Wikipedia

Hasil penelusuran

Senin, 22 Juni 2015

interpersonal skill



Interpersonal skills sangat penting dalam kehidupan karena pada dasarnya manusia tidak dapat menyendiri. Banyak kegiatan dalam hidup terkait dengan orang lain. Salah seorang psikolog, Lazer mengatakan bahwa intelegensi sosial dalam hal ini interpersonal skills adalah hal yang paling penting dalam intelek manusia[1]. Begitu pula interpersonal skill seorang guru agama buddha juga harus dilatih karena jika seorang guru tersebut memiliki skill tetapi kurang dilatih maka akan sia-sia skill yang telah ia miliki.
Kemampuan interpersonal atau membina hubungan adalah kemampuan untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Kemampuan ini meliputi kemampuan berempati, berkomunikasi dan mempengaruhi orang lain, merundingkan pemecahan masalah, memimpin dan mengorganisasikan kelompok, membina dan menjalin hubungan[2], dan kemampuan bekerjasama.  
Istilah kemampuan interpersonal juga termasuk dalam soft skills, yaitu kemampuan mengatasi konflik, negosiasi, dan kerjasama yang penting dimilki oleh setiap profesi dan jabatan[3]. Di samping itu, kemampuan interpersonal juga bagian dari life skills[4].
InterPersonalSkill adalah kecakapan atau keterampilan yang dimiliki oleh seseorang dalam hubungannya dengan orang lain, baik dalam berkomunikasi verbal maupun non verbal dengan tujuan untuk pengembangan kerja secara optimal.
Interpersonal  Skill seorang guru ataupun seorang guru agama buddha tercermin dari :
o   Kemampuan berkomunikasi
Seorang guru harus mampu berkomunikasi dengan baik dengan murid-murid nya agar murid-murid nya mampu untuk menerima materi yang akan disampaikan oleh seorang guru tersebut sehingga seorang guru tersebut harus mampu untuk berkomunikasi dengan baik, komunikasi yang baik akan membawa keberhasilan dalam proses belajar mengajar. Untuk itu diperlukan dialog secara aktif. Seperti sabda sang buddha:
“ sering mendengarkan dan menanyakan membuahkan kebijaksanaan” (A. V, 136).
o   Membangun hubungan baik
o   Kemampuan memotivasi
o   Kemampuan kepemimpinan
o   Kemampuan memasarkan diri sendiri
o   Kemampuan bernegosiasi
o   Kemampuan berpresentasi
o   Kemampuan berkomunikasi di depan publik
Secara garis besar Point penting yang harus  dimengerti dalam interpersonal skill adalah :
1.       Mendengarkan
2.       Memberikan umpan balik
3.       Membujuk
4.       Mengelola konflik.
Peranan pendidik saat ini mengalami perubahan yang sangat mendasar. Ia bertanggung jawab untuk membentuk wawasan serta pemberi pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan, juga menjadi fasilitator pembelajaran. Pekerjaan guru adalah suatu profesi yang menuntut pengetahuan, keterampilan dan keahlian tertentu. Karena itu ia harus memiliki kompetensi profesional. Kompetensi ini tidak berdiri sendiri, tetapi terkait dengan tanggungjawab moral dan tanggung jawab sosial, yang dipraktekan dalam kehidupan individu dan kehidupan sosial. Undang Undang Guru dan Dosen Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dan PP Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan menyatakan kompetensi guru meliputi kompetensi kepribadian, pedagogik, profesional, dan sosial.[5]

