Wikipedia

Hasil penelusuran

Senin, 22 Juni 2015

kemurahan hati



Pengantar
Seseorang mungkin bertanya dengan baik, “mengapa kita harus berbuat baik? Tidak cukupkah bahwa kita tidak berbuat jahat dan menyakiti sesama?” dalam kehidupan kita yang tak terhitung banyaknya sejak dari masa lampau kita telah mengumpulkan banyak karma (perbuatan) buruk yang cenderung mengaburkan (menciptakan masalah dalam) kehidupan kita sekarang. Dalam Angutara Nikaya Buddha mengajarkan cara untuk mengurangi efek karma buruk masa lalu tersebut, yaitu dengan menciptakan banyak karmma baik dalam kehidupan sekarang. Beliau mengumpamakan karmma buruk dengan segenggam garam dan karma baik dengan air. Jika segenggam garam dimasukan dalam secangkir air, maka air itu akan menjadi asin, tetapi jika garam itu dimasukan kedalam air sungai, maka rasa asinnya akan menjadi nyaris hilang. Demikian pula, karma baik yang dilakukan sekarang mengecilkan efek karma buruk masa lampau-kecuali karma buruk yang teramat besar, contohnya membunuh orang tua kandung.
Kinerja perbuatan baik menghasilkan jasa kebaikan (punna), suatu sifat yang memurnikan pikiran. Jika pikiran tidak diperiksa, pikiran cenderung dikuasai kecenderungan jahat, menyebabkan seseorang melakukan perbuatan buruk dan jadi bermasalah. Kebaikan penting untuk menolong kita selama perjalanan hidup kita. Kebaikan berhubungan dengan apa yang baik dan bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain, dan dapat meningkatkan kualitas pikiran. Buddha mengatakan bahwa suatu perbuatan jahat kecil yang dilakukan oleh orang yang mempunyai kebajikan (berkah atau pahala) kecil akan membawanya kealam kelahiran kembali yang menyedihkan, sementara perbuatan yang sama yang dilakukan oleh orang yang memiliki banyak kebajikan berbuah dalam kehidupan ini dan bahkan suatu akibat kecil pun tidak memanifestasikan dirinya setelah kematian. Ini benar-benar seperti kasus seorang miskin yang terjeblos kedalam penjara karena mencuri satu dolar, sepuluh dolar, atau seratus dolar, sementara orang kaya tidak terjeblos kedalam penjara karena pencurian yang sama persis.
Kebaikan adalah fasilitator yang hebat: kebaikan membuka pintu kesempatan dimana-mana. Seorang yang baik akan sukses dalam usaha apapun yang ia lakukan. Jika ia ingin melakukan bisnis, ia akan bertemu dengan orang dan rekan yang tepat. Jika ia ingin menjadi pelajar, ia akan diberi beasiswa dan didukung oleh para pembimbing akademik. Mimpinya akan terwujud melalui harta kebaikannya. Kebaikan lah yang memungkinkan seseorang terlahir kembali disurga dan memberinya kondisi dan dukungan yang tepat untuk pencapaian Nibbana.
Ada beberapa ladang yang subur akan kebaikan yang menimbulkan hasil yang berlimpah bagi pelaku perbuatan baik itu. Suatu perbuatan baik yang dilakukan terhadap orang tertentu dapat menghasilkan lebih banyak kebaikan daripada terhadap orang lain. Ladang kebaikan yang subur ini termasuk Sangha atau orang suci, ibu, ayah, dan fakir miskin. Perbuatan baik yang dilakukan pada kelompok orang ini akan terwujud dalam banyak cara menjadi sumber hasil yang berlimpah.
    A.      Kemurahan hati
Memajukan kemanusiaan, peradaban dan perdamaian menghendaki belas kasih dan kepedulian manusia yang bertanggung jawab. Orang yang memiliki kelebihan harus dapat membagikan kelebihanya kepada yang kekurangan. Orang yang lebih pintar membimbing orang yang kurang pintar. Orang yang memiliki kekuasaan melindungi orang-orang lemah yang tak berdaya. Orang yang kaya dapat membagi hartanya kepada orang yang miskin. Betul kaya adalah lawanya miskin, tetapi orang kaya bukan musuh bagi orang miskin. Tidak seperti orang jahat yang harus dihindari oleh orang baik. Orang kaya dan miskin dapat bersahabat dan seharusnya tolong menolong. Orang tua dan muda dapat saling mencintai dan menghargai. Orang dapat memilih segala yang besar, dengan tidak mengabaikan apa yang kecil. Pengusaha yang besar yang kuat tidak bersikap mentang-mentang dan dapat membina mereka yang kecil atau lemah.
Kemurahan hati adalah tindakan moral memberikan kepemilikan. Perbuatan berdana memberikan peranan penting didalam budhisme, karena keserakahan, kebencian dan ketidak tahuan telah dilenyapkan untuk tujuan tertinggi yaitu pembebasan dari samsara. Dengan kemurahan hati, baik keserakahan dan kebencian, keduanya bisa dilenyapkan. Besarnya kebajikan bervariasi berdasarkan tiga faktor, yaitu motif dari tindakan berdana itu, kesucian berdana, dan jenis dana yang diberikan.
Untuk dapat membuat hidup seseorang lebih baik, sekaligus menciptakan dunia yang damai, sebagaimana dikemukakan kepada kutadanta, Buddha mengajarkan suatu bentuk  pengorbanan sosial yang menghasilkan kesejahteraan bagi orang banyak. Ia menukar kurban bagi para dewa menjadi kurban bagi rakyat kecil yang membutuhkan pertolongan (D. I, 127-136). Cara beribadah yang lebih baik dari memuja dengan mempersembahkan materi (Amisa-Puja) dengan bunga, dupa dan sesajian adalah cara memuja dengan melakukan praktek (Patipati-puja), menjalankan apa yang diajarkan oleh Buddha dalam kehidupan sehari-hari (A. I, 93). Memuliakan Tathagata dengan penghormatan tertinggi adalah memenuhi semua kewajiban besar dan kecil, hidup lurus, melaksanakan dhamma (D. II, 138).
Perbuatan memberi (Pali: dana) merupakan satu langkah awal yang penting di dalam praktek Buddhis. Jika dipraktekkan tersendiri, perbuatan berdana ini merupakan landasan jasa kebajikan atau karma baik. Jika dibarengi moralitas, konsentrasi dan kebijaksanaan, dana akhirnya menghasilkan pembebasan dari samsara–lingkaran tumimbal lahir. Bahkan mereka yang sudah mantap di jalan pembebasan pun tetap selalu mempraktekan dana, karena perbuatan ini membuahkan kekayaan, keelokan dan kegembiraan di dalam sisa hidup mereka. Para Bodhisatta melengkapi danaparami (kesempurnaan dana) sampai tingkat tertinggi, rela memberikan anggota tubuh dan bahkan kehidupan mereka, untuk membantu mahluk-mahluk lain. Untuk mengikuti jalan bodhisattva, seseorang harus mempraktekan kesempurnaan dalam kemurahan hati (dana), sila, kesabaran, ketekunan, meditasi dan kebijaksanaan. Dengan mempraktekkan kesempurnaan dalam kemurahan hati, sila, dan kesabaran, bodhisattva mendapatkan buah jasa kebajikan. Dengan mempraktekan kesempurnaan meditasi dan kebijaksanaan, ia mencapai pengetahuan transendental.
Bodhisatva mempraktekkan kesempurnaan dalam kemurahan hati untuk menghilangkan nafsu dan keserakahan. Ia memberi tidak untuk mendapat pahala dan tanpa pemikiran untuk memperoleh penghargaan ayas perbuatan amalnya. Dengan pikiran seperti ini, bodhisattva mampu memberikan kekayaan, harta benda, dan bahkan hidupnya sendiri tanpa rasa kehilangan. Seperti halnya semua perbuatan baik, berdana akan memberikan kebahagiaan pada kita di masa depan, sesuai dengan Hukum Karma tentang sebab-akibat yang diajarkan oleh Sang Buddha. Berdana menghasilkan manfaat di dalam kehidupan sekarang dan dalam kehidupan-kehidupan yang akan datang, tak peduli apakah kita sadar akan kenyataan ini atau tidak. Tetapi jika niat itu dibarengi dengan pemahaman, kita dapat dengan pesat meningkatkan jasa kebajikan yang diperoleh lewat pemberian kita.
   B.      Pengorbanan
Pengorbanan dalam agama Buddha menyangkut paramita atau kesempurnaan yang harus dipraktekan oleh semua calon Buddha. Mereka berkorban karena dorongan hati nurani. Mereka tidak hanya mengorbankan barang-barang yang dimiliki bahkan juga mengorbankan jiwa-jiwa dan raganya sendiri. “Korbankanlah dirimu, dan itu adalah kewajibanmu sendiri; jangan menunggu perintah orang lain (Sang-hyang Kamahayanikan 32). Sekalipun pengorbanan itu menurut orang lain merupakan suatu penderitaan, ia sendiri tidak merasakannya sebagai penderitaan. Ia justru merasa bahagia dan tidak pernah menyesali pengorbananya. Orang berkorban dengan keikhlasan. Ketulusan menghasilkan kegembiraan dan kepuasan dalam memberi. Memberi baginya bukanlah kehilangan. Dengan memberi sesungguhnya ia menanam, dan pada waktunya kelak orang yang menanam akan memetik hasil dari apa yang pernah ditanamnya. Kemurahan hati adalah member sesuatu tanpa memberi sesuatu tanpa mengharapkan apapun sebagai imbalan pemberian itu. Perbuatan murah hati Sangat dijunjung tinggi dalam setiap agama. Mereka yang berkecukupan dalam hidup sebaiknya memikirkan orang lain dan memperluas kemurahan hatinya bagi yang memerlukan. Tetapi jika dalam memberi seseorang itu mempunyai niat member karena ingin menarik perhatian orang lain agar dapat mengikuti agamanya hala itu bukan disebut kemurahan hati.
Orang-orang akan memberi sesuai dengan keyakinan mereka dan menurut kesenangan mereka. Barang siapa terpaksa memberi tanpa kerelaan ia dinamaikan korban keterpaksaan. Ia menjadi korban, ia kehilangan. Dalam setiap pelaksanaan pembangunan selalu ada pengorbanan tetapi bukan berarti harus ada korban pembangunan. Apabila ada anggota masyarakat yang berkorban melepaskan haknya atas sebidang tanah untuk pembangunan misalnya, maka seharusnya pengorbanan itu membawa dampak kemakmuran yang kemudian dapat dirasakan oleh mereka yang berkorban itu.
    C.      Makna berdana
                Dalam penggunaan bahasa sehari-hari apa yang disebut dana adalah pemberian, derma atau hadiah. Sebagai paramita, dana diartikan kemurahan hati. Berdana dalam perspektif buddhis bukan hanya sebatas member santunan kepada orang miskin. Sementara Buddha dan para bhikkhu mendapat penghormatan dari para raja dan orang-orang kaya, mereka malah mengunjungi orang-orang miskin untuk menerima persembhan makanan (pindapata). Kenapa Buddha menerima dana dari orang miskin? Dengan mengajarkan kepada orang-orang miskin agar mau dan bisa memberi, Buddha menuntun mereka untuk mengubah nasibnya. Sesuai dengan hukum karma, orang dilahirkan miskin karena dalam kehidupan sebelumnya ia tidak suka berdana.
                Berdana adalah melepas sesuatu yang dimiliki dengan tulus ikhlas demi suatu tujuan yang baik. Perbuatan yang semata-mata merupakan kemurahan hati ini tidak mengharapkan imbalan. Sebagai praktek mengikis keserakahan dan keakuan, berdana tidak diartikan membagi kelebihan (sehingga hanya yang berkelebihan saja yang pantas berdana), tetapi melepaskan pemilikan pribadi yang membelenggu Sang aku. Tidak ada perbedaan antara golongan kaya atau miskin, karena setiap orang dapat memberi sesuai dengan kemampuan yang ada padanya. Selain member sumbangan dalam bentuk uang atau materi, orang dapat menyumbangkan tenaga, pikiran dan sebagainya. Member maaf juga salah satu cara berdana. Perlu disadari bahwa dana kebenaran (Dhamma –dana), yang bersifat rohani, kekuatan moril dan keilmuan dinyatakan lebih unggul dari dana materi (Amis-dana). Dana kebenaran mengalahkan segala dana lain, rasa kebenaran mengalahkan rasa lain, kegembiraan dalam kebenaran mengalahkan segala kegembiraan lainya (Dhp. XXIV, 354). Membantu orang miskin pun tidak cukup dengan berdana materi, tetapi akan lebih baik dengan memperbaiki sikap mental mereka, meningkatkan kemampuan atau kecakapannya dan membuka peluang untuk usaha mereka. Berilah kain, bukan ikanya, begitu kata pepatah.
                Selain mencampakkan keserakahan dan keakuan, sasaran berdana juga sekaligus mengembangkan kasih. Sebagai praktek mengembangkan cinta kasih, memberi dana itu menolong orang lain yang sedang menderita kekurangan. Orang kaya jelas harus menolong orang yang miskin dan orang yang pintar menolong yang bodoh. Sehubungan dengan cinta kasih ini orang menyumbangkan darah, mengorbakan anggota badanya bahkan nyawanya untuk kebahagiaan orang lain (Ajjhatika-dana). Terdorong oleh cinta kasihnya manusia memlihara dan melindungi segala bentuk kehidupan, membebaskan burung atau hewan-hewan lain dari kurungan, menebar benih ikan dan sebagainya (Abhaya-dana). Seseorang tidaklah berdana dengan sekedar melepaskan miliknya dan memberi kepada pihak lain. Memberi bisa dilihat dari transaksi semacam jual beli, dengan pikiran “ia pun memberi kepadaku” atau “ ia pun akan memberi kepadaku.” Orang yang tamak mengharapkan akan menerima lebih banyak. Mungkin pula seseorang melepaskan kepunyaannya karena bodoh, missal tertipu, karena dorongan rasa takut atau malu, karena jengkel, karena perasaan tidak pantas bila tidak memberi, karena melanjutkan kebiasaan atau tradisi orang-orang terdahulu, karena mengharapkan nama baik. Atau seseorang memberi karena pikiran bahwa itulah perbuatan yang baik, memberi itu memperkaya dan melembutkan batin, mendatangkan kegembiraan dan ketenangan, mengharap bahwa kelak akan lahir disurga, atau bisa saja seseorang memberi karena spontan terdorong oleh rasa yang penuh kasih. (A. IV, 235-236). Hasil berdana dinyatakan sebagai berikut: (1) pemberi dana akan disenangi dan dikasihi oleh orang banyak (mengikat persahabatan); (2) orang-orang yang baik dan bijaksana mengikutinya; (3) namanya harum; (4) dalam lingkungan pergaulan apapun penuh kepercayaan diri dan tidak akan mengalami kesulitan; (5) sesudah meninggal dunia akan terlahir di alam surga. Empat hal yang pertama adalah kenyataan yang bisa kita temukan dalam hidup sehari-hari. Sebagaimana komentar Jendral Siha, tanpa menaruh keyakinan kepada Buddha keempat hal itu akan dialami oleh orang yang banyak memberi. Tetapi tentang terlahir dialam surga, itulah yang memerlukan keyakinan kepada ajaran Buddha. (A. III, 38).
   D.      Dana yang terbaik
Pemberian dana yang dilakukan atas dorongan orang lain dinamakan Sankhara-dana dan dinilai tidak semulia dengan pemberian yang diakukan atas kehendak sendiri atau Asankhara-dana. Pemberian dana yang dilakukan penuh dengan kesadaran karena memahami benar kepentingan atau buah akibatnya akan menghasilkan kemajuan batin. Sebagai perbuatan (kamma), berdana dtandai kehendak (Cetana) seseorang yang meliputi perasaan senang atau gembira baik sebelum member dana (Pubba-cetana), atau pada saat memberi (Munca-cetana), dan sesudah memberi dana (Apara-cetana). Dengan terpenuhinya ketiga faktor itu, yang menunjukan keikhlasan hati, perbuatan tersebut dapat menghasilkan buah kebajikan yang sepenuhnya. Pemberian dana untuk orang yang berbeda tidak menghasilkan buah yang sama. Ketika Raja Pasenadi bertanya tentang dana yang paling besar pahalanya. Buddha menjelaskan bahwa memberi dana itu menghasilkan buah yang besar bila ditujukan kepada orang yang baik prilakunya, bukan kepada orang yang buruk prilakunya. Sebagaimana seorang raja yang menggaji dan memberi hadiah kepada prajurit-prajurit yang baik saja, yang membawa kemenangan saat pertempuran. Sebesar apapun ia memberi atau menjanjikan hadiah, kemenang itu tidak akan diperolehnya dengan prajurit yang lemah (S, I, 98). Seperti rumput ilalang yang merupakan bencana bagi sawah ladang, nafsu, kebencian, kebodohan, dan nafsu keinginan merupakan becana bagi manusia. Karena itu dana yang dipersembahkan kepada mereka yang telah bebas dari nafsu, bebas dari kebencian, bebas dari kebodohan dan bebas dari keinginan rendah, akan menghasilakan pahala yang besar (Dhp. 356-359). Pendapat ini jangan disalah artikan untuk melakukan diskriminasi pelayanan sosial atau mempersoalkan kelakuan seseorang yang membutuhkan pertolongan.
Pemberian dana pun tidak dibatasi untuk golongan sendiri. Vacchagotta pernah bertanya, apakah Buddha tidak membenarkan pemberian dana untuk golongan lain? Jawab Buddha, “Barangsiapa menghalang-halangi seseorang untuk memberi dana, ia membuat rintangan dan menimbulkan kegagalan dalam tiga hal. Apakah ketiga hal itu? Ia merintangi seseorang yang ingin berdana sehingga gagal memperoleh perbuatan baiak. Ia menghalangi orang yang seharusnya menerima sehingga gagal memperoleh dana tersebut. Ia pun menjatuhkan dirinya sendiri.” Ujar Buddha selanjutnya “meski orang membuang sisa makanan dari cucian priuk atau bilasan mangkuk kedalam sebuah tambak, seraya mengharapkan barangkali ada makhluk hidup didalamnya dapat memperoleh makanan, aku nyatakan perbuatan ini pun merupakan sumber dari saja kebaikan, apalagi dana yang diberikan kepada sesame manusia. Namun adalah benar Vaccha, aku nyatakan, bahwa dana yang diberikan kepada mereka yang berbudi luhur menghasilkan buah yang besar, tidak sedemikian halnya bila diberikan kepada orang yang tidak bermoral “ (A. I, 161). Pemberian orang yang baik (Sappurisa-dana) memiliki sifat-sifat sebagai berikut: (1) sesuatu yang suci, bersih atau halal (Sucim-deti); (2) barang pilihan yang baik atau layak (Panitam-deti); (3) diberikan tepat waktu, pada waktu yang dibutuhkan, dan dalam batas waktu yang dapat dimanfaatkan oleh orang yang menerimanya (Kalena-deti); (4) sesuatu yang bermanfaat, tidak membahayakan (Kappiyam-deti); (5) memberi secara bijaksana dan penuh perhatian kepada orang yang patut menerimanya (Viceyya-deti); (6) memberi secara tetap, tidak hanya sekali (Abhinham-deti); (7) memberi dengan pikiran yang ikhlas dan tenang (Dadam-cittam-pasa-deti); (8) dengan pemberian tersebut membawa ketentraman (Datva-attamano-hoti) (A. IV, 243).
Bagaimana sikap batin dan cara seseorang menentukan hasil yang akan diperolehnya. Pangeran payasi memberikan dana kepada orang-orang miskin, entah itu pertapa, pengemis, pengembara atau orang-orang lain yang membutuhkan bantuanya. Apa yang didanakan oleh payasi adalah makanan yang tidak mau ia sentuh apalagi dimakannya sendiri, pakaian yang terbuat dari kain kasar yang tidak mau ia gunakan sendiri walau sebagai lap kaki sekalipun. Ia tidak turun tangan sendiri ketika memberikan dana, kurang perhatian, kurang perduli. Diantara orang yang menerima dananya ada seorang pemuda, Uttara namanya. Ia mengkritik payasi, sehingga mendapat dana yang sama dengan apa yang dimakan dan dipergunakan oleh Sang pangeran. Uttara mengatur pembagian dana dari apa yang diperolehnya. Setelah meninggal dunia Sang pangeran payasi terlahir di istana surga Catummaharajika yang kosong. Sedangkan uttara terlahir disurga Tavatimsa, menikmati kemuliaan yang jauh melampaui payasi (D. II, 354-357). Selain Sappurisa-dana yang sudah disebutkan diatas, suatu bentuk pemberian akan memberi hasil yang sebaik-sebaiknya bagi seseorang yang berdana jika memenuhi lima hal, yaitu: (1) ia memberi dengan hormat; (2) memberi dengan pikiran yang terarah; (3) melakukannya dengan tangan sendiri; (4) apa yang didanakan adalah barang-barang yang baik; (5) ia berdana dengan menyadari benar manfaatnya sesuai dengan hukum karma. Dengan menyadari manfaat berdana ini berarti seseorang memberi dengan keyakinan (A. III, 172).
    E.       Jenis dana
Terdapat tiga jenis dana dalam buddhisme, yaitu: Amisa dana, Abhaya dana dan Dhamma dana. Amisa dana, berarti memberikan Catu paccaya, yaitu makanan, jubah, obat dan tempat bernaung untuk para bhikkhu, dan empat barang materi tersebut untuk umat awam. Dengan memberikan barang tersebut pemberi tidak hanya menyenangkan penerima tetapi pemberi juga akan mendapatkan suatu kebahagiaan. Selain itu penerima akan mendapatkan usia panjang, kacantikan, kebahagiaan dan kekuatan.sementara itu, dipihak lain pemberi juga dapat mengikis keserakahan dan keegoisan. Keseluruhan materi untuk diberikan atau didanakan disebutkan didalam Niddesa (Nd. 2.523).  Didalam Niddesa disebutkan dana berupa jubah, makanan, tempat tinggal, obat, dan kebutuhan pokok lainnya bagi orang sakit, makanan, minuman, juba, kendaraan, rangkaian bunga, wewangian, salep, tempat tidur, rumah dan lampu penerangan. Memberikan jasa, tenaga, waktu, dan berbagai keterampilan bagi seseorang untuk menolong orang atau untuk membantu institusi dan pengabdian untuk kepentingan organisasi sosial, keagamaan, juga termasuk di dalam jenis dana.
Abhaya dana, adalah tindakan yang dilakukan untuk menghilangkan ketakutan seseorang dari api, air, musuh atau bahaya-bahaya lainya. Menyelamatkan nyawa binatang yang akan dibantai, menolong seseorang yang sedang tertekan, membebaskan dengan jaminan tahanan-tahanan yang sedang dipenjara dan orang-orang yang sedang ditahan dipenampungan, menyembuhkan pasien-pasien yang sedang menderita sakit dan ketidak nyamanan, atau bahkan sebuah tindakan sepele seperti melepaskan burung juga merupakan Abhaya dana. Pemberi Abhaya dana akan memperoleh panjang umur dan tidak memiliki musuh.
Dhamma dana, adalah menolong atau membantu seseorang dalam perkembangan spiritual. Dengan mengetahui Dhamma, maka orang itu memahami apa yang baik dan apa yang buruk. Karena itu, pemberian ini dikategorikan sebagai pemberian yang tertinggi. (Sabba danam dhannadana jinati). Mengajarkan Dhamma mengadakan kelas dan sekolah Dhamma, menulis buku tentang subjek keagamaan, serta membantu penyebaran agama dengan cara apa pun juga, adalah merupakan Dhamma dana. Pati-pati puja yang juga termasuk di dalam Dhamma dana ini, pada dasarnya adalah menjalankan sila atau bermeditasi.
‘Sabbadanam dhammadanam jinati-sabbarasam
dhammarasojinati. Sabbaratim dhammarati jinati. Tanhakkhayo
sabbadukkham jinati’
(Dhp. 354)
Pemberian Dhamma melampaui semua pemberian. Rasa dhamma melampaui semua rasa. Kegembiraan dalam Dhamma melampaui segala bentuk kegembiraan. Penghancuran nafsu keinginan mengatasi semua bentuk penderitaan atau ketidakpuasan.
   F.       Cara berdana

1.       Memberi dana dengan tangan sendiri
Saat kita berdana, berilah dengan tangan kita sendiri. Keterlibatan diri dalam kegiatan memberi adalah Sangat penting. Karma dihasilkan dalam pikiran kita. Berdanalah dengan bijak. Maka kita akan menghasilkan kekuatan karma positif yang mengikuti kita dari kehidupan ke kehidupan, seperti bayangan sendiri.
2.       Memberikan sesuatu yang layak untuk diberikan
Selalu memberikan sesuatu yang berguna dan dalam kondisi baik. Kita mesti menghormat dan perduli terhadap orang yang akan menerima dana kita. Kita harus memberikan dana dengan belas kasih dan kebijaksanaan agar pemberian lebih bermakna untuk mereka yang membutuhkan. Kita hendaknya jangan memberikan sesuatu ynag akan dibuang. Sebagian orang membuang sampah ke Vihara, Gereja atau organisasi kesejehteraan dan berpikir akan berguna bagi orang lain. Itu namanya bukan berdana. Jika kita ingin mempraktekan dana, lakukanlah dengan cara yang benar. Jika itu barang elektronik, pastikan dalam kondisi masih berfungsi. Jika itu rusak, perbaikilah terlebih dahulu. Jika itu kotor, bersihkan. Bungkuslah dengan baik dan serahkan kepada pengurusnya. Maka kita akan mendapatkan pahala dan penerima pun juga akan mendapatkan manfaat dari pemberian tersebut.
3.       Berilah dana yang tepat, kepada orang yang tepat, dan pada waktu yang tepat
Bila seseorang sedang lapar, berilah makanan. Itulah hal terbaik yang dapat kita berikan pada saat itu. Ini adalah waktu yang tepat untuk memberi. Bila seseorang sedang sakit, dana ang terbaik adalah perawatan medis. Meskipun kita bukan dokter, tetapi kita dapat membawanya ke dokter. Bantulah dia untuk sembuh. Untuk orang tersesat, arahkan mereka kejalan yang benar. Hiburlah orang yang berada dalam kesedihan. Dhamma adalah obat yang terbaik untuk mereka yang mencari kebenaran. Berilah uang kepada orang yang membutuhkan.
   G.     Tiga hal untuk memenuhi dana
Bagaimana mempraktekan dana dengan cara yang bermakna?
Kondisi apa saja yang perlu dipenuhi?
1.       Kemurnian pikiran
‘kehendak adalah karma’ sabda Buddha. Jika kita tidak memiliki niat untuk memberi, kita tidak dapat mempraktekan dana pikiran harus penuh dengan kebajikan. Selalu memberi dengan bermurah hati. Berbelas kasih lah, dan hargailah orang yang menerima. Penuhi pikiran dengan cinta kasih dan persahabatan. Sadar pada apa yang muncul dalam pikiran. Jangan biarkan pikiran negatif mencemari kemurnian pikiran. Pikiran harus bebas dari amarah, kebencian, niat buruk, keterikatan atau kebodohan batin. Kehendak kita, sebelum, pada saat dan setelah tindakan berdana Sangat penting. Senang sebelum berdana. Pikiran jernih dan murni pada saat berdana. Bergembira atas kebaikan yang telah dilakukan.
Kita mempersembahkan dana kepada para bhikkhu setiap bulan. Pada hari persembahan itu, ada kelompok umat lain juga membawa makanan untuk dipersembahkan kepada para bhikkhu. Kita tidak senang. “mengapa mereka harus datang dan berdana? Ini adalah hari dana kami, mereka seharusnya mendapat izin dari kami lebih dulu. ‘kita kehilangan kemurnian pikiran. Kecemburuan, amarah, keakuan, keserakahan muncul dipikiran kita. Kita berdana dengan pikiran kotor. Ini bukanlah dana yang sempurna. Jika kita adalah orang yang bijaksana, kita akan merasa senang bila orang lain ikut berpartisipasi dalam berdana. Semakin banyak orang bergabung untuk berdana, maka semakin banyak pahala yang kita peroleh. Dengan mendorong orang lain untuk bergabung melakukan perbuatan baik, kita akan selalu mempunyai banyak pengikut dimanapun kita dilahirkan.
Ada orang miskin datang dan memberitahu kita mengenai kesulitan ekonominya, dia mencari bantuan, kita sebagai umat yang memiliki sikap yang baik serta bijaksana maka kita akan menolong orang tersebut. Kita akan memberikan uang kepadanya agar dapat sedikit membantu kekurangan orang tersebut. Tetapi setelah kita memberi, kita berpikiran, “oh, saya dapat mengunakan uang tersebut untuk diri sendiri, saya bisa membeli ini atau itu; saya telah melakukan kesalahan konyol dengan memberinya uang’ keserakahan muncul dan mencemari kemurnian pikiran. Ini bukan dana yang murni.
2.       Kekayaan yang diperoleh dengan cara yang benar
Apapun yang akan kita berikan, haruslah sesuatu yang kita peroleh dengan cara yang benar. Dalam proses mendapatkan kekayaan, kita seharusnya tidak membawa penderitaan dan bencana bagi makhluk hidup lainya. Seseorang dengan usaha narkoba, dia mendapatkan banyak uang dari bisnis ini. Sebuah organisasi sosial meminta bantuanya untuk membangun rumah sakit. Dia mendanakan sejumlah besar uang, jika ia memberi dengan belas kasih, benih kebajikan yang ada dalam pikiran ini akan menghasilkan energy karma baik. Tetapi, kekayaan yang diperoleh tidak murni karena dia menyebabkan banyak penderitaan dan membawa bencana kepada sesama manusia dalam proses mendapatkan kekayaanya. Seseorang sedang sakit, dia tidak memiliki uang untuk berobat. Kita sebagai orang yang bijaksana akan merasa kasihan terhadapnya. Tetapi kita juga tidak memiliki uang, kita masuk kesebuah rumah, mencuri uang dan memberikan kepada dia, walaupun kita penuh belas kasih, hal ini bukanlah dana yang murni. Dalam proses dana ini, kita menciptakan energi karma positif dan negatif.
Buddhisme mendorong kita agar menjadi orang baik, memperoleh kekayaan dengan cara yang benar, berdana dengan belas kasihan dan bijaksana. Demikian dana yang diberikan harus diperoleh secara murni agar bisa memenuhi keberhasilan dan ayang sempurna.
3.       Mereka yang layak untuk menerima
Beberapa orang ingin berdana tetapi mereka tidak tahu kepada siapa dana diberikan. Saat itu, Raja Kosala bertanya kepada Sang Buddha,”Sang bhagava, kepada siapa dana seharusnya diberikan?” raja yang mulia, dana seharusnya diberikan kepada mereka sebagaimana pemberi merasa senang hati”. Jika kita bisa berbahagia dengan memberi, tidak ada masalah kepada siapapun kita berdana. Yang paling penting adalah kebahagiaan yang diperoleh dari pemberian tersebut. Kebahagiaan inilah jasa kebajikan, kekuatan karma inilah yang dapat menimbulkan hasil baik. Kita seharusnya tidak menyesali pemberian dalam bentuk apapun. Kemudian raja bertanya lagi, “ Bhagava yang mulia, pemberian kepada siapa akan mendatangkan hasil yang besar?”. Sang Buddha menjawab, “pemberian yang diberikan kepada Arya akan menghasilkan pahala yang besar.” Beliau menjelaskan lebih lanjut, “Apa yang diberikan kepada para arya (mereka yang telah terbebas dari keserakahan, kebencian, kemalasan dan kelambanan, kegelisahan dan kekhawatiran, keraguan dan mereka yang memiliki moralitas, konsentrasi, kebijaksanaan) akan membuahkan jasa kebajikan yang besar.
Disini, Sang Buddha mengarahkan Sang raja untuk berdana kepada para arya yang telah melenyapkan semua kekotoran batin dan yang telah mencapai kesucian sempurna. ‘nafsu, kebencian, kebodohan batin dan kemelekatan adalah noda manusia. Dana yang diberikan kepada mereka (yang telah terbebas dari noda tersebut) akan menghasilkan pahala yang besar seperti bibit yang ditaburkan di lahan subur, denga jumlah air yang tepat, akan membuahkan hasil yang berlimpah.
H.     Manfaat memberi
Sebagai siswa Sang Buddha kita pasti mengerti bahwa ini bukanlah kehidupan pertama kita. Dan bukan kehidupan yang terakhir. Selama kita masih ada dalam kebodohan, maka kita kan tetap ber-tumimbal lahir di alam samsara. Kekuatan karma yang dihasilkan akan terus mengikuti kita. Kita adalah pencipta diri sendiri, selama kita belum mencapai penerangan sempurna, kita akan tetap berada di dalam lengkaran samsara. Dana menghasilkan kekuatan karma positif yang akan menghasilkan kekayaan, kemakmuran dan kelahiran dialam surga. Pelenyapan keserakahan adalah nibbana. Dana bisa melenyapkan keserakahan dan kemelekatan.
Sang Buddha bersabda:
“wahai para bhikkhu, seandainya orang-orang tahu, sebagaimana yang saya ketahui, hasil dari bederma dan berbagi, mereka tak akan makan tanpa memberi terlebih dahulu, ataupun membiarkan noda kekikiran menguasai diri mereka serta mengakar dalam pikiran mereka. Kendatipun merupakan cuil terakhirnya, suap terakhirnya, mereka tak akan menyantapnya tanpa membaginya terlebih dahulu, seandainya ada orang untuk berbagi makanan tersebut. Namun, para bhikkhu, sebagaimana yang tidak diketahui orang-orang, sebaimana yang saya ketahui, hasil dari bederma dan berbagi, mereka tanpa memberi tanpa memberi terlebih dahulu, dan noda kekikiran menguasai diri mereka serta mengakar dalam pikiran mereka.” (It 26; 18-19).


Tabel implementasi kemurahan hati dalam kehidupan sehari-hari.

No
Kategori
Contoh kemurahan hati
1
Mahasiswa
1.       Donor darah. Seperti kita ketahui dengan donor darah sama hal nya kita memberikan sedikit untuk mereka yang kekurangan darah, atau mungkin untuk mereka yang kecelakaan membutuhkan darah, kita sebagai mahasiswa bisa mendonor kan darah kita. Seperti yang diprogramkan oleh BEM Jinarakkhita setiap tahun nya donor darah untuk membantu para pasien yang membutuhkan darah. BEM tersebut bekerja sama dengan PMI. Karena berdana tidak hanya dengan materi, tetapi kita sebagai mahasiswa bisa berdana dengan cara lain seperti donor darah, sama saja kita dana kehidupan untuk mereka.
2.       Memberikan Dhammadesana, seorang mahasiswa sedang mempraktekkan ‘Dana’. Dia berbelas kasih kepada orang yang tidak mengerti Dhamma. Dia memberi pengetahuan; Dia membahas Dhamma. Sebagai mahasiswa yang baik dia akan memberikan dhamma kepada masyarakat agar mereka bisa mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk.
2
Remaja
1.       Dhamadesana. Remaja juga bisa mempraktekan kemurahan hati atau berdana dengan cara berdhamadesana, karena dhamadesana merupakan salah satu dana yaitu dhamadana dimana dana tersebut besar pahalanya sehingga remaja bisa mempraktekan dana tersebut dengan mudah. Karena dengan remaja memberikan suatu arahan atau dhamadesana kepada seorang yang tua, muda atau bahkan anak-anak, seseorang yang mendengarkan dhamadesana tersebut merasa damai, tentram dan senantiasa hidup bahagia.
2.       Banyak anak remaja yang mungkin kecewa dengan hidupnya. Seseorang kecewa dengan hidupnya. Dia tertekan. Dia menghadapi banyak masalah dalam hidupnya. Dia hampir bunuh diri. Kita memahami situasinya. Kita mendekati dia dengan belas kasih. Kita berbicara dan menghiburnya. Berbagi beban dan membantunya untuk mengatasi kesulitan. Kita mendorong dia untuk hidup, itu juga termasuk dalam kategori dana.
3
Anak-anak
1.       Menolong binatang dengan cara memberikan makanan. Banyak anak-anak didesa ataupun di kota sering kali menolong makhluk yang sedang kelaparan, yang sedang tenggelam di air atau bahkan makhluk yang tertabrak oleh kendaraan. Anak-anak senang sekali memelihara binatang dirumah nya karena mereka ingin setiap saat memberikan makanan kepada binatang tersebut contohnya kucing, mereka senang sekali saat memberi makan kucing. Dengan tindakan itu sama hal nya mereka berdana kepada makhluk lain yang kelaparan.
2.       Membantu menyebrangkan wanita tua. Suatu pagi, seorang wanita tua sedang menunggu untuk menyebrang jalan. Lalu lintas sangat padat. Dia sangat lemah dan tidak dapat berjalan dengan baik. Beberapa anak sekolah mendekatinya dan membantunya menyebrang jalan. Mereka membantu dengan belas kasih; mereka memberikan pelayanan, ini juga termasuk ‘Dana’.
4
Masyarakat umum
1.       Memberikan nasehat atau dhamadesana saat kebaktian. Kita sebagai umat buddha pasti sering mendengar istilah dhamadesana, dhamadesana merupakan dhammadana dimana dana tersebut adalah dana yang terbesar pahalanya. Dengan cara ini masyarakat umum bisa mempraktekan dana dengan hati yang tulus, walaupun mereka tidak bisa memberikan sebuah materi kepada orang lain tetapi dengan cara ini mereka juga bisa berdana.
2.       Menyumbangkan tenaga untuk keluarga miskin. Sekelompok orang baik membangun sebuah rumah untuk keluarga miskin. Bagi orang yang mampu meyumbangkan uang. Jika sebagian masyarakat tidak memiliki uang, masyarakat bisa membantu membangun rumah dengan menggunakan tenaga fisik. Masyarakat bisa memberikan bantuan fisik.

















Daftar pustaka
                Bhikkhu Sikkhananda. 2010. Dana. Chanmyay Yeiktha Meditation Center Hwawbi: Myanmar.
Dra. Lanny Anggawati dan Dra. Wena Cintiawati. 2007. Itivuttaka Kitab Suci Agama Buddha. Lembaga Anagarini Indonesia: Bandung.
Hendra Widjaja. 2005. Tipitaka Tematik. Ehipassiko Foundation: Jakarta.
Krishnanda Wijaya Mukti. 2006. Wacana Buddha Dhamma. Yayasan Dharma  Pembangunan: Jakarta.
Pandita S. Widyadharma. 1991. Inti Sari Ajaran Buddha. Yayasan Dana Pendidikan Buddhis: Jakarta.
Sri Dhammananda. 2005. Keyakinan Umat Buddha. Ehipassiko Foundation: Jakarta.
Tim Penterjemah. 1991. Sutta Pitaka, Digha Nikaya II, CV. Arya Surya Candra: Jakarta.
Tim Penterjemah. 1991. Sutta Pitaka, Digha Nikaya III, CV. Arya Surya Candra: Jakarta.
Tim Penterjemah. 2003. Angutara Nikaya I. Vihara Bodhivamsa dan Wisma Dhammaguna: Klaten.
Tim Penterjemah. 2003. Angutara Nikaya III. Vihara Bodhivamsa dan Wisma Dhammaguna: Klaten.
Tim Penterjemah. 2003. Angutara Nikaya IV. Vihara Bodhivamsa dan Wisma Dhammaguna: Klaten.
Tim Penterjemah. 2005. Dhammapada, CV. Dewi Kayana Abadi: Jakarta.
Tim Penterjemah. 2007. Samyutta nikaya I, Wisma Sambodhi: Klaten.
Tim penyusun. 1991. Buku Pelajaran Agama Buddha SMA Kelas 1. Paramita Surabaya: Surabaya.
Tim penyusun. 2011. Pelajaran Agama Buddha Untuk Remaja. Sekretariat Jendral Sekber PMVBI: Jakarta.
Ven. Hye Dhammavuddho. 2008. Ajaran Buddha. Penerbit Dian Dharma: Jakarta.
Ven. Narada Mahathera. 1998. Sang Buddha dan Ajaran-ajarannya. Yayasan Dhammadipa Arama: Jakarta.
                Ven. K. Rathanasara. 2008. Indahnya Berdana. Education dan Dharma Propagation Subcommittee: Sri Lankaramaya Buddhis Temple.
                               

Tidak ada komentar:

Posting Komentar