Wikipedia

Hasil penelusuran

Senin, 22 Juni 2015

intrapersonal skill



Komunikasi Intrapersonal
Dijelaskan oleh Devito (1997), komunikasi intrapersonal atau komunikasi intrapribadi merupakan komunikasi dengan diri sendiri dengan tujuan untuk berpikir, melakukan penalaran, menganalisis dan merenung. Sedangkan  menurut  Nina  (2011) menjelaskan komunikasi intrapersonal adalah komunikasi yang terjadi pada diri manusia, meliputi proses sensasi, asosiasi, persepsi, memori dan berpikir. Sedangkan menurut Effendy seperti yang dikutip oleh Rosmawaty (2010) mengatakan bahwa komunikasi intrapersonal atau komunikasi intrapribadi merupakan komunikasi yang berlangsung dalam diri seseorang. Orang itu berperan baik sebagai komunikator maupun sebagai komunikan. Dia berbicara kepada dirinya sendiri. Dia berdialog dengan dirinya sendiri. Dia bertanya dengan dirinya sendiri dan dijawab oleh dirinya sendiri.  Selanjutnya seperti dikutip oleh Rosmawaty (2010) mengatakan komunikasi intrapersonal skill adalah suatu proses pengolahan informasi, meliputi sensasi, persepsi, memori, dan berfikir. Seorang guru pendidikan agama buddha harus memiliki intrapersonal atau komunikasi intra pribadi yang baik untuk dapat melakukan suatu penalaran, menganalisis dan merenungkan apa yang mereka bicarakan sendiri. Dengan begitu ketika seorang guru terutama guru pendidikan agama buddha berhadapan langsung dengan siswa nya ia sudah memiliki kemahiran ataupun kecakapan yang baik untuk berkomunikasi dengan siswa tersebut.
Dari konsep tentang komunikasi intrapersonal dari beberapa ahli komunikasi penulis mensintesakan bahwa komunikasi intrapersonal adalah komunikasi dengan diri sendiri melalui proses sensasi, asosiasi, persepsi memori dan berfikir dengan tujuan untuk berpikir, melakukan penalaran.
Dalam komunikasi intrapersonal, seorang komunikator (encoder) melakukan proses komunikasi intrapersonal dengan menggunakan seluruh energi yang dimilikinya agar pesan yang akan disampaikan kepada komunikan (decoder) dapat diterima dengan jelas, dan komunikan pun dapat melakukan umpan balik (feedback) terhadap pesan tersebut. Adapun proses komunikasi intrapersonal adalah sebagai berikut:
         1.       Sensasi   
      Sensasi adalah proses pencerapan informasi (energy/stimulus) yang datang dari luar melalui panca indra. Sebagai contoh: Ketika kita sedang mendengarkan permasalahan yang disampaikan oleh seseorang. Di sini terjadi proses pencerapan informasi dengan melalui indera pendengaran. Selain itu sebagai guru pendidikan agama Buddha ketika sedang ada seorang siswa sedang berkonsultasi hendaknya kita mendengarkan dengan seksama, dari situ kita mencerap suatu pokok permasalahan yang sedang dihadapi oleh siswa tersebut.

      2.       Asosiasi
     Asosiasi adalah pengalaman dan kepribadian yang mempengaruhi proses sensasi.  Thorndike  seperti yang dikutip oleh Nina (2011) mengemukakan bahwa  terjadinya asosiasi antara stimulus dan respons ini megikuti hukum-hukum berikut, yaitu:
    a)      Hukum latihan (law of exercise), yaitu apabila asosiasi antara stimulus dan respons sering terjadi, asosiasi itu akan terbentuk semakin kuat. Interpretasi dari hukum ini adalah semakin sering suatu pengetahuan yang telah terbentuk akibat terjadinya asosiasi antara stimulus dan respons dilatih (digunakan), maka asosiasi tersebut akan semakin kuat.
Ketika seorang guru pendidikan agama Buddha memiliki asosiasi antara stimulus dan respon yang sering terjadi satu sama lain nya maka seorang guru tersebut akan terbiasa dengan itu semua sehingga nya seorang guru tersebut akan memiliki asosiasi yang kuat untuk dapat berhadapan dengan siswa.
    b)      Hukum akibat (law of effect), yaitu apabila asosiasi yang terbentuk antara stimulus dan respon diikuti oleh suatu kepuasan, maka asosiasi akan semakin meningkat. Ini berarti (idealnya), jika suatu respon yang diberikan oleh seseorang terhadap suatu stimulus adalah benar dan ia mengetahuinya, maka kepuasan akan tercapai dan asosiasi akan diperkuat.
Ketika seorang guru pendidikan agama Buddha memiliki asosiasi yang terbentuk antara stimulus dan respon yang diikuti oleh suatu kepuasan maka asosiasi tersebut akan meningkat, dari peningkatan tersebut seorang guru akan memiliki asosiasi yang akan kuat, dari itu seorang guru akan mampu untuk berkomunikasi langsung dengan siswa dan akan memiliki suatu asosiasi yang baik.
Dari pendapat Thorndike ini , kita dapat mengetahui bahwa sering terjadinya pengalaman yang terjadi terhadap suatu peristiwa, maka semakin menguatkan asosiasi dan pada gilirannya akan semakin menguatkan sensasi kita terhadap peristiwa tersebut. Selain itu penguatan asosiasi juga terbentuk karena akibat dari suatu peristiwa (asosiasi stimulus dan respon). Jika seorang guru sering memiliki suatu pengalaman maka asosiasi mereka juga akan semakin kuat sensasi untuk berhadapan langsung dengan siswa.
     3.       Persepsi
      Persepsi adalah pemaknaan/arti terhadap informasi (energy/stimulus) yang masuk ke dalam kognisi manusia. Persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Persepsi ialah memberikan makna pada stimuli indrawi (sensory stimuli). Sensasi adalah bagian dari persepsi. Meskipun demikian Desiderato seperti yang dikutip oleh Nina (1976) menafsirkan makna informasi indrawi tidak hanya melibatkan sensasi, tetapi juga atensi (perhatian), ekspektasi, motivasi, dan memori. Seorang guru harus memiliki suatu persepsi yang baik tentang apa yang mereka lihat dan mereka rasakan tentang objek yang mereka lihat, seorang guru harus mampu menilai sisi yang baik dari seorang siswa nya serta memiliki sensasi yang lembut kepada siswanya agar siswa tersebut merasa nyaman. Selain itu perhatian, ekspektasi serta motivasi juga harus dimiliki oleh seorang guru pendidikan agama Buddha. Seorang guru agama Buddha harus memiliki perhatian yang baik kepada siswa nya agar siswa terbut merasa nyaman dan merasa diperhatikan oleh seorang guru, seorang guru juga harus memiliki ekspektasi yang baik kepada siswanya, serta memiliki motivasi yang baik dalam menjalankan pekerjaan ataupun tugasnya agar ketika seorang guru mengajar mampu memberikan suatu motivasi juga kepada siswanya agar siswa tersebut memiliki rasa kenyaman pada guru tersebut.
    4.       Memori
     Memori adalah stimuli yang telah diberi makna, direkam, dan kemudian disimpan dalam otak manusia. Seorang guru terutama guru pendidikan agama Buddha juga harus memiliki stimuli yang baik agar ketika mengajar guru mampu memberikan apa yang telah mereka peroleh dari pendidikan sebelumnya.  Secara singkat memori meliputi 3 proses, yaitu:
     a)      Perekaman (encoding) yaitu pencatatan informasi melalui reseptor indra dan sirkuit syaraf internal.
Dari proses yang pertama ini seorang guru harus memiliki perekaman yang baik agar dapat menyampaikan informasi kepada siswanya, dan pelajaran yang mereka ampu dapat di terima oleh siswa nya dengan baik.
      b)      Penyimpanan (storage) yang menentukan berapa lama informasi itu berada beserta kita, dalam bentuk apa, dan di mana. Penyimpanan bisa bersifat aktif atau pasif.
Proses yang kedua ini seorang guru harus mampu menentukan berapa lama informasi yang telah diterima dulunya dapat bertahan dan harus mampu mencari solusi agar informasi yang diterima dapat bertahan dalam memori guru tersebut.
      c)       Pemanggilan (retrieval), yang dalam sehari-hari disebut mengingat kembali adalah menggunakan informasi yang disimpan.
Dalam proses yang terakhir ini guru pendidikan agama Buddha mengingat apa yang telah mereka pelajari dalam proses belajar mengajar ketika mereka diangku perkuliahan untuk disalurkan kepada siswanya agar siswa dapat mengetahui informasi yang telah didapat oleh guru tersebut.
Memori mempunyai peran besar dalam komunikasi intrapersonal yang mempengaruhi baik persepsi, maupun berpikir. Memori adalah sistem yang sangat berstruktur, yang menyebabkan oraganisme sanggup merekam fakta tentang dunia dan menggunakan pengetahuannya untuk membimbing perilakunya (Schlessinger dan Groves, 1976: 352).
    5.       Berpikir
      Berpikir adalah akumulasi dari proses sensasi, asosiasi, persepsi, dan memori yang dikeluarkan untuk mengambil keputusan. Selain itu berpikir juga diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan untuk memahami realitas dalam rangka mengambil keputusan (decision making), memecahkan persoalan (problem solving) dan menghasilkan sesuatu yang baru (creativity). Proses berpikir ini memiliki peranan yang penting untuk guru pendidikan agama Buddha karena dalam berpikir ini terdapat akumulasi proses-proses yang terjadi sebelumnya sehingga dalam mengambil suatu keputusan dapat berpikir yang lebih extrim lagi.
Menetapkan Keputusan (decision making)
Menetapkan keputusan merupakan salah satu fungsi berpikir. Keputusan yang diambil oleh guru pendidikan agama Buddha dapat beraneka ragam. Salah satu fungsi berfikir adalah menetapkan keputusan, karena itu ketika seorang guru berpikir bagaimana membuat siswa semangat belajar dia harus mampu untuk menemukan suatu solusi dan menetapkan nya untuk diambil sebagai sebuah keputusan. Keputusan diambil oleh guru pendidikan agama Buddha sangatlah beraneka ragam. Adapun tanda-tanda umumnya adalah:
      a)      Keputusan merupakan hasil berpikir, dan merupakan hasil usaha intelektual.
      b)      Keputusan merupakan pilihan berbagai alternatif.  
      c)       Keputusan selalu melibatkan tindakan nyata, walaupun pelaksanaannya boleh ditangguhkan atau dilupakan.
Adapun faktor-faktor personal yang sangat menentukan terhadap apa yang diputuskan, antara lain:
1.       Kognisi.
Kualitas dan kuantitas pengetahuan yang dimiliki.
2.       Motif.
Biasa disebut konatif/konasi, dorongan, gairah yang amat memengaruhi pengambilan keputusan.
3.       Sikap.
Disebut juga afektif/afeksi/emosi yang menjadi faktor penentu lainnya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi proses penyelesaian masalah
     a)      Motivasi
Seorang guru pendidikan agama Buddha memiliki suatu motivasi yang kuat agar dapat menyelesaikan suatu permasalahan baik permasalahan siswa ataupun permasalahan pribadi. Tetapi jika seorang siswa memiliki suatu permasalahan hendaknya guru mampu memberikan suatu motivasi agar masalah siswa tersebut bisa terselesaikan dan siswa dapat belajar dengan baik dan nyaman karena masalahnya sudah sedikit berkurang karena endapat suatu motivasi yang baik dari seorang guru pendiddikan agama Buddha.
    b)      Kepercayaan
Seorang guru hendaknya memiliki suatu kepercayaan yang kuat untuk setiap apa yang mereka ucapkan atau lontarkan ketika ada seorang siswa sedang berkonsultasi kepadanya agar siswa yang mendengarkan suatu motivasi darinya dapat percaya dan dapat meringankan apa yang menjadi bebanya selama ini. Dengan rasa percaya ini seorang guru pendidikan agama Buddha akan menjadi guru yang baik dan memiliki rasa pertanggung jawaban dan percaya diri untuk menuju kepada perubahan yang baik.
    c)       Kebiasaan
Kebiasaan juga merupakan faktor untuk menyelesaikan suatu permasalahan, dengan kebiasaan yang baik yang sering diucapkan oleh seorang guru pendidikan agama Buddha maka seorang siswa ketika mendengarkan suatu motivasi darinya ia akan merasa bahawa guru tersebut adalah orang yang pas untuk dapat mendengarkan masalah yang sedang dihadapinya.
     d)      Emosi
Faktor yang terakhir mampu untuk menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi oleh siswa ataupun guru pendidikan agama Buddha itu sendiri, karena dengan memiliki emosi yang baik maka guru tersebut akan dapat mengontrol emosi ketika sedang berhadapan dengan siswa nya.
Berpikir Kreatif (creative thinking)
Dalam hal ini berpikir kreatif harus memenuhi tiga syarat.
1.       kreatifitas mengakibatkan respond atau gagasan yang baru.
Ketika seorang guru pendidikan agama Buddha memiliki kreatifitas yang baik maka guru tersebut akan direspon yang baik juga oleh siswanya atau siswa tersebut akan memiliki gagasan baru tentang guru tersebut.
2.       kretifitas adalah dapat memecahkan persoalan secara realistis.
Selain mengakibatkan respon yang baik ketika guru pendidikan agama Buddha memiliki kreatifitas maka ia juga dapat memecahkan persoalan yang sedang dihadapi oleh siswanya.
3.       kreatifitas merupakan usaha untuk mempertahankan insight yang orisinil, menilai dan mengembangkannya sebaik mungkin  (MacKinnon, 1962:485)
Menurut Guilford, orang kreatif ditandai dengan pola berpikir divergen, yakni mencoba menghasilkan sejumlah kemungkinan jawaban. Dengan memiliki suatu kreatifitas seorang guru pendidikan agama Buddha akan menghasilkan siswa yang dapat mencoba menghasilkan jawaban dari apa yang mereka selalu pikirkan selama ini.
Para psikolog menyebutkan lima tahap berpikir kreatif.
1.       Orientasi              : masalah dirumuskan, dan aspek-aspek masalah diidentifikasi
2.       Preparasi             : pikiran berusaha mengumpulkan sebanyak mungkin informasi yang relevan dengan masalah
3.       Inkubasi               : pikiran beristirahat sebentar ketika berbagai pemecahan berhadapan dengan jalan buntu (pada tahap ini, proses pemecahan masalah berlangsung terus dalam jiwa bawah sadar kita)
4.       Iluminasi              : masa inkubasi berakhir ketika pemikir memperoleh semacam ilham, serangkaian insight yang memecahkan masalah
5.       Verifikasi             : tahap terakhir untuk menguji dan secara kritis menilai pemecahan masalah yang diajukan pada tahap iluminasi
Dari kelima langkah tersebut seorang guru pendidikan agama Buddha harus memiliki langkah-langkah itu untuk dapat memajukan siswa-siswanya agar siswa tersebut menjadi siswa yang dapat membangun Buddha dharma serta memajukan Indonesia.
Beberapa faktor yang secara umum menandai orang-orang kreatif (Colemman dan Hamman, 1974:455)
1.       Kemampuan kognitif, termasuk kecerdasan diatas rata-rata, kemampuan melahirkan gagasan-gagasan baru dan berlainan serta fleksibilitas kognitif
2.       Sikap yang terbuka. Orang kreatif mempersiapkan dirinya menerima stimuli baik internal maupun eksternal, dan memiliki minat yang beragam dan luas.
3.       Sikap yang bebas, otonom, dan percaya pada diri sendiri. Orang kreatif ingin menampilkan dirinya semampu dan semaunya.
Faktor Intrapersonal

Kecerdasan Kepemimpinan adalah kemampuan intelektual atau kecerdasan merupakan kondisi internal yang dimiliki individu, di mana kondisi tersebut merupakan hasil interaksi herediter dengan lingkungan. Dari hasil penelitian Murphy (1996) dapat disimpulkan bahwa pemimpin yang sangat efektif mengikuti Tujuh Prinsip Petunjuk (The Seven Guiding Principles of Leadership) yang menginformasikan IQ kepemimpinan yang tinggi dan memenuhi Delapan Peran khusus (The Eight Roles of The Workleader) dan keterampilan-keterampilan terkait yang diperlukan untuk menerjemahkan prinsipprinsip itu ke dalam tindakan nyata. Ketujuh prinsip yang saling berkaitan secara logis tersebut yaitu:
   1)      Jadilah seorang peraih prestasi (bean achiever),
   2)      Jadilah orang yang pragmatis (be pragmatic),
   3)      Praktekkan kerendahan hati strategis (practice strategic humility),
   4)      Berfokuslah pada konsumen (be customer focused),
   5)      Milikilah komitmen (be committed),
   6)      Belajarlah menjadi orang yang optimis (learn to be an optimist),
    7)      Menerima tanggung jawab (accept responsibility).
Dengan adanya 7 prinsip yang saling berkaitan maka seorang guru pendidik agama Buddha mampu untuk mencerdaskan anak bangsa dengan skill mereka masing-masing, seorang guru pendidik agama Buddha harus memiliki intrapersonal yang baik agar mereka mampu untuk menjadi contoh atau teladan yang baik bagi anak didik nya.

Adapun ke delapan peran dan cara-cara yang perlu dikuasai agar guru pendidik agama Buddha dapat mengendalikan serta masuk dalam ketujuh prinsip di atas, ialah:
   1.       Pemilih (the selector),
   2.       Penghubung (the connector),
   3.        Pemecah masalah (the problem solver),
   4.        Evaluator (the evaluator),
   5.        Negosiator (The negotiator), 
   6.       Penyembuh (the healer),
    7.        Pelindung (the protector),
    8.        Sinergi (The synergizer).




















Daftar pustaka
http://www.psikologizone.com/definisi-komunikasi-interpersonal/06511922 (diakses tanggal 19 mei 2015)
http://www.scribd.com/doc/42270130/sistem-komunikasi-intrapersonal (diakses tanggal 19 mei 2015)
http://aton29.wordpress.com/2010/04/27/komunikasi-intrapersonal  (Diakses tanggal 19 mei 2015)
M. Ghojali Bagus A.P., S.Psi. Buku Ajar Psikologi Komunikasi – Fakultas Psikologi Unair 2010.
Prof. Suyanto, Ph.D dan Drs. Asep Jihad, M.Pd. 2013. Menjadi Guru Profesional. Esensi Erlangga Group: Jakarta
Saondi, Ondi, M. Pd., Drs. Suherman, dan Aris, M.Pd. 2010. Etika Profesi Keguruan. PT. Refika Aditana: Kuningan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar