Interpersonal skills
sangat penting dalam kehidupan karena pada dasarnya manusia tidak dapat
menyendiri. Banyak kegiatan dalam hidup terkait dengan orang lain. Salah
seorang psikolog, Lazer mengatakan bahwa intelegensi sosial dalam hal ini
interpersonal skills adalah hal yang paling penting dalam intelek manusia[1]. Begitu
pula interpersonal skill seorang guru agama buddha juga harus dilatih karena
jika seorang guru tersebut memiliki skill tetapi kurang dilatih maka akan
sia-sia skill yang telah ia miliki.
Kemampuan
interpersonal atau membina hubungan adalah kemampuan untuk menjalin hubungan
dengan orang lain. Kemampuan ini meliputi kemampuan berempati, berkomunikasi
dan mempengaruhi orang lain, merundingkan pemecahan masalah, memimpin dan
mengorganisasikan kelompok, membina dan menjalin hubungan[2],
dan kemampuan bekerjasama.
Istilah
kemampuan interpersonal juga termasuk dalam soft skills, yaitu kemampuan
mengatasi konflik, negosiasi, dan kerjasama yang penting dimilki oleh setiap
profesi dan jabatan[3]. Di samping itu, kemampuan
interpersonal juga bagian dari life skills[4].
InterPersonalSkill adalah kecakapan atau keterampilan yang dimiliki oleh
seseorang dalam hubungannya dengan orang lain, baik dalam berkomunikasi verbal
maupun non verbal dengan tujuan untuk pengembangan kerja secara optimal.
Interpersonal Skill seorang
guru ataupun seorang guru agama buddha tercermin dari :
o
Kemampuan berkomunikasi
Seorang
guru harus mampu berkomunikasi dengan baik dengan murid-murid nya agar
murid-murid nya mampu untuk menerima materi yang akan disampaikan oleh seorang
guru tersebut sehingga seorang guru tersebut harus mampu untuk berkomunikasi
dengan baik, komunikasi yang baik akan membawa keberhasilan dalam proses
belajar mengajar. Untuk itu diperlukan dialog secara aktif. Seperti sabda sang
buddha:
“
sering mendengarkan dan menanyakan membuahkan kebijaksanaan” (A. V, 136).
o
Membangun hubungan baik
o
Kemampuan memotivasi
o
Kemampuan kepemimpinan
o
Kemampuan memasarkan diri sendiri
o
Kemampuan bernegosiasi
o
Kemampuan berpresentasi
o
Kemampuan berkomunikasi di depan publik
Secara garis besar Point penting yang harus dimengerti dalam
interpersonal skill adalah :
1.
Mendengarkan
2.
Memberikan umpan balik
3.
Membujuk
4.
Mengelola konflik.
Peranan
pendidik saat ini mengalami perubahan yang sangat mendasar. Ia bertanggung
jawab untuk membentuk wawasan serta pemberi pengetahuan dan keterampilan yang
diperlukan, juga menjadi fasilitator pembelajaran. Pekerjaan guru adalah suatu
profesi yang menuntut pengetahuan, keterampilan dan keahlian tertentu. Karena
itu ia harus memiliki kompetensi profesional. Kompetensi ini tidak berdiri
sendiri, tetapi terkait dengan tanggungjawab moral dan tanggung jawab sosial,
yang dipraktekan dalam kehidupan individu dan kehidupan sosial. Undang Undang
Guru dan Dosen Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dan PP Nomor 19 Tahun
2005 tentang Standar Nasional Pendidikan menyatakan kompetensi guru meliputi kompetensi
kepribadian, pedagogik, profesional, dan sosial.[5]
Adapun yang dimaksud dengan
keempat jenis kompetensi guru adalah: (1) Kompetensi Kepribadian merupakan
kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil,
dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan
berakhlak mulia; (2) Kompetensi Pedagogik, merupakan pemahaman
terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi
hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai
potensi yang dimilikinya; (3) Kompetensi Profesional merupakan penguasaan
materi pembelajaran secara luas dan mendalam, yang mencakup penguasaan materi
kurikulum mata pelajaran di sekolah dan substansi keilmuan yang menaungi
materinya, serta penguasaan terhadap stuktur dan metodologi keilmuannya; (4)
Kompetensi Sosial merupakan kemampuan guru untuk berkomunikasi dan bergaul
secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan,
orangtua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.[6]
Selain 4 kompetensi di atas
seorang guru sebaiknya memiliki lima kualitas, sebagaimana seorang bhikkhu
senior, yaitu: ia adalah seorang yang menguasai analisis logika; menganalisis
sebab akibat; menguasai analisis tata-bahasa; menguasai analisis segala sesuatu
yang dapat dikenali; apa yang harus dilakukan oleh para pengikut, menjalani
kehidupan suci, besar atau kecil, cakap dan aktif, berusaha meneliti persoalan;
siap melakukan dan membuatnya terlaksana (A.
III, 113).
Pembangunan
guru yang berkualitas guna menunjang pembentukan pendidikan bermutu
tidak sebatas bergantung pada program pendidikan guru yang ditempuhnya. Pengembangan kualitas guru sesungguhnya
adalah terletak pada kemauan dan kemampuan
guru untuk mengembangkan dirinya ketika mereka
sudah menduduki jabatan guru. Dengan kata lain, pembangunan kualitas guru terletak pula pada usaha membangun kapabilitas guru
itu sendiri. Minimal ada lima kapabilitas yang harus terus menerus dibangun
guru dalam rangka mengembangkan kualitasnya.[7]
Kelima kapabilitas tersebut dapat diuraikan sebagai
berikut.
Kapabilitas pertama yang harus
terus dibangun guru adalah konten pengetahuan yang ia ajarkan. Kapabilitas ini
berhubungan dengan kemampuan guru untuk terus mengembangkan dirinya dengan
meningkatkan penguasaan konten pengetahuan secara terus menerus sehingga
pengetahuan yang dimilikinya akan senantiasa berkembang dan up-to-date.
Kapabilitas ini juga berhubungan dengan kemampuan guru dalam memahami kurikulum
yang berlaku sehingga proses pembelajaran yang dilaksanakannya benar-benar
berorientasi pada kurikulum terbaru. Selain itu, kapabilitas ini berkaitan erat
dengan kemampuan guru untuk senantiasa berpikir kritis memaknai setiap materi
ajar sehingga akan mampu memperluas pengetahuan siswa dan bahwa mampu
merestrukturisasi pengetahuan agar sejalan dengan potensi dan kebutuhan siswa.
Melalui pembangunan kapabilitas ini jelaslah sosok guru yang berkualitas
bukanlah sebuah impian belaka.[8]
Seorang guru adalah orang yang
mendengar dan menyebabkan orang lain mendengar, seorang yang belajar dan
mengajar, seorang yang tahu dan memberi tahu dengan jelas, seorang yang cakap
mengenali kecocokan dan ketidakcocokan, serta tidak menimbulkan pertengkaran.
Ia tidak bimbang di depan orang banyak, ceramahnya tidak kehilangan arah, tanpa
ada yang disembunyikan, tidak ragu-ragu berbicara, dan tidak menjadi bingung
atau marah menghadapi pertanyaan (A. IV,
196).
Kapabilitas
kedua adalah tingkat konseptualisasi. Kapabilitas ini berhubungan dengan
kemampuan guru untuk mengidentifikasi wilayah pengembangan dirinya sehingga
guru akan mampu secara terus menerus meningkatkan kompetensi yang dimilikinya.
Kapabilitas ini juga berhubungan pula dengan kemampuan guru dalam menerapkan
konsep dan ide-ide kreatifnya dalam setiap proses pembelajaran. Lebih lanjut,
kapabilitas ini mempersyaratkan kemampuan guru untuk membuat desain rencana
pengembangan profesional dirinya secara tepat guru dan berhasil guna. Melalui
desain rencana pengembangan profesional yang dibuat guru, guru akan mampu
merencanakan berbagai aktivitas pengembangan diri sehingga mitos guru adalah
individu statis akan tertepiskan.[9]
Kapabilitas
yang ketiga berhubungan dengan kemampuan guru dalam melaksanakan proses
pembelajaran. Guru yang kapabel adalah guru yang senantiasa
memilih pendekatan, model, metode, dan teknik pembelajaran yang tepat sesuai materi dan karakteristik siswa. Melalui
pemilihan strategi pembelajaran yang tepat
inilah guru lebih jauh diharapkan mampu mengelola kelas sehingga berbagai tujuan pembelajaran yang ditetapkan
akan tercapai. Sejalan dengan kenyataan ini,
guru harus secara berkesinambungan meningkatkan
pengetahuannya tentang berbagai strategi pembelajaran terkini sehingga guru tidak hanya terpaku menggunakan satu jenis
strategi pembelajaran.[10]
Kapabilitas
keempat adalah komunikasi interpersonal. Kapabilitas ini berhubungan dengan
kemampuan guru dalam menjalin komunikasi dengan siswa sehingga guru akan benar-benar memahami karakteristik siswa
dan mengetahui kebutuhan siswa. Selain
kemampuan berkomunikasi dengan siswa, kapabilitas ini berkenaan dengan kemampuan guru berkomunikasi dengan
seluruh unsur sekolah dan orang tua siswa.
Melalui berbagai jenis komunikasi ini guru diharapkan
mampu memainkan peran pentingnya dalam mencetak lulusan yang unggul.
Kapabilitas
terakhir adalah ego. Kapabilitas ini berhubungan dengan usaha mengetahui diri
sendiri dan usaha membangun responsibilitas diri terhadap lingkungan. Hal ini
berarti guru yang kapabel adalah guru yang memperhatikan diri sendiri dan orang
lain, merespons positif segala bentuk masukan yang dia terima, bersikap
objektif, membantu orang lain untuk berkembang, berpikir positif, dan
senantiasa meningkatan self esteem. Melalui pembangunan kapabilitas kelima ini
diharapkan guru akan mampu merefleksi diri sehingga kompetensinya akan
senantiasa berkembang.[11]
Berbagai
kapabilitas yang telah dikemukakan tersebut pada prinsipnya merupakan wilayah
pengembangan guru yang harus secara terus-menerus dikembangkan.
Melalui kepemilikan dan pengembangan kelima kapabilitas tersebut, guru akan mampu memiliki kemampuan teknis dalam
melaksanakan pembelajaran, kemampuan mengambil keputusan, dan kemampuan
merefleksi kritis kinerjanya sebagai wujud nyata sosok guru yang
berkualitas.
Kompetensi
sosial dan Kapabilitas komunikasi interpersonal menjadi bagian penting dalam
menjamin kualitas guru. Dewasa ini mulai disadari betapa pentingnya peran
kecerdasan sosial dan kecerdasan emosi bagi seorang guru. Guru yang sukses adalah guru yang memiliki kemampuan bekerja
sama, berempati, dan pengendalian diri yang menonjol. Seorang guru dan dosen
dituntut untuk mampu berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien
dengan peserta didik, guru, orang tua, dan masyarakat sekitar.
Untuk
menciptakan pendidikan guru yang berkualitas, berdasarkan beberapa hasil
penelitian Darling-Hammond[12]
menyatakan bahwa minimal ada tiga elemen penting dalam desain program
pendidikan guru yang harus diperbaiki (dibuat berbeda dengan kondisi saat ini).
Ketiga elemen tersebut adalah sebagai berikut.
1.
Konten pendidikan guru, berkenaan
dengan materi yang harus diberikan kepada para mahasiswa, bagaimana cara
memberikannya, bagaimana memadukan berbagai materi tersebut sehingga bermakna,
termasuk juga bagaimana perluasannya agar mahasiswa memiliki peta kognitif yang
akan membantu mereka melihat hubungan antara domain pengetahuan keguruan dengan
penggunaanya secara praktis di lapangan untuk mendorong para siswanya belajar.
2.
Proses pembelajaran, berkenaan
dengan penyusunan kurikulum yang sejalan dengan kesiapan mahasiswa dan mendasar
pada materi serta proses pembelajaran praktis yang mampu menimbulkan pemahaman
mahasiswa melalui kreativitas aktifnya dalam kelas.
3.
Konteks pembelajaran, yang
berkenaan dengan penciptaan proses pembelajaran kontekstual guna mengembangkan
keahlian praktis mahasiswa. Konteks pembelajaran ini harus diterapkan baik
dalam domain-domain materi ajar maupun melalui pembelajaran di komunitas
professional (sekolah).
Seorang
pendidik yang efektif, tidak hanya efektif dalam kegiatan belajar mengajar di
kelas saja (transfer of knowledge), tetapi lebih-lebih dalam relasi pribadinya
dan “modeling”nya (transfer of attitude and values), baik kepada peserta didik
maupun kepada seluruh anggota komunitas sekolah. Pendidikan yang humanis
menekankan bahwa pendidikan pertama-tama dan yang utama adalah bagaimana menjalin
komunikasi dan relasi personal antara pribadi-pribadi dan antar pribadi dan
kelompok di dalam komunitas sekolah. Relasi ini berkembang dengan pesat dan
menghasilkan buah-buah pendidikan jika dilandasi oleh cintakasih antar mereka.
Pribadi-pribadi hanya berkembang secara optimal dan relatif tanpa hambatan jika
berada dalam suasana yang penuh cinta (unconditional love), hati yang penuh
pengertian (understanding heart) serta relasi pribadi yang efektif (personal
relationship). Dalam mendidik seseorang guru hendaknya mampu menerima diri
sebagaimana adanya dan kemudian mengungkapkannya secara jujur (modeling). Mendidik tidak sekedar
mentransfer ilmu pengetahuan, melatih keterampilan verbal kepada para peserta
didik, namun merupakan bantuan agar peserta didik dapat menumbuhkembangkan
dirinya secara optimal.
Mendidik
yang efektif pada dasarnya merupakan kemampuan seseorang menghadirkan diri
sedemikian sehingga pendidik memiliki relasi bermakna pendidikan dengan para
peserta didik sehingga mereka mampu menumbuh kembangkan dirinya menjadi pribadi
dewasa dan matang. Pendidikan yang efektif adalah yang berpusat pada siswa atau
pendidikan bagi siswa. Dasar pendidikannya adalah apa yang menjadi “dunia”,
minat, dan kebutuhan-kebutuhan peserta didik. Pendidik membantu peserta didik
untuk menemukan, mengembangkan dan mencoba mempraktikkan kemampuan-kemampuan
yang mereka miliki (the learners-centered
teaching).
Ciri
utama pendidikan yang berpusat pada siswa adalah bahwa pendidik menghormati,
menghargai dan menerima siswa sebagaimana adanya. Komunikasi dan relasi yang
efektif sangat diperlukan dalam model pendidikan yang berpusat pada siswa,
sebab hanya dalam suasana relasi dan komunikasi yang efektif, peserta didik
akan dapat mengeksplorasi dirinya, mengembangkan dirinya dan kemudian mem-
“fungsi” kan dirinya di dalam masyarakat secara optimal.
Tujuan
sejati dari pendidikan seharusnya adalah pertumbuhan dan perkembangan diri
peserta didik secara utuh sehingga mereka menjadi pribadi dewasa yang matang
dan mapan, mampu menghadapi berbagai masalah dan konflik dalam kehidupan
sehari-hari. Agar tujuan ini dapat tercapai maka diperlukan sistem pembelajaran
dan pendidikan yang humanis serta mengembangkan cara berpikir aktif-positif dan
keterampilan yang memadai (income generating skills). Tujuan pendidikan tak
berbeda dengan tujuan pembabaran agama sebagaimana yang diamanatkan oleh Buddha
kepada 60 orang arahat. Mereka mengemban misi atas dasar kasih sayang demi
kebaikan, membawa kesejahteraan, keselamatan dan kebahagiaan bagi orang banyak (Vin. I, 21). karena mendatangkan
kebaikan ini, menurut Mahamangala-sutta, memiliki
pengetahuan dan keterampilan merupakan salah satu berkah utama (Sn, 261).
Pendidikan
dan pembelajaran yang bersifat aktif positif dan berdasarkan pada minat dan
kebutuhan siswa sangat penting untuk memperoleh kemajuan baik dalam bidang
intelektual, emosi/perasaan, afeksi maupun keterampilan yang berguna untuk
hidup praktis. Tujuan pendidikan pada hakikatnya adalah memanusiakan manusia
muda[13]
Pendidikan hendaknya membantu peserta didik untuk bertumbuh dan berkembang
menjadi pribadi-pribadi yang lebih bermanusiawi (semakin “penuh” sebagai
manusia), berguna dan berpengaruh di dalam masyarakatnya, yang bertanggungjawab
dan bersifat proaktif dan kooperatif. Masyarakat membutuhkan pribadi-pribadi
yang handal dalam bidang akademis, keterampilan atau keahlian dan sekaligus
memiliki watak atau keutamaan yang luhur. Singkatnya pribadi yang cerdas,
berkeahlian, namun tetap humanis. Masyarakat tidak membutuhkan orang-orang yang
memiliki pendidikan tetapi tidak menerapkan apa yang mereka dapatkan dari
pendidikan itu. Buddha tidak menghendaki pendidikan yang menghasilkan sebarisan
orang buta yang saling menuntun (M. II, 170).
Begitu juga dengan seorang guru terlebih guru pendidikan agama buddha yang
mampu mengajar tetapi tidak sesuai dengan apa yang di dapat sebelumnya.
Pustaka:
Dr.
H. Dadi Permadi, M.Ed dan Dr. H. Daeng Arifin, M.Si. 2013. Panduan Menjadi Guru Profesional. CV. Nuansa Aulia: Bandung
Goleman,
D. 1995. Emotional Intellegence: Why it Can Matter More than IQ. New York: Macmillian Publishing Company
Himpunan
Perundang-undangan Republik Indonesia tentang Sistem Pendidikan Nasional. 2010. Bandung:
Nuansa Aulia
Krishnanda
Wijaya Mukti. 2006. Wacana Buddha Dhamma.
Yayasan Dharma Pembangunan: Jakarta.
Prof.
Suyanto, Ph.D dan Drs. Asep Jihad, M.Pd. 2013. Menjadi Guru Profesional. Esensi Erlangga Group: Jakarta
R.
Bramantyo, S.E., M.M dan Agus Tri Prasetyo, Ak. 2007. Interpersonal skill. Bogor: Pusdiklatwas BPKP.
Riyanto,
Theo., 2002, Pembelajaran sebagai Proses Pembimbingan Pribadi. Jakarta: Grassindo
Saondi,
Ondi, M. Pd., Drs. Suherman, dan Aris, M.Pd. 2010. Etika Profesi Keguruan. PT. Refika Aditana: Kuningan
Tim
Penterjemah. 2003. Angutara Nikaya III. Vihara
Bodhivamsa dan Wisma Dhammaguna: Klaten.
Tim
Penterjemah. 2003. Angutara Nikaya IV. Vihara
Bodhivamsa dan Wisma Dhammaguna: Klaten.
Tim
Penterjemah. 2003. Angutara Nikaya V. Vihara
Bodhivamsa dan Wisma Dhammaguna: Klaten.
[1]
David G. Lazer.
Seven Ways of Knowing Teaching for Multiple Intelligences.
(AustraliHawker Brownlow Education, 1996), 31.
[2]
Daniel Goleman,
Goleman, Working with Emotional Intellegence. (London:
BloomsburPublishing Plc., 1999), 74.
[3]
Daniel
Goleman,
Emotional Intellegence: Why it Can Matter More than IQ. (
New York: Macmillian Publishing Company, 1995), 91.
[4]
JS. Kendall
& JR. Marzano, Content Knowledge: Compendium of Standards and
Benchmarfor K-12 Education. (Mid-Continent Regional Education Laboratory,
Inc., 1997),67.
[5]
Himpunan Perundang-undangan
Republik Indonesia tentang Sistem Pendidikan Nasional (Bandung:
Nuansa Aulia, 2010), 35
[6]
Ibid., 42.
[7]
Hammond
Darling, Powerful Learning (San Fransisco: Jossey Bass, 2008), 106.
[8]
Ibid., 111
[9] Ibid., 121
[10] Ibid., 127.
[11] Ibid.,204.
[12]
Ibid. , 394.
[13]
http://Surfaquarium.com/mi/invent/htm
(Walter McKenzie: Multiple Intelligences Survey). Diakses tanggal 9
April 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar