`KEYAKINAN
(SADDHA)
A.
Esensi
Keyakinan
Keberadaan
manusia, pengalaman dalam perjalanan hidupnya ditengah pergerakan alam semesta
ini merupakan misteri yang mengusik keingintahuan dan membentuk segala harapan
manusia. Dengan akalnya ia melahirkan ilmu. Tetapi akal tidak selalu berhasil
menyikapi semua rahasia. Ketika manusia sampai pada batas kemampuan rasionalnya
apalagi saat menghadapi penderitaan, kesulitan dan ketakutan misalnya ia
terbuka untuk hal-hal yang bersifat suprasional.
Malionoski mengamati beberapa
suku primitif dikepulauan pasifik melakukan upacara religius hanya jika akan
menangkap ikan didaerah perairan dalam. Upacara semacam itu tidak ada ketika
cuaca sangat baik dan mereka cukup mencari ikan didekat pantai. Bila mesti
berlayar jauh atau cuaca buruk mereka membuthkan sesuatu yang lain dari ilmu
atau keterampilan yang diperolehnya
melalui proses belajar dan pengalaman. Yang lain itu adalah “agama”. Maka
manusia membutuhkan dua hal, yaitu akan dan imam[1].
Bagi orang-orang seperti mereka, apa yang dipercaya sebagai iman tidaklah harus
masuk akal.
Berbagai bentuk kepercayaan atau
agama agaknya telah ada dan sama tuanya dengan umur kemanusiaan. Pada mulanya
kekuatan alam diidentifikasikan secara antropomorfik seperti manusia yang
mempunyai perasaan keinginan dan sebagainya. Apa yang dipikirkan sebagai
makhliuk-makhluk itu kemudian dipandang mempunyai sifat-sifat ilahi, misterisu,
berkuasa dan menakutkan. Hasilnya adalah munculnya pemujaan dewa-dewa dan
kepada makhluk-makhluk itu manusia menggantungkan kehidupannya. Setiap orang
bergantung kepada kebutuhan dan keinginannya, memilih satu diantara dewa-dewa
itu untuk dipuja yang kemudian cenderung memandangnya sebagai yang tertinggi
diantara para dewa. Konsepsi dewa ini berkembang kedua arah, yaitu monoteisme
(dalam bentuk seperti faruna dan kemudian prajapati dan brahma), dan apa yang
disebut monisme (yang berpuncak dalam konsepsi brahma-atma seperti yang
tercermin dalam upanisa)[2]..
Nilai-nilai keagamaan yang
pernah dihayati manusia senantiasa memiliki dasar-dasar yang mengandung
persamaan-persamaaan elemen, yaitu perasaan takut, khawatir, cinta dan percaya
kepada yang maha gaib. Dan manusia
dianggap memiliki pitrah, sifat asal atau bakat untuk baragama[3].
Bagaimana menghadapi perasaan takut ini juga mendapat perhatian dari Buddha,
sebagaimana yang disabdakan-Nya: “jika engkau berlindung kepada Buddha, Dharma
dan Sangha, perasaan takut, khawatir, cemas, tidak akan muncul”. (S. I 220).
Namun Buddha mengajarkan agama
yang bebas dari otoritas adiskodrati, dan menolak ketergantungan manusia pada
kekuatan diluar dirinya sendiri. Keyakinan seharusnya timbul dan berkembang
bukan karena takut, tetapi karena memiliki pengertian yang benar. Agama Buddha
tidak mengenal dikotomi antara akal dan iman. Iamn yang bertentangan dengan
akal sehat tak ada bedanya dari tahayul.
1. Iman Rasional
Keyakinan dinamakan saddha,
adalah iman atau kepercayaan yang berdasarkan kebijaksanaan. Apa yang diajarkan
oleh Buddha sebagai kebenaran mutlak, bukan sesuatu yang masih diragukan atau
samar-samar. Tetapi agama Buddha tidak dimulai dengan iman yang buta atau tanpa
dasar (amulika-saddha). Setelah
penyelidikan awal orang dapat mengembangkan suatu hipotesis dan mengujinya
melalui pengalaman pribadi. Iman seperti itu yang berakhir dengan pengukuhan
atau kepastian disebut iman rasional (akaravati-saddha). Tentu saja iman rasional adalah iman yang
dewasa, tidak kekanak-kanakan.
Seseorang
yang kuat dalam keyakinan tetapi lemah dalam kebijaksanaan akan memiliki
keyakinan yang panatik dan tanpa dasar. Seseorang yang kuat dalam kebijaksanaan
tetapi lemah dalam keyakinan akan mengetahui bahwa ia bersalah jika berbuat
kejahatan, tetapi sulit untuk menyembuhkannya bagaikan seseorang yang
penyakitnya disebabkan oleh si obat sendiri. Bila keduanya seimbang, seseorang
akan memiliki keyakinan hanya bila ada dasarnya (vism 129).
Menurut
Asanga (abad ke-4) saddha itu
mengandung unsur, yakni: (1) keyakinan yang kuat akan sesuatu hal ; (2)
kegembiraan yang mendalam terhadap sifat-sifat yang baik ; (3) harapan untuk
memperoleh sesuatu dikemudian hari. Keyakinan yang kuat bukan berarti sebatas
percaya seperti yang lazim dikenal oleh kebanyakan orang. Keyakinan disini
menekankan aspek melihat, mengetahui dan memahami. Persoalan percaya akan
timbul apabila kita tidak dapat melihat segala sesuatu dengan jelas. Begitu
kita dapat melihat sendiri dengan jelas pada saat itu pula tidak adalagi
persoalan percaya atau tidak [4].
Dalam ajaran yang bersifat ehipassiko yang selalu kita temukan adalah melihat
atau membuktikan, sehingga keyakinan memiliki kepastian bukan percaya kepada
sesuatu yang belum jelas kebenarannya.
Kegembiraan
terhadap sifat-sifat yang baik akan ditemukan pada orang yang memiliki
pengertian dan kebijaksanaan. Tidak mungkin orang percaya karena takut dapat
merasakannya. Dan suatu pengharapan tidak pernah keluar dari sikap moral
manusia. “siapa orang memiliki harapan? Dia yang bermoral dan berwatak baik,
belajar bahwa demikianlah seharusnya cara hidup seorang siswa, yang memathkan
kecenderungan buruk, mencapai kesempurnaan lewat jalan kebijaksanaan dan
pemusatan pikiran bersih dari dorongan yang keliru. Setelah ia sendiri memahami
dan menyaadari akan tujuan yang lebih luhur dari hidup ini, lalu berfikir untuk
melaksanakannya” (Pug/ Des. III, 1).