Adapun yang dimaksud dengan keempat jenis kompetensi guru adalah: (1) Kompetensi Kepribadian merupakan kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia; (2) Kompetensi Pedagogik, merupakan pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya; (3) Kompetensi Profesional merupakan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam, yang mencakup penguasaan materi kurikulum mata pelajaran di sekolah dan substansi keilmuan yang menaungi materinya, serta penguasaan terhadap stuktur dan metodologi keilmuannya; (4) Kompetensi Sosial merupakan kemampuan guru untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orangtua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.[6]
Selain 4 kompetensi di atas seorang guru sebaiknya memiliki lima kualitas, sebagaimana seorang bhikkhu senior, yaitu: ia adalah seorang yang menguasai analisis logika; menganalisis sebab akibat; menguasai analisis tata-bahasa; menguasai analisis segala sesuatu yang dapat dikenali; apa yang harus dilakukan oleh para pengikut, menjalani kehidupan suci, besar atau kecil, cakap dan aktif, berusaha meneliti persoalan; siap melakukan dan membuatnya terlaksana (A. III, 113).
Pembangunan guru yang berkualitas guna menunjang pembentukan  pendidikan bermutu tidak sebatas bergantung pada program pendidikan guru yang ditempuhnya. Pengembangan kualitas guru sesungguhnya adalah terletak pada kemauan dan kemampuan guru untuk mengembangkan dirinya ketika mereka sudah menduduki jabatan guru. Dengan kata lain, pembangunan kualitas guru terletak pula pada usaha membangun kapabilitas guru itu sendiri. Minimal ada lima kapabilitas yang harus terus menerus dibangun guru dalam rangka mengembangkan kualitasnya.[7] Kelima kapabilitas tersebut dapat diuraikan sebagai berikut.

Kapabilitas pertama yang harus terus dibangun guru adalah konten pengetahuan yang ia ajarkan. Kapabilitas ini berhubungan dengan kemampuan guru untuk terus mengembangkan dirinya dengan meningkatkan penguasaan konten pengetahuan secara terus menerus sehingga pengetahuan yang dimilikinya akan senantiasa berkembang dan up-to-date. Kapabilitas ini juga berhubungan dengan kemampuan guru dalam memahami kurikulum yang berlaku sehingga proses pembelajaran yang dilaksanakannya benar-benar berorientasi pada kurikulum terbaru. Selain itu, kapabilitas ini berkaitan erat dengan kemampuan guru untuk senantiasa berpikir kritis memaknai setiap materi ajar sehingga akan mampu memperluas pengetahuan siswa dan bahwa mampu merestrukturisasi pengetahuan agar sejalan dengan potensi dan kebutuhan siswa. Melalui pembangunan kapabilitas ini jelaslah sosok guru yang berkualitas bukanlah sebuah impian belaka.[8]
Seorang guru adalah orang yang mendengar dan menyebabkan orang lain mendengar, seorang yang belajar dan mengajar, seorang yang tahu dan memberi tahu dengan jelas, seorang yang cakap mengenali kecocokan dan ketidakcocokan, serta tidak menimbulkan pertengkaran. Ia tidak bimbang di depan orang banyak, ceramahnya tidak kehilangan arah, tanpa ada yang disembunyikan, tidak ragu-ragu berbicara, dan tidak menjadi bingung atau marah menghadapi pertanyaan (A. IV, 196).
Kapabilitas kedua adalah tingkat konseptualisasi. Kapabilitas ini berhubungan dengan kemampuan guru untuk mengidentifikasi wilayah pengembangan dirinya sehingga guru akan mampu secara terus menerus meningkatkan kompetensi yang dimilikinya. Kapabilitas ini juga berhubungan pula dengan kemampuan guru dalam menerapkan konsep dan ide-ide kreatifnya dalam setiap proses pembelajaran. Lebih lanjut, kapabilitas ini mempersyaratkan kemampuan guru untuk membuat desain rencana pengembangan profesional dirinya secara tepat guru dan berhasil guna. Melalui desain rencana pengembangan profesional yang dibuat guru, guru akan mampu merencanakan berbagai aktivitas pengembangan diri sehingga mitos guru adalah individu statis akan tertepiskan.[9]

Kapabilitas yang ketiga berhubungan dengan kemampuan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran. Guru yang kapabel adalah guru yang senantiasa memilih pendekatan, model, metode, dan teknik pembelajaran yang tepat sesuai materi dan karakteristik siswa. Melalui pemilihan strategi pembelajaran yang tepat inilah guru lebih jauh diharapkan mampu mengelola kelas sehingga berbagai tujuan pembelajaran yang ditetapkan akan tercapai. Sejalan dengan kenyataan ini, guru harus secara berkesinambungan meningkatkan pengetahuannya tentang berbagai strategi pembelajaran terkini sehingga guru tidak hanya terpaku menggunakan satu jenis strategi pembelajaran.[10]

Kapabilitas keempat adalah komunikasi interpersonal. Kapabilitas ini  berhubungan dengan kemampuan guru dalam menjalin komunikasi dengan siswa sehingga guru akan benar-benar memahami karakteristik siswa dan mengetahui kebutuhan siswa. Selain kemampuan berkomunikasi dengan siswa, kapabilitas ini berkenaan dengan kemampuan guru berkomunikasi dengan seluruh unsur sekolah dan orang tua siswa. Melalui berbagai jenis komunikasi ini guru diharapkan mampu memainkan peran pentingnya dalam mencetak lulusan yang  unggul.

Kapabilitas terakhir adalah ego. Kapabilitas ini berhubungan dengan usaha mengetahui diri sendiri dan usaha membangun responsibilitas diri terhadap lingkungan. Hal ini berarti guru yang kapabel adalah guru yang memperhatikan diri sendiri dan orang lain, merespons positif segala bentuk masukan yang dia terima, bersikap objektif, membantu orang lain untuk berkembang, berpikir positif, dan senantiasa meningkatan self esteem. Melalui pembangunan kapabilitas kelima ini diharapkan guru akan mampu merefleksi diri sehingga kompetensinya akan senantiasa berkembang.[11]

Berbagai kapabilitas yang telah dikemukakan tersebut pada prinsipnya merupakan wilayah pengembangan guru yang harus secara terus-menerus dikembangkan. Melalui kepemilikan dan pengembangan kelima kapabilitas tersebut, guru akan mampu memiliki kemampuan teknis dalam melaksanakan pembelajaran, kemampuan mengambil keputusan, dan kemampuan merefleksi kritis kinerjanya sebagai wujud nyata sosok guru yang berkualitas. 

Kompetensi sosial dan Kapabilitas komunikasi interpersonal menjadi bagian penting dalam menjamin kualitas guru. Dewasa ini mulai disadari betapa pentingnya peran kecerdasan sosial dan kecerdasan emosi bagi seorang guru. Guru yang sukses  adalah guru yang memiliki kemampuan bekerja sama, berempati, dan pengendalian diri yang menonjol. Seorang guru dan dosen dituntut untuk mampu berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik, guru, orang tua, dan masyarakat sekitar.

Untuk menciptakan pendidikan guru yang berkualitas, berdasarkan beberapa hasil penelitian Darling-Hammond[12] menyatakan bahwa minimal ada tiga elemen penting dalam desain program pendidikan guru yang harus diperbaiki (dibuat berbeda dengan kondisi saat ini). Ketiga elemen tersebut adalah sebagai berikut.
1.       Konten pendidikan guru, berkenaan dengan materi yang harus diberikan kepada para mahasiswa, bagaimana cara memberikannya, bagaimana memadukan berbagai materi tersebut sehingga bermakna, termasuk juga bagaimana perluasannya agar mahasiswa memiliki peta kognitif yang akan membantu mereka melihat hubungan antara domain pengetahuan keguruan dengan penggunaanya secara praktis di lapangan untuk mendorong para siswanya belajar.
2.       Proses pembelajaran, berkenaan dengan penyusunan kurikulum yang sejalan dengan kesiapan mahasiswa dan mendasar pada materi serta proses pembelajaran praktis yang mampu menimbulkan pemahaman mahasiswa melalui kreativitas aktifnya dalam kelas.
3.       Konteks pembelajaran, yang berkenaan dengan penciptaan proses pembelajaran kontekstual guna mengembangkan keahlian praktis mahasiswa. Konteks pembelajaran ini harus diterapkan baik dalam domain-domain materi ajar maupun melalui pembelajaran di komunitas professional (sekolah).

Seorang pendidik yang efektif, tidak hanya efektif dalam kegiatan belajar mengajar di kelas saja (transfer of knowledge), tetapi lebih-lebih dalam relasi pribadinya dan “modeling”nya (transfer of attitude and values), baik kepada peserta didik maupun kepada seluruh anggota komunitas sekolah. Pendidikan yang humanis menekankan bahwa pendidikan pertama-tama dan yang utama adalah bagaimana menjalin komunikasi dan relasi personal antara pribadi-pribadi dan antar pribadi dan kelompok di dalam komunitas sekolah. Relasi ini berkembang dengan pesat dan menghasilkan buah-buah pendidikan jika dilandasi oleh cintakasih antar mereka. Pribadi-pribadi hanya berkembang secara optimal dan relatif tanpa hambatan jika berada dalam suasana yang penuh cinta (unconditional love), hati yang penuh pengertian (understanding heart) serta relasi pribadi yang efektif (personal relationship). Dalam mendidik seseorang guru hendaknya mampu menerima diri sebagaimana adanya dan kemudian mengungkapkannya secara jujur (modeling). Mendidik tidak sekedar mentransfer ilmu pengetahuan, melatih keterampilan verbal kepada para peserta didik, namun merupakan bantuan agar peserta didik dapat menumbuhkembangkan dirinya secara optimal.

Mendidik yang efektif pada dasarnya merupakan kemampuan seseorang menghadirkan diri sedemikian sehingga pendidik memiliki relasi bermakna pendidikan dengan para peserta didik sehingga mereka mampu menumbuh kembangkan dirinya menjadi pribadi dewasa dan matang. Pendidikan yang efektif adalah yang berpusat pada siswa atau pendidikan bagi siswa. Dasar pendidikannya adalah apa yang menjadi “dunia”, minat, dan kebutuhan-kebutuhan peserta didik. Pendidik membantu peserta didik untuk menemukan, mengembangkan dan mencoba mempraktikkan kemampuan-kemampuan yang mereka miliki (the learners-centered teaching).

Ciri utama pendidikan yang berpusat pada siswa adalah bahwa pendidik menghormati, menghargai dan menerima siswa sebagaimana adanya. Komunikasi dan relasi yang efektif sangat diperlukan dalam model pendidikan yang berpusat pada siswa, sebab hanya dalam suasana relasi dan komunikasi yang efektif, peserta didik akan dapat mengeksplorasi dirinya, mengembangkan dirinya dan kemudian mem- “fungsi” kan dirinya di dalam masyarakat secara optimal.
Tujuan sejati dari pendidikan seharusnya adalah pertumbuhan dan perkembangan diri peserta didik secara utuh sehingga mereka menjadi pribadi dewasa yang matang dan mapan, mampu menghadapi berbagai masalah dan konflik dalam kehidupan sehari-hari. Agar tujuan ini dapat tercapai maka diperlukan sistem pembelajaran dan pendidikan yang humanis serta mengembangkan cara berpikir aktif-positif dan keterampilan yang memadai (income generating skills). Tujuan pendidikan tak berbeda dengan tujuan pembabaran agama sebagaimana yang diamanatkan oleh Buddha kepada 60 orang arahat. Mereka mengemban misi atas dasar kasih sayang demi kebaikan, membawa kesejahteraan, keselamatan dan kebahagiaan bagi orang banyak (Vin. I, 21). karena mendatangkan kebaikan ini, menurut Mahamangala-sutta, memiliki pengetahuan dan keterampilan merupakan salah satu berkah utama (Sn, 261).

