yandi. 2010. Ucapan Benar. Yogyakarta: In Sight
Vidyasena Production.