Sariputta
memberikan kesaksiaan bagaimana seseorang dapat memiliki keyakinan yang
sempurna kepada Tathagata dan tidak meragukan ajarannya. Keyakinan diuji dengan
mengendalikan indera. Dengan keyakinan ini, semangat, kesadaran, konsentrasi
dan kebijaksanaan berkembang terus menerus. “sebelumnya aku hanya mendengar
hal-hal ini, sekarang aku hidup dengan mengalaminya sendiri. Kini dengan
pengetahuan yang dalam aku menembusnya dan membuktikannya dengan jelas”. (S. V, 226).
Dengan
memiliki keyakinan kepada Buddha, ada yang berhasil mencapai tujuan, ada yang
mendekati tujuan, namu tidak sedikit pula yang tidak berubah nasibnya.
Ganaka-moggallana bertanya kalau ada nirwana, ada jalan untuk mencapainya, ada
Buddha sebagai gurunya kenapa tidak semua orang berhasil mencapai nirwana?
Buddha membalas bartanya, apakah brahmana itu tahu jalan ke Rajagaha sang
brahmana tahu, tentu karena sering pergi ke kota itu. Kalau orang-orang
bertanya tentang jalan ke Rajagaha, ia bisa memberi petunjuk dengan benar. Lalu
pertanyaan Buddha ada kota rajagaha, ada jalan ke kota itu, ada yang memberi
petunjuk, tetapi kenapa tidak semua orang yang mendapat petunjuk itu tiba di
Rajagaha? Jawab Ganaka-Moggallana, ia hanya menunjukkan jalan, dan hasilnya
jelas tergantung pada orang yang mendapat petunjuk (M. III 4-6.) orang boleh percaya tetapi jika ia tidak menempuh
jalan sendiri tidak akan sampai ke tempat tujuan. Dan orang yang jalan
menyimpang dari petunjuk, tentu akan tersesat jalan.
Ketika
brahmana Pingiyanin di tanya mengenai keyakinannya terhadap Buddha, antara lain
ia membandingkan Buddha dengan seorang dokter. “seperti seorang dokter yang
pandai dalam waktu singkat menyembuhkan penyakit, melenyapkan penderitaan
seorang pasien, manakala seseorang memahami dharma yang diajarka Buddha Gotama
apakah itu melalui sabda, khotbah, tanya jawab, atau mukjizat, maka lenyaplah
kesedihan, keluh kesah kesengsaraan, ketidaksenagan dan keputusasaannya” (A.III, 238) boleh saja orang percaya
bahwa dokter itu benar ahli, obatnya manjur, tetapi hanya percaya saja jelas
tidak bermanfaat. Yang menjadi persoalan adalah apakah pasien mau menaati
petunjuk dokternya dan menggunakan obatnya dengan benar. Seorang pasien boleh
jadi tidak perlu mengetahui siapa dokternya yang penting ia mendapat obat yang
tepat dan sembuh. Seperti halnya Pukkusati yang mendapat manfaat dari ajaran
Buddha sebelum ia mengenal Buddha (M. III,
238).
Setiap
orang memiliki kebebasan untuk mempertimbangkan dan menentukan keyakinannya
sendiri. Dia beriman bukan karena dipengaruhi oleh orang lain ketika Baddhiya
dari suku Licchavi minta diterima sebagai pengikut, Buddha bertanya, “Baddhiya
apakah aku mengajakmu: mari Baddhiya menjadi muridmu dan aku akan menjadi
gurumu?” jawab Baddhiya. “tidak bhante”. Buddha tidak mengajak tetapi Baddhiya
sendiri yang ingin menjadi pengikut karena menaruh keyakinan. Banyak orang
seperti Baddhiya yang meninggalkan
kepercayaannya yang lama, lalu meminta sendiri untuk menjadi murid Buddha.
Orang-orang yang tidak senang terhadap Buddha menuduh bahwa ia menggunakan
kekuatan sihir sehingga orang percaya kepadanya. Badhiya berpendapat, baik
sekali jika orang-orang bisa ditundukkan dengan cara itu, karena sebenarnya
bermanfaat bagi mereka sendiri. Namun menurut Buddha yang mendatangkan
kebahagian bagi orang-orang itu adalah karena mereka menghindari kejahatan dan
melakukan jadi, bukan masalah tunduk atau percaya kepadanyya (A .II, 193).
2. Kekuatan Keyakinan
Keyakinan atau
kepercayaan adalah kekayaan yang terbaik yang dapat dimiliki seseorang (S.I,41). Kekayaan yang dimaksud tidak hanya harta benda tetapi juga sukses
dalam kehidupan sosial, hingga dilahirkan di alam-alam surga, dan puncaknya
mencapai nirwana. Orang yang tak tergoyahkan keyakinannya dan mempunyai
kebajikan yang dihargai oleh orang-orang mulia, akan melaju dan mencapai pantai
serbang, menuju lenyapnya kekotoran batin (S.
V, 396).
Keyakinan
dapat mengubah penderitaan menjadi kebahagian dalam rumasan sebab-musabab yang
saling bergantungkan disebutkan bahwa penderitaan menimbulkan keyakinan;
keyakinan menimbulkan rasa kegimbara; rasa gembira menimbulkan menimbulkan rasa
terpesona; rasa terpesona menimbulkan ketenangan; ketenangan menimbulkan
kebahagiaan; kebahagiaan menimbulkan pemusatanpikiran; pemusatan pikiran
menimbulkan pengetahuan dan pandangan akan segala hal sebagaimana adanya;
pengetahuan dan pandangan akan segala hal sebagaimana adanya menimbulkan
kejenuhan; kejenuhan menimbulkan ketiadaan hawa nafsu; ketiadaan hawa nafsu
menimbulkan pembebasan; pembebasan menimbulkan pemadaman atau tiada lagi
kelahiran lagi. Inilah tujuan akhir atau Nirwana yang dicapai oleh arahat (S.II,32).
Karena
keyakinannya Ananda pernah mengemukakan bahwa ia beruntung mendapat seorang
guru dengan kekuatan adikodrati yang suaranya menjangkau seluruh jagad raya
(melampaui semilyar alam tata surya raya). Udayin menyindir Ananda, walau Sang
Guru memiliki kekuasaan itu, apa gunanya untuk dia. Kepada Udayin Buddha
menyatakan bahwa berdasarkan keyakinan yang teguh itu, sekalipun misalnya
Ananda wafat sebelum mencapai kebebasan sempurna ia akan terlahir tujuh kali
merajai para dewa, dan merajai tanah jambudipa (A.I,228). Tentu saja karena Ananda melatih dirnya sesuai dengan apa
yang diajarkan oleh Buddha tidak hanya karena percaya.
Menjelang
Parinibbana Buddha menyatakan bahwa dengan memiliki keyakinan, mereka yang
melakukan ziarah atau melihat dan menghormati stupa Buddha, akan merasa tenang
dan bahagia. Keyakinan yang kuat akan membuatnya terlahir kembali dialam surga
dikemudian hari (D.II, 140-142).
Pikiran mendahului segala sesuatu. Dengan pikiran kita mengontrol perbuatan dan
ucapan. Seperti bayangan perbuatan yang didasarkan pada keyakinan takkan pernah
meniggalkan prang yang terlahir kembali di alam surga atau alam manusia. Hal
ini dikemukakan oleh Buddha sehubungan dengan kasus mattehakundali yang
menjelang saat meninggal dunia menaruh kayakinan pada Buddha dan kemudian ia
terlahir kembali di Surga Tavatimsa (Dhp.
A. 2).
Nagasena
menjelasan kepada Raja Milinda bahwa ciri-ciri keyakinan adalah dengan memiliki
ketenangan dan langkah maju. Ketika keyakinan timbul ia akan menghancurkan
segala halangan. Tanpa penghalang, pikiran akan mejadi terang , bersih dan
tenang. Langkah maju diukur dari praktik meditasi mencapai apa yang belum
dipakai, mengatasi apa yang belum teratasi, merealisasi apa yang belum teratasi
(Miln. 34).
B.
Pokok-Pokok
Keyakinan
“Pintu
kehidupan abadi telah terbuka, Brahma. Biarlah mereka yang dapat mendengar
menjawabnya dengan keyakinan,”. Kata Buddha menjawab permohonan
Brahmasahampati, agar Buddha mengajarkan dharma kepada orang lain (M. I, 169).
Ada empat pokok
keyakinan yang paling utama. Yang pertama, keyakinan kepada Buddha. Kedua,
keyakinan kepada jalan mulia berunsur delapan (Arya Atthangika-magga).[5]
Ketiga, keyakinan pada ketiadaan hawa nafsu (viraga) atau Nirvana,yang dinyatakan juga sebagai Dhamma. Keempat
keyakinan pada arya-sangha, persekutuan
orang-orang suci (A. II, 34).
Beriman kepada
Buddha berarti memiliki keyakinan pada penerangan sempurna dari Tathagata (Tathgatabodhi-sadda). Keyakinan ini
juga terkait erat dengan keyakinan terhadap hokum karma atau perbuatan (karma-saddha), keyakinan terhadap
akibat dari hokum karma (vipaka-saddha), keyakinan
bahwa semua makhluk mempunyai karma masing-masing dan bertanggung jawab atas
perbuatannya sendiri (kammassakata-saddha).[6]
1.
Keyakinan Terhadap Triratna
Kehidupan agama Buddha sepenuhnya dibangun atas dasar keyakinan terhadap
Buddha Gotama, yang disebut juga Sakyamuni. “Demikian sesungguhnya Bhagawa,
Yang Mahasuci (araham), yang telah
mencapai Penerangan Sempurna berkat kekuatan-Nya sendiri (Sammasambuddho), sempurna pengetahuan serta tingkah laku-Nya (Vijjacaranasampanno), sempurna menempuh
Jalan (Sugato), pengenal segenap alam
(Lokavidu), pembimbing manusia yang
tiada taranya (Anuttaro
purisadammasarathi), Guru para dewa dan manusia (satthadeva manussanam), Yang Bangun (Buddho), Junjungan yang dimuliakan (Bhagava)” (M. I, 37).
Buddha artinya
orang yang telah mencapai Penerangan Sempurna (budh, bangun, mengetahui). Buddha adalah gelar, bukan nama diri.
Sebutan untuk Buddha yang sering dipergunakan, antara lain: Bhagawa, Tathagata,
Sugata. Ada banyak Buddha. Sammasambuddha
adalah Buddha yang menurunkan ajaran kepada orang lain, baik manusia
ataupun dewa. Kitab Lalitavistara mengemukakan
54 Buddha dan Mahavastu lebih dari
100 Buddha. Kitab Buddhavamsa mencatat
secara kronologis 28 Sammasambuddha yang
muncul dalam 5 periode siklus masa-dunia
(kalpa). Pada masa dunia sekarang
terdapat 5 Budha. Buddha yang dikenal secara historis, Buddha Gotama (Sakyamuni) adalah yang ke empat,
(sebelumnya Kakusandha, Konagamana, Kassapa) dan kelak akan datang Buddha
berikutnya yang dinamakan Buddha Maitreya. Paccekabudha
adalah Buddha yang tidak memberikan ajaran kepada orang lain. Sedangkan Savakabuddha atau Anubuddha mencapai
penerangan sempurna dengan melaksanakan ajaran Sammasambuddha.
Bagaimana seseorang
dapat membuktikan bahwa Buddha benar-benar mencapai penerangan sempurna? Mereka
yang menjadi pengikut Buddha Gotama memilki keyakinan karena mendengar sabda
dan kotbah-Nya (baik langsung atau tidak langsung); karena puas dengan Tanya
jawab; karena melihat tanda-tanda fisik Manusia Agung (Mahapurisa-Lakkhana); mengamati tingkah laku Buddha sehari-hari
yang maha suci, maha tahu, maha pengasih; menyaksikan berbagai mukjizat dan
kekuatan atau kemampuan supernatural yang ditunjukan oleh-Nya. Lalu lewat
praktik, khususnya meditasi, mereka membuktikan sendiri realitas yang diajarkan
itu.