Pendidikan dan pembelajaran yang bersifat aktif positif dan berdasarkan pada minat dan kebutuhan siswa sangat penting untuk memperoleh kemajuan baik dalam bidang intelektual, emosi/perasaan, afeksi maupun keterampilan yang berguna untuk hidup praktis. Tujuan pendidikan pada hakikatnya adalah memanusiakan manusia muda[13] Pendidikan hendaknya membantu peserta didik untuk bertumbuh dan berkembang menjadi pribadi-pribadi yang lebih bermanusiawi (semakin “penuh” sebagai manusia), berguna dan berpengaruh di dalam masyarakatnya, yang bertanggungjawab dan bersifat proaktif dan kooperatif. Masyarakat membutuhkan pribadi-pribadi yang handal dalam bidang akademis, keterampilan atau keahlian dan sekaligus memiliki watak atau keutamaan yang luhur. Singkatnya pribadi yang cerdas, berkeahlian, namun tetap humanis. Masyarakat tidak membutuhkan orang-orang yang memiliki pendidikan tetapi tidak menerapkan apa yang mereka dapatkan dari pendidikan itu. Buddha tidak menghendaki pendidikan yang menghasilkan sebarisan orang buta yang saling menuntun (M. II, 170). Begitu juga dengan seorang guru terlebih guru pendidikan agama buddha yang mampu mengajar tetapi tidak sesuai dengan apa yang di dapat sebelumnya.


Pustaka:

Dr. H. Dadi Permadi, M.Ed dan Dr. H. Daeng Arifin, M.Si. 2013. Panduan Menjadi Guru Profesional. CV. Nuansa Aulia: Bandung

Goleman, D. 1995. Emotional Intellegence: Why it Can Matter More than IQ.  New York: Macmillian Publishing Company

Himpunan Perundang-undangan Republik Indonesia tentang Sistem Pendidikan  Nasional. 2010. Bandung: Nuansa Aulia

Krishnanda Wijaya Mukti. 2006. Wacana Buddha Dhamma. Yayasan Dharma  Pembangunan: Jakarta.
Prof. Suyanto, Ph.D dan Drs. Asep Jihad, M.Pd. 2013. Menjadi Guru Profesional. Esensi Erlangga Group: Jakarta

R. Bramantyo, S.E., M.M dan Agus Tri Prasetyo, Ak. 2007. Interpersonal skill. Bogor: Pusdiklatwas BPKP.

Riyanto, Theo., 2002, Pembelajaran sebagai Proses Pembimbingan Pribadi.  Jakarta: Grassindo

Saondi, Ondi, M. Pd., Drs. Suherman, dan Aris, M.Pd. 2010. Etika Profesi Keguruan. PT. Refika Aditana: Kuningan

Tim Penterjemah. 2003. Angutara Nikaya III. Vihara Bodhivamsa dan Wisma Dhammaguna: Klaten.

Tim Penterjemah. 2003. Angutara Nikaya IV. Vihara Bodhivamsa dan Wisma Dhammaguna: Klaten.

Tim Penterjemah. 2003. Angutara Nikaya V. Vihara Bodhivamsa dan Wisma Dhammaguna: Klaten.



[1] David G. Lazer. Seven Ways of Knowing Teaching for Multiple Intelligences. (AustraliHawker Brownlow Education, 1996), 31.
[2] Daniel Goleman, Goleman, Working with Emotional Intellegence. (London: BloomsburPublishing Plc., 1999), 74.
[3] Daniel Goleman, Emotional Intellegence: Why it Can Matter More than IQ. ( New York: Macmillian Publishing Company, 1995), 91.
[4] JS. Kendall & JR. Marzano, Content Knowledge: Compendium of Standards and Benchmarfor K-12 Education. (Mid-Continent Regional Education Laboratory, Inc., 1997),67.
[5]  Himpunan Perundang-undangan Republik Indonesia tentang Sistem Pendidikan Nasional (Bandung: Nuansa Aulia, 2010), 35
[6] Ibid., 42.
[7] Hammond Darling, Powerful Learning (San Fransisco: Jossey Bass, 2008), 106.
[8] Ibid., 111
[9] Ibid., 121
[10] Ibid., 127.
[11]  Ibid.,204.
[12]  Ibid. , 394.
[13] http://Surfaquarium.com/mi/invent/htm (Walter McKenzie: Multiple Intelligences Survey). Diakses tanggal 9 April 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar