Wikipedia

Hasil penelusuran

Minggu, 27 September 2015

buih buih asmara



Buih-buih asmara
Mata memerah tak menentu
Lekungan-lekungan kecil dalam bola kecil
Buih-buih bersemburan tertampung dalam lekungan
Percikan-percikan buih tersembur
Mengalir…
Lekungan mulai membesar
Memberontak dalam relung
Terisak-isak dalam bibir nan indah

Mengalir…
Tangan mungil membawa kain tipis
Membendung buih-buih bersemburan
Ternganga menatap wajah nan cerah
Buih-buih tersembur dengan cepat
Berdiri dan menjulurkan lekungan kecil

Terangkat tangan mungil
Terayun-ayun tertarik dalam relung hati
Bibir mungil membuka menunjuk rongga
Single pun menjadi satu tak menentu
Rambut lembut, halus terurai dalam pundak
Menarik nafas panjang, kain tipis pun siap

Terluka ku karna belaian kasih mu
Buih-buih mengalir tak menentu
Bola kecil tertutup tak terlihat lagi oleh mu
Buih-buih asmara…
Bibir mungil mulai tersungging

Senin, 21 September 2015

artikel



Kusala vacci kamma penyejuk hati
Setiap apa yang kita ucapkan tidak terlepas dari pendengaran orang lain, sehingga ketika kita berucap harus dipikirkan secara matang sehingga nantinya tidak menyakiti orang lain. Sekarang ini banyak orang yang sering berkata kasar hanya karena terpancing emosi oleh lawan bicaranya sehingga timbul kata-kata kasar bahkan menyakiti orang lain. Untuk bisa dipahami oleh orang lain kita harus terlebih dahulu memahami orang tersebut, untuk dapat dihormati oleh orang lain terlebih dahulu kita menghormati orang tersebut, ketika kita ingin mendengarkan kata-kata ramah dari orang lain terlebih dahulu kita bersikap ramah tamah dalam berucap kepada orang lain, seperti sabda buddha:
“Berpengetahuan luas dan terampil
Terlatih baik dalam vinaya
Ramah tamah dalam berucap
Itulah berkah utama”
                                                                                                                                                                (Maha Mangala Sutta)
Setiap orang ingin mendengarkan kata-kata yang indah dari orang lain sehingga Kusalla vacci kamma menjadi penyejuk hati setiap orang yang mendengarkanya. Setiap orang hendaknya berucap yang benar agar dapat dihormati dan dapat dipercayai oleh orang lain. Untuk dapat mempraktekan ucapan benar, seseorang harus menjalankan sila ke-4 dengan baik, seperti dusta, fitnah, kata-kata kasar dan omong kosong. Sifat yang jujur itulah yang selalu di inginkan oleh setiap orang, ketika seseorang berlaku jujur orang tersebut akan dipercayai oleh orang lain. Seseorang harus mampu jujur, sungguh jujur dan berlaku baik, seperti sabda sang Buddha:
“Ini yang harus dikerjakan oleh mereka yang terampil dalam kebaikan
Untuk mencapai ketenangan
Harus mampu jujur, sungguh jujur
Ikhlas, lemah lembut, tiada sombong”
                                                                                                                                                                (Karaniya Metta Sutta)
Dalam sabda tersebut dijelaskan jika seseorang ingin terampil dalam kebaikan maka seseorang tersebut harus mampu untuk jujur, sungguh jujur. Dalam hal ini seseorang berbicara hal yang penting untuk dibicarakan ataupun hal yang bermanfaat untuk dibicarakan, seperti sabda Buddha:
“Daripada seribu kata yang tak berarti, adalah lebih baik sepatah kata yang bermanfaat, yang dapat memberi kedamaian kepada pendengarnya”
                                                                                                                                                                                (Dhp. VIII, 100)

Dengan begitu seseorang akan mengatakan kata yang berarti untuk diucapkan agar dapat membawa kedamaian bagi seseorang yang mendengarkan kata-kata itu.
1.       Menghindari dusta
Jika seseorang menghormati kebenaran ataupun menjalankan pancadhamma ke- 4 maka seseorang tersebut akan menghindari dusta. Apabila orang secara konsisten menghindari dusta seseorang tersebut akan dipercayai oleh kerabat, teman-teman, sanak saudara, tidak hanya dipercayai tetapi orang tersebut akan dihargai oleh mereka. Jika kita renungkan sejenak, perkataan tidak benar ataupun bohong yang kita lakukan biasanya akan ditutupi lagi dengan kebohongan lainya. Untuk menyembunyikan kebohongan yang telah dibuat, mau tidak mau ditutupi lagi dengan kebohongan. Inilah yang disadari oleh sang Buddha, sehingga beliau menyatakan tidak seharusnya seseorang melakukan kebohongan sekalipun demi sebuah lelucon. (M. 61).  
Sang Buddha bersabda:
“Bukan hanya karena pandai bicara, dan bukan pula karena memiliki wajah bagus seseorang dapat menyebut dirinya orang baik, apabila dirinya masih bersifat iri, kikir, dan suka menipu”
                                                                                                                                                                                (Dhp. XIX. 256)
Dari sabda tersebut dapat dimengerti bahwa bukan dari wajah yang bagus orang dapat dikatakan baik tetapi dari perkataan yang jujur, dan tidak memiliki sifat iri antara sesama. Ketika orang berkata bohong sekalipun dan hal itu telah diketahui oleh orang lain maka seseorang yang mengetahuinya tidak akan percayai padanya dan kebohongan tersebut akan menimbulkan suatu penyesalan dikemudian hari. Seharusnya seseorang mempunyai tekad yang baik dalam dirinya sendiri sehingga tekad itu dapat membawa hasil yang positif untuk orang lain dan juga dirinya sendiri.
Sang Buddha bersabda:
“Aku akan meninggalkan dan menjauhkan diri dari ucapan bohong, mengucapkan yang benar, ucapan sesuai kenyataan, ucapan yang dapat dipercaya, ucapan yang dapat diandalkan, tidak berdusta kepada siapa pun”.
                                                                                                                                                (Uposatha sutta. A. VIII, 41)
Dengan memiliki tekad seperti itu seseorang akan menjadi orang yang dapat dipercayai oleh orang lain, dan mempunyai teman dan juga sanak saudara yang senantiasa akan selalu dekat dengan nya.
2.       Menghindari fitnah
Fitnah merupakan penyebab pertengkaran ataupun pertikaian antar manusia. Orang yang berusaha untuk memfitnah tersebut mempunyai itikad jahat untuk merusak reputasi dari orang tersebut. Orang seharusnya memupuk sikap saling menjaga satu sama lainya agar dapat menjadi saudara yang baik sehingga tercipta kerukunan dan tidak akan terjadi pertikaian antara yang lain.
3.       Menghindari kata-kata kasar
Manusia sering berkata kasar ataupun sering menghina antara satu sama lain, hal itu sudah kita ketahui dengan seperti itu bisa menyebabkan pertengkaran antar sesama. Kata-kata kasar juga dapat menyebabkan seseorang kehilangan orang yang ia cintai. Orang berkata kasar biasanya disebabkan karena tidak bisa menahan amarah yang sedang melanda dirinya sendiri yang disebabkan oleh orang lain. Sebagai manusia hendaknya bisa menahan amarah kita agar dapat menciptakan hidup harmonis antar sesama. Sang Buddha bersabda:
“Barang siapa dapat menahan kemarahannya yang memuncak seperti menahan kereta yang sedang melaju, ia patut diberi sais sejati. Sedangkan sais lainya adalah sebagai pemegang kendali belaka”.
                                                                                                                                                                                (Dhp. XVII, 222)
Oleh sebab itu seseorang sebaiknya menggunakan ucapan yang lembut sehingga dapat membawa kedamaian bagi orang yang mendengarkan kata-kata kita, bukan kata-kata kasar yang dapat membawa pertengkaran satu sama lainya. Banyak orang tua mencontohkan kebiasaan berkata kasar didepan anaknya. Seharusnya sebagai orang tua tidak selayaknya berkata kasar walaupun perkataan itu tida didasari dengan kebencian. Banyak pula anak muda membiasakan diri dalam pergaulan dengan maki-makian yang kasar. Sebagai generasi muda kita harus menghindari itu semua. Mengatasi ucapan kasar dengan melatih kesabaran, agar kita bisa berfikir sebelum berbicara. Buddha tidak menganjurkan kita untuk berkata kasar karena kan menyakitkan jika kata-kata kasar itu terlontar untuk kita. Seperti sabda Buddha:
“Janganlah berbicara kasar kepada siapapun, karena mereka yang mendapat perlakuan demikian akan membalas dengan cara yang sama. Sungguh menyakitkan kata-kata kasar itu, yang pada giliranya akan melukaimu”.
                                                                                                                                                                                (Dhp. X, 133)
4.       Menghindari omong kosong
Omong kosong ataupun gosip adalah kata yang sering dilakukan oleh seorang perempuan. Gosip sering melanda ibu-ibu dala lingkungan mereka tinggal hal itu sering dilakukan yang awalnya hanya berkumpul untuk menanyakan kabar tetapi lama kelamaan membicarak orang lain.ng digosipkan olehnya.  Aktifitas ini harus ditinggalkan karena dapat membawa dampak yang luar biasa bagi orang yang sedang di gosipkanya itu. Gosip merupkan penyebab perpecahan antar sahabat, kerabat ataupun kawan kerja. Para penggosip tersebut tanpa mereka sadari telah menciptakan permusuhan bagi dirinya sendiri ataupun dengan orang lain.

Seseorang dapat melihat bahwa ucapan memegang peranan penting dalam kehidupan jika seorang salah berucap dapat melukai hati orang lain sehingga seseorang harus berucap yang benar dan dapat membawa kedamaian bagi orang yang mendengarkanya. Kata-kata yang baik dapat membawa keharmonisan, tetapi sebaliknya kata-kata yang buruk dapat membawa perpecahan, pertengkaran antar satu sama lainya. Seseorang dapat mempengaruhi orang lain dengan kata-katanya sehingga kusalla vaci kamma menjadi penyejuk hati setiap orang yang mendengarnya.
Dengan menghindari 4 hal tersebut seseorang akan mampu menjalankan ajaran sang Buddha yaitu sila ke-4. Di Sutta Nipata 451 dikatakan bahwa ucapan yang bermanfaat tersebut adalah pengucapan kata-kata yang tidak menyakiti antar satu sama lainya. Contohnya memberi nasehat kepada teman ataupun sanak saudara, ucapan dalam memberikan suatu pandangan kebenaran (Dhamma) yang secara langsung dapat membuat seseorang melakukan kebaikan tanpa henti.
“Dari pada seribu bait syair yang tak bermanfaat, adalah lebih baik satu kata Dhamma yang dapat memberi kedamaian kepada pendengarnya.”
                                                                                                                                                                                (Dhp. VIII, 102)
Sebuah ucapan menjadi bermakna ketika mempunyai tujuan atau alas an dibalik ucapan yang kita lakukan. Bertujuan juga mengindikasikan ada manfaat dari ucapan yang kita lakukan.
“Ucapan yang bermanfaat adalah yang paling utama, kata orang-orang suci. Orang harus berbicara apa yang berharga dan bukan apa yang tidak berharga. Inilah yang kedua. Orang harus berbicara apa yang menyenangkan dan bukan yang tidak menyenangkan. Inilah yang ketiga. Orang harus berbicara yang benar dan bukan apa yang salah. Inilah yang keempat.”
                                                                                                                                                         Subhasita sutta (Sn 450)

Dari sutta tersebut kita dapat melihat bahwa penekanan sang Buddha terhadap ucapan yang bermanfaat paling diutamakan. Hal itu karena ucapan tersebut berhubungan dengan orang lain.

Referensi:
Cintiawati, Wena dan Anggawati, Lanny (penerjemah inggris-indonesia). Bhikkhu Nanamoli dan Bhikkhu Bodhi (penerjemah pali-inggris). 2006. Majjhima Nikaya, kitab Suci Agama Buddha. Klaten: Vihara Bodhivamsa Wisma Dhammaguna.
Cintiawati, Wena dan Anggawati, Lanny (penerjemah inggris-indonesia). Nyanaponika Thera dan Bhikkhu Bodhi (penerjemah pali-inggris). 2001. Petikan Angutara Nikaya, kitab Suci Agama Buddha. Klaten: Wisma  Meditasi dan Pelatihan Dhammaguna.
Cintiawati, Wena dan Lanny Anggawati dan Endang Widyawati (penerjemah inggris-indonesia). H. Saddatissa (Penerjemah pali-inggris). 1999. Sutta Nipata. Klaten: Vihara Bodhivamsa.
Dharmavimala, Mahatera. 2014. Panduan Puja Bakti dan Upacara. Jakarta: Vihara Ekayana Arama.
Widya, R. Surya (penerjemah). 2002. Kitab Suci Dhammapada. Jakarta: Penerbit Yayasan Dhammadipa Arama.
Wijaya, Willy Yandi. 2010. Ucapan Benar. Yogyakarta: In Sight Vidyasena Production.

Selasa, 08 September 2015

puisi



Membohongi Diri Sendiri

Sore yang panjang nan indah di pandang
Membuka sejuta makna yang tertutup oleh kabut gelap
Mengajarkan sebuah mimpi yang jatuh kedalam lautan yang tak kan kembali
Asa ku kian memudar, seperti garam dilautan
Terombang-ambing tak menentu kemana akan mencair

Tlah kubuka mata hatiku menerima semua arti yang tlah menjadi nyata
Hanya mampu menghembuskan nafas panjang penuh arti yang kelam
Hembusan angin tlah membawa mimpi-mimpi yang tlah lama terpendam
Mengapa?
Hanya tersimpan tanya yang tak perlu ada sebuah jawaban dari sebuah mimpi

Tlah rapuh dan hancur
Terpaan angin mengguncang
Awan menangis tanpa adanya sebab pasti
Mimpi lain tlah ada dalam hati menghiasi setiap kepingan relung hati

Ku coba mendekati mimpi yang tlah hilang bersama hembusan angin
Angin tlah membawa mimpi ku nan jauh disana
Mimpi ku kan jadi nyata jika dengan angin berhembus kencang
Tiupan angin tlah membuka setiap hayalan yang tak kan menjadi nyata
“Angin bawa lah mimpiku bersama mu agar dia selalu berterbangan kelap-kelip di awan”

Aku mampu berdiri tanpa mimpi yang tak kan menjadi nyata
Ku hanya bisa membohongi diri sendiri tetang mipi tak pasti
Mengapa?
Mimpi tlah hilang bersama hembusan angin
Percaya dan membangun mimpi kembali tanpa harus berpura-pura
Membohongi diri sendiri dengan tujuan pasti

puisi untuk ibuku



Teman ku adalah Ibu ku

Beberapa kata tak mampu ku tulis dalam diary
Tersipu setiap letupan dari bibir nan indah
Membuat ku mengerti arti letupan yang ku kira menyakitkan
Aku menganggapmu seperti bidadari turun dari langit
Membuatku membuka bibir penuh arti
Oh … ternyata kau malaikat di hati

Teman ku adalah ibu ku
Mengerti setiap detak jantung yang berdetak tak menentu
Dikala awan meneteskan hujan tanpa sebab yang pasti
Di kau dating dengan payung membuka makna
Cruitan-cruitan burung mulai bernyanyi
Kau pun mulai mengerti
Disaat semua awan-awan gelap menyelimuti rembulan

Teman ku adalah ibu ku
Diary panjang tak perlu terlontar dalam sobekan-sobekan kertas
Ku punya mu yang mengerti cruitan-cruitan hati
Tak perlu bersama awan-awan yang cerah
Bintang pun bisa mengerti