Sekarang ini, kita
hanya dapat mendengar tentang Buddha lewat kesaksia orang lain. Kita belajar
dari Guru, khususnya Bhikkhu-bhikkhu, dan menggunakan kitab suci sebagai
referensi. Dari dekat kita dapat mengamati dengan kritis bagaimana mereka yang
menjalankan ajaran Buddha hidupnya tidak akan tercela dan mencapai kemajuan,
sehingga dapat diteladani. Keyakinan menjadi kuat lewat pengalaman, setelah
kita mendapat manfaat dari ajaran yang dipraktikan oleh kita sendiri.
Keyakinan pada
Dharma meliputi Jalan Mulia Berunsur Delapan dan Nirwana, berkenaan dengan
aspek duniawi (lokiya) dan diatas
duniawi (lokuttara), atau keadaan
yang bersyarat (sankhata-dhamman) dan
keadaan yang tidak bersyarat (asankhata-Dhamma).
Dharma (skt.), Dhamma (pali) sebenarnya mengandung banyak makna,
berbeda-beda artinya untuk konteks yang berlainan. Secara harfiah Dharma
diartikan segala sesuatu kecuali ketiadaan atau nihil (dhr berada atau mendukung dirinya). Dharma bisa berarti kebenaran,
ajaran, agama, hukum, moral,
kebajikan, keadilan, nilai, suatu tujuan hidup, tugas dan kewajiban, segala Sesutu,
fenomena, keadaan, perbuatan, objek mental.
Dalam pengertian
ontology dan ketuhanan dharma
dimaksudkan:
1.
Dharma sebagai
kebenaran mutlak, transenden dan
merupakan tujuan tertinggi atau terakhir. Dharma ini adalah yang mutlak
(asankhata-dhamma) yang dikenal
sebagai nirwana, dharmakaya, dharmabhuta,
paramartha.
2.
Dharma sebagai hukum
dharma (dhamma niyama) yang menguasai
dan mengatur alam semesta, tidak diciptakan, kekal dan imanen.
3.
Dharma adalah fenomena
atau peristiwa yang multiple, yang sesaat, fisik maupun mental, yang tunduk
pada hukum dharma. Dalam hal makhluk hidup yang mempunyai kehendak, hokum itu
mewujud sebagai sebab musabab yang saling bergantungan.
Dhamma yang dipandang dalam dua aspek, transenden dan imanen merupakan
dhrma yang telah membangunkan Bodhisatva Gotama saat penerangan sempurna[7]. Tidak lama setelah mencapai penerangan sempurna, Buddha Gotama
menyatakan, “Dharma yang telah menimbulkan penerangan sempurna dalam diri-ku,
hidup dalam-nya, aku memuja dan menghormati Dharma.” Kemudian Brahma Sahampati
berkata, “mereka, Bhagawa, para Buddha dimasa yang lalu, hidup didalam Dharmma,
memuja dan menghormati-Nya. Mereka yang akan menjadi Buddha dimasa yang akan
datang, juga hidup di dalam Dhamma memuja dan menghormatinya. Begitu pula dengan
Bhagawa, Buddha masa sekarang, hidup didalam Dhamma, memuja dan
menghormatinya.” (S. I, 139).
Apakah Tathagata muncul atau tidak, Dharmma dalam pengertian di atas
selalu ada. Kita memang mengenal-Nya melalui apa yang diajarkan oleh Buddha.
“Dharma telah dibabarkan sempurna oleh Bhagawa (Svakkahato Bhagawata Dhammo), berada sangat dekat (Sandhitiko), tidak dibatasi oleh waktu (Akaliko), mengundang untuk dibuktikan (ehipashiko), menuntun kearah pembebasan
(opanayiko), dapat diselami oleh para
bijaksana dalam batin masing-masing (Paccatam
veditabbo vinnu)” (M. I, 37).
Mengenai Arya-Sangha
dinyatakan sebagai berikut: “sangha siswa sang Bhagawa berperilaku baik (supatipanno Bhagavato savaka sangho), berperilaku
lurus (ujupatipanno), berperilaku
benar (nayapatipanno), berperilaku
patut (samicipatipanno). Mereka empat
pasang makhluk terdiri dari delapan makhluk suci. Itulah Sangha siswa Sang
Bhagava, patut dimuliakan dan menerima persembahan (ahuneyyo), patut disambut dngan ramah (pahuneyyo), patut menerima persembahan (dakkhineyyo), patut dihormati (anjalikaraneyyo);
lapangan menanam jasa yang tiada taranya dialam semesta (anuutaram punnakettham lokasa).” (M.I.37) .
Keempat pasang makhluk suci yang dimaksud adalah mereka adalah yang
telah mencapai kesucian tingkat pertama hingga keempat, yaitu: Sotapatti
(pemasuk arus), sakadagami (yang akan kembali atau terlahir di bumi sekali
lagi), anagami (yang tidak kembali lagi dialam dewa dan manusia), dan arahatta
(yang telah sempurna, tidak lagi mengalami kelahiran dan kematian),
masing-masing dibedakan atas yang telah mencapai jalan (magga), dan telah mencapai hasil (phala), (Pug 73).
orang-orang kudus itu dinamakan arya-puggala,
bisa seorang Bhikkhu atau Bhikkhuni, bisa saja upassaka atau upassika.
Seorang Sotapanna telah
berhasil membasmi belenggu (samyojhana)
berupa pandangan keliru tentang keakuan (sakkayadhitti),
terhadap guru dan ajaran sejati. (vicikiccha),
kepercayaan akan tahayul bahwa upacara saja dapat mengakhiri penderitaan (silabbataparamasa). Ia tidak akan
mundur atau mandek dalam perkembangn batin, sehingga tidak akan dilahirkan
lebih dari tujuh kali dalam perajalanannya mencapai penerangan sempurnanya.
Selain telah membasmi ketiga belenggu yang disebut terdahulu, sakadagami telah
melemahkan dan anagami telah membasmi belenggu lain berupa cengkraman nafsu
birahi (kamaraga) dan keingina jahat,
benci dan dendam (patigha), arahat
lebih jauh telah membasmi belenggu berupa nafsu keinginan untuk hidup dialam
yang bermateri (ruparaga), nafsu keinginan untuk hidup dialam yang tidak
bermateri (aruparaga), kesombongan (mana), kegelisahan (uddhacca), dan ketidaktahuan atau kegelapan batin (avijja).
2. Makna Perlindungan
Buddha,
Dhamma dan Sangha disebut sebagai Triratna atau Tiga Permata. Langkah pertama
ynag diambil oleh setiap umat Buddha dalam memasuki jalan keselamatan adalah
menyatakan keyakinannya dengan pengakuan berlindung pada Triratna (Tisarana).
Aku
berlindung pada Buddha (Buddham saranang
gacchami)
Aku
berlindung pada Dharma (Dhammang saranang
gacchami
Aku
berlindung pada Sangha (Sanghang saranang
gacchami)
Berlindung pada Triratna adalah yakin dengan sepenuh hati kepada
Triratna sebagai pembawa inspirasi, penuntun hidup, bahkan menjadi tujuan
hidup. Orang yang berlindung pada Buddha, dharma dan Sangha dengan bijaksana
dapat melihat Empat Kebenaran Mulia yaitu Dukkha, asal mula dukkha, lenyapnya
dukkha dan jalan mulia berunsur delapan yang menuju lenyapnya dukkha (Dhp.190-1910. Setelah melihat dirinya
dengan baik ia memperoleh perlindungan yang sukar didapat, sehingga
sesungguhnya diri sendirilah yangmenjadi pelidung bagi dirinya, (Dhp. 160). Jelas, berlindung pada Buddha bukan suatu
sikap yang pasif pasrah pada kehendak diluar diri sendiri. Buddha mengajarkan
agar kita tidak menyandarkan nasib pada makhluk lain, dan menjadi pelindung
bagi diri sendiri dengan berpegang teguh pada kebenaran. “karena itu Ananda,
jadilah pelita pada dirimu sendiri. Jadilah pelindung bagi dirimu sendiri.
Jangan menyandarkan dirimu pada perlindungan dari luar. Peganglah teguh dharma
sebagai pelita. Peganglah teguh dharma sebagai pelindung. Jangan mencari perlindungan
diluar dirimu.” (D.II, 100).
Keyakinan yang disertai pernyataan berlindung ini mempunyai tiga
aspek: (1) aspek kemauan, yang menghendaki adanya kesadaran dan tindakan aktif,
bukan pasif menunggu berkah dari atas; (2) aspek pengertian, yang menghendaki
pemahaman terhadap hakikat perlindungan dan perlunya perlindungan, yang memberi
harapan dan yang menjadi tujuan; (3) aspek perasaan, yang engandung unsur
percaya, keikhlasan, syukur dan cinta kasih, yang menimbulkan bakti, mendorong
pengabdian, dan memberi ketenangan, kedamaian, semangat, kekuata, dan
kegembiraan. [8]
Berlindung pada Buddha mengandung arti menjunjung Buddha yang
diyakini telah mencapai penerangan dengan kekuatan sendiri dan mengajarkan
pengetahuan, sehingga kita dapat melaksanakan dan mengalami apa yang telah
dicapainya; mengingat setiap orang mempunyai benih kebuddhaan dalam dirinya dan
dapat menjadi Buddha. Buddha sebagai pelindung bukanlah pribadi petapa Gotama,
melainkan para Buddha sebagai manivestasibodhi (kebuddhaan) yang mengatasi
keduniawian.
Berlindung kepada Dharma mengandung arti menjunjung Dharama yang
tiada lain dari kebenaran mutlak. Dan dalam pengertian sebagai hukum yang
menguasai atau mengatur alam semesta, Dharma melindungi mereka yang
melaksanakan kebenaran. Dharma sebagai pelindung tidak dimaksudkan dengan
kata-kata yang tertulis dalam kitab suci atau konsep dalam pikiran manusia yang
masih dicengkram keduniawian, melainkan kesucian dan nirwana yang dicapai pada
akhir jalan.
Berlindung kepada Sangha mengandung arti menjunjung tinggi sangha
yang memeiliki perilaku benar, menjadi contoh teladan, membimbing dan menuntun
makhluk-makhluk lain. Sangha sebagai pelindung bukan kumpulan bhikkhu yang
bebas kekotoran batin (sammuti-sangha),
melainkan orang-orang yang telah mencaapai kesucian. Perlindungan berhubungan
dengan kemampuan yang ada pada setiap untuk mencapai tingkat kesiucia hingga
menjadi Buddha.9[9]
Mereka yang berlindung pada Triratna mengikuti suatu cara hidup
untuk mencapai cita-cita penerangan diantaranya, dalam praktik sehari-hari umat
memuja Triratna. Pemujaan demikian dapat dimengarti, apabila diingat bahwa
dalam konsep Triratna itulah yang transenden dapat dijangakau oleh pikiran
manusia biasa. Triratna dipandang merupakan manivestasi atau cerminan Tuhan
Yang Maha Esa dalam dunia ini karena aspek transenden yang dimiliknya. Tetapi
konsep Triratna tidaklah sama dengan konsep Tuhan dalam agama lain. 10
C.
Pandangan
Benar (Samma Ditthi)
Pandangan
benar adalah pengetahuan benar tentang Empat Kebenaran Mulia yaitu pengetahuan
benar tentang Dukkha, sebab menculnya dhukkha , lenyapnya Dukkha dan jalan menuju lenyapnya Dukkha. Pada tingkatan biasa hanya
merupakan pengetahuan yang berdasarkan
pada penalaran manusia biasa saja yang didasarkan pada kemampuan berpikir
seseorang yang masih terbatas pada pengalaman yang dialaminya sehari-hari melalui
indera-inderanya. Pandangan benar akan memastikan kebenaran pikiran dan
keselarasan gagasan. Ketika gagasan dan pikiran menjadi jelas dan bermanfaat,
ucapan dan perbuatan akan mengikutinya. Pandangan benar juga akan menyebabkan
seseorang menghentikan usaha yang tanpa hasil dan mengusahakan daya upaya benar
yang membantu mengembangkan perhatian benar. Daya upaya benar dan perhatian
benar, dengan dituntun oleh pengertian benar, akan menyababkan unsur-unsur lain
dari sistem bergerak dalam hubungan yang tepat.
Pandangan benar
dengan penalaran biasa setelah mempelajari Buddha Dhamma akan menyimpulkan
bahwa kamma kita sendiri sangatlah
mempengaruhi keberadaan dan kehidupan kita. Kitapun dapat mengetahui secara garis besarnya mengenai cara kerja
hukum kamma dan meyakini bahwa pada
umumnya semua keadaan kita adalah sebagai akibat dari kamma kita sendiri. Pandangan benar akan keyakinan terhadap
hukum-hukum kamma meliputi:
1.
Kammassaka (kamma sebagai milik atau harta)
2.
Kammadayada (kamma sebagai warisan)
3.
Kammayoni ( kamma yang melahirkan)
4.
Kammabandu (kamma sebagai kerabat)
5.
Kammappatissarana (kamma sebagai pelindung)
Pandangan benar kita akan mengingat apabila pengalaman kita telah
meningkat pula. Misalnya kita sukses
melaksanakan meditasi, yang akan membantu kita melihat, mengetahui dan mengerti
hal-hal yang belum pernah kita ketahui sebelumnya, yang akan mengakibatkan
pengetahuan kita meningkat pula. Pengetahuan yang tinggi akan menghasilkan cara
berfikir yang lebih maju, sehingga dengan demikian pandangan hidup kita akan
lebih jelas dan keyakinan bertambah kuat.
Pandangan benar seseorang akan menjadi sempurna pada saat ia
mencapai pembebasan mutlak, atau lenyap nya dukkha, yaitu Nibbana. Pada tingkat ini, pandangan benar telah berkembang pada
tingkat tertinggi, sebab pengetahuan tentang kesunyataan telah
direalisasikannya, serta menyadarinya dengan penuh pengertian bahwa segala
sesuatu yang terkondisi adalah tidak kekal (Anicca).
Ia juga akan mengerti dengan sempurna bahwa ketidak-kekalan segala sesuatu
yang terkondisi itu adalah tidak menyenangkan atau tidak memuaskan (Dukkha), sebab segala sesuatu yang
terkondisi itu adalah tanpa suatu jiwa atau aku yang kekal (Anatta).
D.
Semangat
Misioner
“Pergilah Oh Para Bhikkhu, demi
kebaikan semua, demi kebahagian semua, atas
dasar belah kasih pada dunia, demi kebaikan, keuntungan dan kebahagian
para dewa dan manusia”.
--Sang Buddha—
Ketika
kita membalik halaman sejarah ajaran Buddha, kita mempelajari bahwa para
misioneris buddhis menyebarkan pesan mulia sang Buddha dengan jalan penuh
kedamaian dan terhormat. Misi penuh damai semacam itu semestinya membuat malu
mereka yang melakukan metode kekerasan dalam menyebarkan agama mereka.
Misioneris
buddhis tidak belomba dengan umat beragama lain dalam mengubah orang diluar
sana. Tidak ada misionaris atau biarawan buddha yang berfikir untuk membabarkan
niat buruk terhadap orang ‘yang tidak percaya’. Intoleransi agama, budaya, dan
bangsa bukanlah prilaku orang yang terisi dengan semangat buddhis sejati.
Agresi tidak pernah disetujui dalam ajaran Buddha. Dunia telah berdarah dan
cukup menderita akan penyakit dokmatisme, panatisme agama, dan intoleransi.
Baik dalam agam maupun politik, orang dengan sengaja membawa manusia untuk
menerima jalan hidup mereka sendiri. Dalam melakukan hal ini, kadang-kadang
menunjukkan permusuhan mereka terhadap pengikut agama lain.
Ajaran
Buddha tidak pernah bertentangan dengan tradisi dan adat nasional, seni, dan
budaya orang yang menerimanya sebagai suatu jalan hidup, tetapi membiarkan
mereka tetap ada dan mendorong perbaikan lebih lanjut. Pesan sang Buddha tentang cinta dan belas
kasih membuka hati orang dan mereka mau menerima ajaran tersebut, dengan
demikian membantu ajaran agama Buddha menjadi agama dunia. Misionaris buddhis
diundang oleh berbagai negara yang menyambut mereka dengan rasa hormat. Ajaran
buddha tidak pernah diperkenalkan kenegara manapun melalui pengaruh penjajahan
atau kekuasaan politik lainnya.
Ajaran
Buddha adalah kekuatan spritual pertama yang kita ketahui dalam sejarah yang
mampu mempererat sejumlah besar ras yang terpisahkan oleh hambatan jarak,
bahasa, budaya, dan moral. Motifnya bukanlah perebutan perdagangan
internasional, pembangunan kekaisaran atau nafsu pendudukan daerah baru.
Tujuannya adalah untuk menunjukkan bagaimana orang dapat memperoleh lebih
banyak kedamaian dan kebahagiaan melalui praktek Dhamma.
Contoh
yang baik, dari kualitas dan pendekatan misionaris buddhis adalah kaisar asoka.
Pada masa Kaisar Asoka ajaran Buddha menyebar kebanyak negara asia dan barat.
Kaisar Asoka mengutus misionaris buddhis keberbagai belahan dunia untuk
memperkenalkan pesan sang Buddha. Asoka menghormati dan mendudkung setiap agama
pada masa itu. Pengertiannya terhadap agama lain sungguh mengesankan. Salah
satu kutipannya tertatah pada batu dipilar Asoka dan masih berdiri di India
hingga kini.
“seseorang sebainya tidak hanya
menghormati agamanya sendiri dan mengutuk agama lain, tetapi seseorang
sebaiknya enghormati agama lain dengan alasan tertentu. Dengan berbuat
demikian, seseorang membantu agama sendiri untuk tumbuh dan menyumbangkan jasa
bagi agama lain. Dengan berbuat sebaliknya, seseorang manggali kubur bagi
agamanya sendiri dan juga menyakiti agama lain. Barang siapa yang menghormati
agamanya sendiri dan mengutuk agama lain, melakukannya melalui pemujaan
terhadap agamanya sendiri, berfikir, ‘saya akan memuliakan agama saya sendiri’
namun sebaliknya, dengan berbuat demikian ia justru melukai agamanya sendiri
dengan lebih parah; maka kerukunan itu baik adany. Biarkan semua mendengar dan
berniat mendengarkan ajaran yang dianut oleh orang lain”.
Sekitar
tahun 268 SM, beliau membuat doktrin Sang Buddha menjadi suatu kekuatan yang
hidup di india. Rumah sakit, lembaga pelayanan sosial, universitas untuk pria
dan wanita, kesejahteraan umum, dan pusat rekreasi bersemi dengan gerakan baru
ini, dengan demikian orang menyadari kejamnya perang berdarah.
Zaman
keemasan dalam sejarah India dan negara-negara Asia lainnya adalah masa ketika
seni, budaya, pendidikan, dan peradaban mancapai puncaknya. Ini terjadi pada
masa umat Buddha merupakan pengaruh terbesar di negara-negara ini. Perang suci,
perusakan pengejaran, dan diskriminasi agama tidak mencemari masa-masa negara
buddhis. Inilah sejarah mulia umat manusia yang benar-benar dibanggakan.
Universitas besar Nalanda India yang tumbuh subur sejak abad ke-2 sampai ke-9
merupakan produk ajaran Buddha. Ini adalah universitas pertama dalam sejarah
yang kita ketahui dan dibuka untuk siswa internasioanal.
Pada
masa lalu, ajaran Buddha mampu berada dibanyak negara belahan timur, walaupun
komunikasi dan transportasi masih sulit dan orang harus menyeberangi bukit dan
gurun. Dalam rintangan yang sulit ini, jaran Buddha menyebar jauh dan luas.
Kini pesan dhamma ini menyebar ke barat. Orang barat tertarik pada ajaran
Buddha dan percaya bahwa ajaran Buddha adalah satu-satunya agama yang selaras
dengan pengetahuan modern.
Misionaris
Buddhis tidak memilki keinginan atau bernafsu untuk mengubah orang yang telah
memiliki agama yang layak untuk dijalani. Jika orang puas dengan agamanya
sendiri, maka tidak ada keperluan bagi misioneris Buddhis untuk mengubah
mereka. Mereka mendukung penuh misioneris ajaran lain jika gagasannya adalah
untuk mengubah orang-orang jahat, kejam, dan tak beradab menjadi menjalani
hidup religius. Umat Buddha bahagia melihat kemajuan agama lain sepanjang mereka
benar-benar menolong orang lain untuk menjalani kehidupan religius menurut
keyakinan mereka serta menikmati kedamaian, harmoni, dan pengertian. Sebaliknya
misioneris Buddhis menyesalkan tingkah laku misionaris tertentu yang menggangu
pengikut agama lain karena tidak ada alasan bagi mereka untuk membuat suasana
kompetisi yang tidak sehat untuk mengubah agama jika tujuan mereka murni hanya
untuk mengajari orang untuk menjalani kehidupan religius.
Dalam
memperkenalkan Dhamma kepada orang lain, misionaris Buddhis tidak pernah
mencoba untuk menggunakan pernyataan khayalan yang dilebih-lebihkan yang
menggambarkan hidup surgawi untuk menaruh keinginan orang dan membangkitkan
hasrat mereka. Sebaliknya, mereka mencoba untuk menjelaskan sifat sejati
manusia dan kehidupan adiduniawi seperti yang diajarkan Sang Buddha.
E. Agama Yang Tepat
Agama apapun yang mengandung hal-hal
semacam empat kebenaran arya dan jalan arya beruas delapan, dapat dianggap
sebagai yang tepat.
Sangat sulit untuk mengetahui
kenapa ada begitu banyak agama dan agama man yang benar. Pengikut setiap agama
mencoba menunjukakan keunggulan agama masing-masing. Perbedaan melahirkan
beberapa bentuk pengembangan. namun
dalam hal agama, orang memandang satu sma lain dengan kecemburuan, kebencian
dan penghinaan. Praktek religus yang palng dihormati pada satu agama dianggap
menggelikan oleh yang lain. Untuk memperkenalkan kehebatan dan pesan perdamaian
bebrapa orang telah mengambil jalan dengan senjata dan perang. Apakah mereka
tidak malah mencemari nama baik agama? Tampaknya agama-agama tertentu justru
mangakibatkan perpecahan alih-alih persatuan umat manusia. Saat ini kita
mengetahui banyak agama yang mendorong pengikutnya utuk membenci agama lain,
tetapi hanya segelintir agama yang mendorong penghormatan pada agama lain.
Setiap agama mengajarkan tentang kasih, tetapi kenapa suatu agama tidak bisa
mengasihi agama lain?
Untuk
menemukan agama yang sejati dan tepat kita harus menimbang dengan pikiran yang
tidak berat sebelah apakah sebenarnya agama yang salah. Agama atau filosofi
yang salah mencakup: materialisme yang menyangkal kelangsungan hidup setelah
kematian; amoralisme yang menyangkal kebaikan dan kejahatan agama yang
menyatakan bahwa manusia secara ajaib diselamatkan atau dihukum; evolusia
keilahian yang berpegang bahwa segala hal sudah ditakdirkan dan semua orang
ditakdirkan untuk mencapai pengampunan akhir melalui iman belaka.
Ajaran
Buddha bebas dari dasar-dasar yang tidak memuaskan dan tidak pasti. Ajaran
Buddha adalah realiatas dan dapat dibuktikan. Kebenarannya telah dibuktikan
oleh sang Buddha, dibuktikan oleh murid-murid-Nya, dan selalu tetap terbuka dan
dibuktikan pleh siapapun yang ingin membuktikkannya dan saat ini ajaran Buddha,
sedang dibuktikan oleh metode penyelidikan ilmiah yang paling hebat.
Sang
Buddha menasehatkan bahwa bentuk agama apapaun adalah tepat jika mengandung
empat kebenaran arya dan jalan mulia beruas delapan. Hal ini menunjukkan dengan
jelas bahwa sang Buddha tidak ingin membentuk agama tertentu. Yang ia inginkan
adalah mengungkapkan kebenaran sejati hidup kita dan dunia. Walaupun Sang
Buddha menjelaskan empat kebenaran arya dan jalan mulia berunsur delapan dengan
terperinci, metode ini bukan milik umat Buddha saja. Hal ini adalah kebenaran
universal dan terbuka bagi siapa saja yang ingin memahami kondisi manusia dan
mencapai kebahagiaan.
Kebanyakan
orang merasa perlu untuk mengajukan argumen untuk ‘membuktikan’ kesahihan agama
yang mereka ikuti. Beberapa orang menyatakan bahwa agama mereka adalah agama
tertua, maka itulah yang benar. Yang lain menyatakan bahwa agama mereka adalah
agama terakhir atau terbaru, maka itulah yang benar. Beberapa menyatakan bahwa
agama mereka punya pengikut paling banyak maka itulah yang benar. Tetapi tidak
satupun argument ini yang sahih untuk menetapkan kebenaran suatu agama.
Seseorang dapat menilai suatu agama hanya dengan menggunakan akal sehat dan
pengertian. Beberapa tradisi agama mengharuskan manusia untuk tunduk pada
kekuatan yang lebih besar dari
dirinya, kekuatan yang mengatur dan mengendalikan ciptaanya, tndakannya, dan
pembebasan akhirnya. Sang Buddha tidak menerima kekuatan semacam itu tetapi
beliau memberikan kekuatan dahsyat tersebut kepada manusia dengan menyatakan
bahwa setiap orang pencipta dirinya sendiri dan bertanggung jawab akan
keselamatannya sendiiri. Itulah sebabnya dikatakan bahwa: “tak seoarangpu yang
sangat tak bertuhan seperti sang Buddha, namun tak seorangpun yang sangat
serupa tuhan seperti Sang Buddha”. Agama Buddha menberikan martabat yang besar
bagi manusia; sekaligus memberinya tanggung jawab yang besar. Umat Buddha tidak
melemparkan kesalahan pada kekuatan eksternal ketika sesuatu yang buruk menimpa
dirinya. Tetapi mereka dapat menghadapi kemalangan dengan keseimbangan batin
karena mereka tahu bahwa mereka mempunya kekuatan untuk melepaskan dirinya
sendiri dari semua kesengsaraan.
Salah
satu alasan mengapa ajaran buddha menarik bagi kaum intelektual dan mereka yan
berpendidikan tinggi adalah abahwa sang Buddha dengan jelas melarang
pengikutnya untuk menerima semua hal yang mereka dengar tanpa menguji
kesahihannya lebih dahulu (bahkan sekalipun hal itu datang dari Sang Buddha).
Ajaran Buddha tetap dan bertahan dengan tepat karena kaum intelektual telah
menantang setiap aspek ajaran ini dan telah menyimpulkan bahwa sang Buddha
selalu mengucapkan kebenaran yang tak terbantahkan. Sementara ahli-ahli agama
lain mencoba untuk mempertimbangkan kembali ajaran penemunya dalam pandangan
pengetahuan modern tentang alam semesta, ajaran Buddha justru menjadi acuan dan
dibuktikan para ilmuan.
F.
Keyakinan
Versus Kepercayaan
Keyakinan
dan kepercayaan merupakan dua kata yang sangat mirip dalam pengartianya, banyak
orang awam mengartikan sebagai dua kata yang memiliki arti yang sama, dimana
yakin bisa dikatakan percaya dan percaya bisa dikatakan yakin. Namun jika dikaji
dari makna katanya sesuai dengan pengertian dan pandangan yang benar, arti
keyakinan disini bukan berarti kepercayaan yang membabi buta atau asal percaya
begitu saja, akan tetapi merupakan “suatu
keyakinan yang didasarkan pada pengertian yang muncul karena bertanya dan
menyelidiki” (S. V, 226). Karena keyakinan itu muncul akibat pengertian,
maka keyakinan umat Buddha pada sesuatu yang diyakini tidaklah sama
kualitasnya. Tidak ada pengertian yang sama pada orang yang berbeda-beda dan
akibatnya kualitas keyakinan setiap individu berbeda.
Yang disebut keyakinan adalah mengetahui suatu hukum kebenaran
dengan jelas, sedangkan kepercayaan hanyalah karena menganggap suatu itu benar,
tetapi tidak disertai dengan suatu bukti-bukti atau penglihatan lengkap.
Seperti halnya pada zaman nenek moyang terdahulu, mereka mempunyai kepercayaan
untuk dijadikan keyakinan mereka seperti kepercayaan animisme dan dinamisme
yang dijadikan sebagai tempat berlindung dan memohon kebahagian bagi mereka, akan
tetapi kepercayaan yang mereka yakini belumlah mereka buktikan kebenaran.
Setiap agama apapun bersendikan Ketuhanan Yang Maha Esa, meskipun
pengertian dan makna yang diberikan oleh tiap agama terhadap Tuhan Yang Maha
Esa berlainan antara agama yang satu dengan agama yang lainnya. Agama Buddha
yakin dengan adanya Tuhan. Keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa tidak sam
dengan keyakinan terhadap adanya Benua Amerika atau keyakinan terhadap bentuk
dunia yang bulat.
Daftar pustaka
- Krishnanda
Wijaya Mukti. 2006. Wacana Buddha Dhamma. Yayasan Dharma Pembangunan: Jakarta
- Sri Dhammananda. 2005. Keyakinan Umat Buddha.
Ehipassiko Foundation: Jakarta
- Tim Penyusun
Departemen Agama Buddha SLTA Kelas I. 2006. Buku Pelajaran Pendidikan Agama
Buddha. Paramita: Surabaya
- Sumber
Primer
[1] Lihat Eka Dharma
Putra, Etika Sederhana Untuk Semua,
Perkenalan Pertama,Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993, hlm.3.
[3] H.M.Arifin, menguak Misteri Ajaran Agama-agama Besar, Jakarta: Golden Terayon Press, 1990, catakan
ke-3
[5] Jalan
Menuju Lenyapnya Dukkha Pengertian Benar, Pikiran Benar, Ucapan Benar,
Perbuatan Benar, Mata Pencaharian Benar, Daya Upaya Benar, Perhatian Benar,
Samadhi Benar.
[6] Phra
Fidhu Rdhammabhorn, Ajaran Bagi Pemula, Bandung:
Yayasan Bandung Sucinno Indonesia, 1992, hlm.164
[7] Teja S.
M. Rashid, Dhamma,Arti Kata dan
Pengunaannya Dalam Agama Buddha, Jakarta: Penerbit Buddhis Bodhi, 1996,
hlm.43 dan 51
[8] Lihat Corneles Wowor, Herman S. Endro Hudoyo Hupudiyo,
buku Materi Pokok Pendidikan Agama
Buddha, modul 1-3, Jakarta: Universitas terbuka, 1985, Hlm.36-38.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar