Pengantar
Seseorang
mungkin bertanya dengan baik, “mengapa kita harus berbuat baik? Tidak cukupkah
bahwa kita tidak berbuat jahat dan menyakiti sesama?” dalam kehidupan kita yang
tak terhitung banyaknya sejak dari masa lampau kita telah mengumpulkan banyak karma
(perbuatan) buruk yang cenderung mengaburkan (menciptakan masalah dalam)
kehidupan kita sekarang. Dalam Angutara
Nikaya Buddha mengajarkan cara untuk mengurangi efek karma buruk masa lalu
tersebut, yaitu dengan menciptakan banyak karmma baik dalam kehidupan sekarang.
Beliau mengumpamakan karmma buruk dengan segenggam garam dan karma baik dengan
air. Jika segenggam garam dimasukan dalam secangkir air, maka air itu akan
menjadi asin, tetapi jika garam itu dimasukan kedalam air sungai, maka rasa
asinnya akan menjadi nyaris hilang. Demikian pula, karma baik yang dilakukan
sekarang mengecilkan efek karma buruk masa lampau-kecuali karma buruk yang
teramat besar, contohnya membunuh orang tua kandung.
Kinerja
perbuatan baik menghasilkan jasa kebaikan (punna), suatu sifat yang memurnikan
pikiran. Jika pikiran tidak diperiksa, pikiran cenderung dikuasai kecenderungan
jahat, menyebabkan seseorang melakukan perbuatan buruk dan jadi bermasalah. Kebaikan
penting untuk menolong kita selama perjalanan hidup kita. Kebaikan berhubungan
dengan apa yang baik dan bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain, dan dapat
meningkatkan kualitas pikiran. Buddha mengatakan bahwa suatu perbuatan jahat
kecil yang dilakukan oleh orang yang mempunyai kebajikan (berkah atau pahala)
kecil akan membawanya kealam kelahiran kembali yang menyedihkan, sementara
perbuatan yang sama yang dilakukan oleh orang yang memiliki banyak kebajikan
berbuah dalam kehidupan ini dan bahkan suatu akibat kecil pun tidak
memanifestasikan dirinya setelah kematian. Ini benar-benar seperti kasus
seorang miskin yang terjeblos kedalam penjara karena mencuri satu dolar,
sepuluh dolar, atau seratus dolar, sementara orang kaya tidak terjeblos kedalam
penjara karena pencurian yang sama persis.
Kebaikan
adalah fasilitator yang hebat: kebaikan membuka pintu kesempatan dimana-mana.
Seorang yang baik akan sukses dalam usaha apapun yang ia lakukan. Jika ia ingin
melakukan bisnis, ia akan bertemu dengan orang dan rekan yang tepat. Jika ia
ingin menjadi pelajar, ia akan diberi beasiswa dan didukung oleh para
pembimbing akademik. Mimpinya akan terwujud melalui harta kebaikannya. Kebaikan
lah yang memungkinkan seseorang terlahir kembali disurga dan memberinya kondisi
dan dukungan yang tepat untuk pencapaian Nibbana.
Ada
beberapa ladang yang subur akan kebaikan yang menimbulkan hasil yang berlimpah
bagi pelaku perbuatan baik itu. Suatu perbuatan baik yang dilakukan terhadap
orang tertentu dapat menghasilkan lebih banyak kebaikan daripada terhadap orang
lain. Ladang kebaikan yang subur ini termasuk Sangha atau orang suci, ibu, ayah, dan fakir miskin. Perbuatan baik
yang dilakukan pada kelompok orang ini akan terwujud dalam banyak cara menjadi
sumber hasil yang berlimpah.
A. Kemurahan hati
Memajukan
kemanusiaan, peradaban dan perdamaian menghendaki belas kasih dan kepedulian
manusia yang bertanggung jawab. Orang yang memiliki kelebihan harus dapat
membagikan kelebihanya kepada yang kekurangan. Orang yang lebih pintar
membimbing orang yang kurang pintar. Orang yang memiliki kekuasaan melindungi
orang-orang lemah yang tak berdaya. Orang yang kaya dapat membagi hartanya
kepada orang yang miskin. Betul kaya adalah lawanya miskin, tetapi orang kaya
bukan musuh bagi orang miskin. Tidak seperti orang jahat yang harus dihindari
oleh orang baik. Orang kaya dan miskin dapat bersahabat dan seharusnya tolong
menolong. Orang tua dan muda dapat saling mencintai dan menghargai. Orang dapat
memilih segala yang besar, dengan tidak mengabaikan apa yang kecil. Pengusaha
yang besar yang kuat tidak bersikap mentang-mentang dan dapat membina mereka
yang kecil atau lemah.
Kemurahan
hati adalah tindakan moral memberikan kepemilikan. Perbuatan berdana memberikan
peranan penting didalam budhisme, karena keserakahan, kebencian dan ketidak
tahuan telah dilenyapkan untuk tujuan tertinggi yaitu pembebasan dari samsara.
Dengan kemurahan hati, baik keserakahan dan kebencian, keduanya bisa
dilenyapkan. Besarnya kebajikan bervariasi berdasarkan tiga faktor, yaitu motif
dari tindakan berdana itu, kesucian berdana, dan jenis dana yang diberikan.
Untuk
dapat membuat hidup seseorang lebih baik, sekaligus menciptakan dunia yang
damai, sebagaimana dikemukakan kepada kutadanta, Buddha mengajarkan suatu
bentuk pengorbanan sosial yang
menghasilkan kesejahteraan bagi orang banyak. Ia menukar kurban bagi para dewa
menjadi kurban bagi rakyat kecil yang membutuhkan pertolongan (D. I, 127-136). Cara beribadah yang
lebih baik dari memuja dengan mempersembahkan materi (Amisa-Puja) dengan bunga, dupa dan sesajian adalah cara memuja
dengan melakukan praktek (Patipati-puja),
menjalankan apa yang diajarkan oleh Buddha dalam kehidupan sehari-hari (A. I, 93). Memuliakan Tathagata dengan
penghormatan tertinggi adalah memenuhi semua kewajiban besar dan kecil, hidup
lurus, melaksanakan dhamma (D. II, 138).
Perbuatan memberi (Pali: dana)
merupakan satu langkah awal yang penting di dalam praktek Buddhis. Jika
dipraktekkan tersendiri, perbuatan berdana ini merupakan landasan jasa
kebajikan atau karma baik. Jika dibarengi moralitas, konsentrasi dan
kebijaksanaan, dana akhirnya menghasilkan pembebasan dari samsara–lingkaran
tumimbal lahir. Bahkan mereka yang sudah mantap di jalan pembebasan pun tetap
selalu mempraktekan dana, karena perbuatan ini membuahkan kekayaan, keelokan
dan kegembiraan di dalam sisa hidup mereka. Para Bodhisatta melengkapi danaparami
(kesempurnaan dana) sampai tingkat tertinggi, rela memberikan anggota tubuh dan
bahkan kehidupan mereka, untuk membantu mahluk-mahluk lain. Untuk mengikuti
jalan bodhisattva, seseorang harus mempraktekan kesempurnaan dalam kemurahan
hati (dana), sila, kesabaran, ketekunan, meditasi dan kebijaksanaan. Dengan
mempraktekkan kesempurnaan dalam kemurahan hati, sila, dan kesabaran,
bodhisattva mendapatkan buah jasa kebajikan. Dengan mempraktekan kesempurnaan
meditasi dan kebijaksanaan, ia mencapai pengetahuan transendental.
Bodhisatva mempraktekkan
kesempurnaan dalam kemurahan hati untuk menghilangkan nafsu dan keserakahan. Ia
memberi tidak untuk mendapat pahala dan tanpa pemikiran untuk memperoleh
penghargaan ayas perbuatan amalnya. Dengan pikiran seperti ini, bodhisattva
mampu memberikan kekayaan, harta benda, dan bahkan hidupnya sendiri tanpa rasa
kehilangan. Seperti halnya semua perbuatan baik, berdana akan memberikan
kebahagiaan pada kita di masa depan, sesuai dengan Hukum Karma tentang
sebab-akibat yang diajarkan oleh Sang Buddha. Berdana menghasilkan manfaat di
dalam kehidupan sekarang dan dalam kehidupan-kehidupan yang akan datang, tak
peduli apakah kita sadar akan kenyataan ini atau tidak. Tetapi jika niat itu dibarengi
dengan pemahaman, kita dapat dengan pesat meningkatkan jasa kebajikan yang
diperoleh lewat pemberian kita.
B. Pengorbanan
Pengorbanan
dalam agama Buddha menyangkut paramita atau kesempurnaan yang harus dipraktekan
oleh semua calon Buddha. Mereka berkorban karena dorongan hati nurani. Mereka
tidak hanya mengorbankan barang-barang yang dimiliki bahkan juga mengorbankan
jiwa-jiwa dan raganya sendiri. “Korbankanlah dirimu, dan itu adalah kewajibanmu
sendiri; jangan menunggu perintah orang lain (Sang-hyang Kamahayanikan 32). Sekalipun pengorbanan itu menurut
orang lain merupakan suatu penderitaan, ia sendiri tidak merasakannya sebagai
penderitaan. Ia justru merasa bahagia dan tidak pernah menyesali pengorbananya.
Orang berkorban dengan keikhlasan. Ketulusan menghasilkan kegembiraan dan
kepuasan dalam memberi. Memberi baginya bukanlah kehilangan. Dengan memberi
sesungguhnya ia menanam, dan pada waktunya kelak orang yang menanam akan
memetik hasil dari apa yang pernah ditanamnya. Kemurahan hati adalah member sesuatu
tanpa memberi sesuatu tanpa mengharapkan apapun sebagai imbalan pemberian itu.
Perbuatan murah hati Sangat dijunjung tinggi dalam setiap agama. Mereka yang
berkecukupan dalam hidup sebaiknya memikirkan orang lain dan memperluas
kemurahan hatinya bagi yang memerlukan. Tetapi jika dalam memberi seseorang itu
mempunyai niat member karena ingin menarik perhatian orang lain agar dapat
mengikuti agamanya hala itu bukan disebut kemurahan hati.
Orang-orang
akan memberi sesuai dengan keyakinan mereka dan menurut kesenangan mereka.
Barang siapa terpaksa memberi tanpa kerelaan ia dinamaikan korban keterpaksaan.
Ia menjadi korban, ia kehilangan. Dalam setiap pelaksanaan pembangunan selalu
ada pengorbanan tetapi bukan berarti harus ada korban pembangunan. Apabila ada
anggota masyarakat yang berkorban melepaskan haknya atas sebidang tanah untuk
pembangunan misalnya, maka seharusnya pengorbanan itu membawa dampak kemakmuran
yang kemudian dapat dirasakan oleh mereka yang berkorban itu.
C. Makna berdana
Dalam penggunaan bahasa
sehari-hari apa yang disebut dana adalah pemberian, derma atau hadiah. Sebagai
paramita, dana diartikan kemurahan hati. Berdana dalam perspektif buddhis bukan
hanya sebatas member santunan kepada orang miskin. Sementara Buddha dan para
bhikkhu mendapat penghormatan dari para raja dan orang-orang kaya, mereka malah
mengunjungi orang-orang miskin untuk menerima persembhan makanan (pindapata). Kenapa Buddha menerima dana
dari orang miskin? Dengan mengajarkan kepada orang-orang miskin agar mau dan
bisa memberi, Buddha menuntun mereka untuk mengubah nasibnya. Sesuai dengan
hukum karma, orang dilahirkan miskin karena dalam kehidupan sebelumnya ia tidak
suka berdana.
Berdana adalah melepas sesuatu
yang dimiliki dengan tulus ikhlas demi suatu tujuan yang baik. Perbuatan yang
semata-mata merupakan kemurahan hati ini tidak mengharapkan imbalan. Sebagai
praktek mengikis keserakahan dan keakuan, berdana tidak diartikan membagi
kelebihan (sehingga hanya yang berkelebihan saja yang pantas berdana), tetapi
melepaskan pemilikan pribadi yang membelenggu Sang aku. Tidak ada perbedaan
antara golongan kaya atau miskin, karena setiap orang dapat memberi sesuai
dengan kemampuan yang ada padanya. Selain member sumbangan dalam bentuk uang
atau materi, orang dapat menyumbangkan tenaga, pikiran dan sebagainya. Member
maaf juga salah satu cara berdana. Perlu disadari bahwa dana kebenaran (Dhamma –dana), yang bersifat rohani,
kekuatan moril dan keilmuan dinyatakan lebih unggul dari dana materi (Amis-dana). Dana kebenaran mengalahkan
segala dana lain, rasa kebenaran mengalahkan rasa lain, kegembiraan dalam
kebenaran mengalahkan segala kegembiraan lainya (Dhp. XXIV, 354). Membantu orang miskin pun tidak cukup dengan
berdana materi, tetapi akan lebih baik dengan memperbaiki sikap mental mereka,
meningkatkan kemampuan atau kecakapannya dan membuka peluang untuk usaha
mereka. Berilah kain, bukan ikanya, begitu kata pepatah.
Selain mencampakkan keserakahan
dan keakuan, sasaran berdana juga sekaligus mengembangkan kasih. Sebagai
praktek mengembangkan cinta kasih, memberi dana itu menolong orang lain yang
sedang menderita kekurangan. Orang kaya jelas harus menolong orang yang miskin
dan orang yang pintar menolong yang bodoh. Sehubungan dengan cinta kasih ini
orang menyumbangkan darah, mengorbakan anggota badanya bahkan nyawanya untuk
kebahagiaan orang lain (Ajjhatika-dana). Terdorong
oleh cinta kasihnya manusia memlihara dan melindungi segala bentuk kehidupan,
membebaskan burung atau hewan-hewan lain dari kurungan, menebar benih ikan dan
sebagainya (Abhaya-dana). Seseorang
tidaklah berdana dengan sekedar melepaskan miliknya dan memberi kepada pihak
lain. Memberi bisa dilihat dari transaksi semacam jual beli, dengan pikiran “ia
pun memberi kepadaku” atau “ ia pun akan memberi kepadaku.” Orang yang tamak
mengharapkan akan menerima lebih banyak. Mungkin pula seseorang melepaskan
kepunyaannya karena bodoh, missal tertipu, karena dorongan rasa takut atau
malu, karena jengkel, karena perasaan tidak pantas bila tidak memberi, karena
melanjutkan kebiasaan atau tradisi orang-orang terdahulu, karena mengharapkan
nama baik. Atau seseorang memberi karena pikiran bahwa itulah perbuatan yang
baik, memberi itu memperkaya dan melembutkan batin, mendatangkan kegembiraan
dan ketenangan, mengharap bahwa kelak akan lahir disurga, atau bisa saja
seseorang memberi karena spontan terdorong oleh rasa yang penuh kasih. (A. IV, 235-236). Hasil berdana
dinyatakan sebagai berikut: (1) pemberi dana akan disenangi dan dikasihi oleh
orang banyak (mengikat persahabatan); (2) orang-orang yang baik dan bijaksana
mengikutinya; (3) namanya harum; (4) dalam lingkungan pergaulan apapun penuh
kepercayaan diri dan tidak akan mengalami kesulitan; (5) sesudah meninggal
dunia akan terlahir di alam surga. Empat hal yang pertama adalah kenyataan yang
bisa kita temukan dalam hidup sehari-hari. Sebagaimana komentar Jendral Siha,
tanpa menaruh keyakinan kepada Buddha keempat hal itu akan dialami oleh orang
yang banyak memberi. Tetapi tentang terlahir dialam surga, itulah yang memerlukan
keyakinan kepada ajaran Buddha. (A. III,
38).
D. Dana yang terbaik
Pemberian
dana yang dilakukan atas dorongan orang lain dinamakan Sankhara-dana dan dinilai tidak semulia dengan pemberian yang
diakukan atas kehendak sendiri atau Asankhara-dana.
Pemberian dana yang dilakukan penuh dengan kesadaran karena memahami benar
kepentingan atau buah akibatnya akan menghasilkan kemajuan batin. Sebagai
perbuatan (kamma), berdana dtandai kehendak (Cetana)
seseorang yang meliputi perasaan senang atau gembira baik sebelum member
dana (Pubba-cetana), atau pada saat
memberi (Munca-cetana), dan sesudah
memberi dana (Apara-cetana). Dengan
terpenuhinya ketiga faktor itu, yang menunjukan keikhlasan hati, perbuatan
tersebut dapat menghasilkan buah kebajikan yang sepenuhnya. Pemberian dana
untuk orang yang berbeda tidak menghasilkan buah yang sama. Ketika Raja
Pasenadi bertanya tentang dana yang paling besar pahalanya. Buddha menjelaskan
bahwa memberi dana itu menghasilkan buah yang besar bila ditujukan kepada orang
yang baik prilakunya, bukan kepada orang yang buruk prilakunya. Sebagaimana
seorang raja yang menggaji dan memberi hadiah kepada prajurit-prajurit yang
baik saja, yang membawa kemenangan saat pertempuran. Sebesar apapun ia memberi
atau menjanjikan hadiah, kemenang itu tidak akan diperolehnya dengan prajurit
yang lemah (S, I, 98). Seperti rumput
ilalang yang merupakan bencana bagi sawah ladang, nafsu, kebencian, kebodohan,
dan nafsu keinginan merupakan becana bagi manusia. Karena itu dana yang
dipersembahkan kepada mereka yang telah bebas dari nafsu, bebas dari kebencian,
bebas dari kebodohan dan bebas dari keinginan rendah, akan menghasilakan pahala
yang besar (Dhp. 356-359). Pendapat
ini jangan disalah artikan untuk melakukan diskriminasi pelayanan sosial atau
mempersoalkan kelakuan seseorang yang membutuhkan pertolongan.
Pemberian
dana pun tidak dibatasi untuk golongan sendiri. Vacchagotta pernah bertanya,
apakah Buddha tidak membenarkan pemberian dana untuk golongan lain? Jawab Buddha,
“Barangsiapa menghalang-halangi seseorang untuk memberi dana, ia membuat
rintangan dan menimbulkan kegagalan dalam tiga hal. Apakah ketiga hal itu? Ia
merintangi seseorang yang ingin berdana sehingga gagal memperoleh perbuatan
baiak. Ia menghalangi orang yang seharusnya menerima sehingga gagal memperoleh
dana tersebut. Ia pun menjatuhkan dirinya sendiri.” Ujar Buddha selanjutnya “meski
orang membuang sisa makanan dari cucian priuk atau bilasan mangkuk kedalam
sebuah tambak, seraya mengharapkan barangkali ada makhluk hidup didalamnya
dapat memperoleh makanan, aku nyatakan perbuatan ini pun merupakan sumber dari
saja kebaikan, apalagi dana yang diberikan kepada sesame manusia. Namun adalah
benar Vaccha, aku nyatakan, bahwa dana yang diberikan kepada mereka yang
berbudi luhur menghasilkan buah yang besar, tidak sedemikian halnya bila
diberikan kepada orang yang tidak bermoral “ (A. I, 161). Pemberian orang yang baik (Sappurisa-dana) memiliki sifat-sifat sebagai berikut: (1) sesuatu
yang suci, bersih atau halal (Sucim-deti);
(2) barang pilihan yang baik atau layak (Panitam-deti);
(3) diberikan tepat waktu, pada waktu yang dibutuhkan, dan dalam batas waktu
yang dapat dimanfaatkan oleh orang yang menerimanya (Kalena-deti); (4) sesuatu yang bermanfaat, tidak membahayakan (Kappiyam-deti); (5) memberi secara
bijaksana dan penuh perhatian kepada orang yang patut menerimanya (Viceyya-deti); (6) memberi secara tetap,
tidak hanya sekali (Abhinham-deti); (7)
memberi dengan pikiran yang ikhlas dan tenang (Dadam-cittam-pasa-deti); (8) dengan pemberian tersebut membawa
ketentraman (Datva-attamano-hoti) (A. IV,
243).
Bagaimana
sikap batin dan cara seseorang menentukan hasil yang akan diperolehnya.
Pangeran payasi memberikan dana kepada orang-orang miskin, entah itu pertapa,
pengemis, pengembara atau orang-orang lain yang membutuhkan bantuanya. Apa yang
didanakan oleh payasi adalah makanan yang tidak mau ia sentuh apalagi
dimakannya sendiri, pakaian yang terbuat dari kain kasar yang tidak mau ia
gunakan sendiri walau sebagai lap kaki sekalipun. Ia tidak turun tangan sendiri
ketika memberikan dana, kurang perhatian, kurang perduli. Diantara orang yang
menerima dananya ada seorang pemuda, Uttara namanya. Ia mengkritik payasi,
sehingga mendapat dana yang sama dengan apa yang dimakan dan dipergunakan oleh Sang
pangeran. Uttara mengatur pembagian dana dari apa yang diperolehnya. Setelah
meninggal dunia Sang pangeran payasi terlahir di istana surga Catummaharajika yang kosong. Sedangkan
uttara terlahir disurga Tavatimsa, menikmati
kemuliaan yang jauh melampaui payasi (D.
II, 354-357). Selain Sappurisa-dana yang
sudah disebutkan diatas, suatu bentuk pemberian akan memberi hasil yang
sebaik-sebaiknya bagi seseorang yang berdana jika memenuhi lima hal, yaitu: (1)
ia memberi dengan hormat; (2) memberi dengan pikiran yang terarah; (3)
melakukannya dengan tangan sendiri; (4) apa yang didanakan adalah barang-barang
yang baik; (5) ia berdana dengan menyadari benar manfaatnya sesuai dengan hukum
karma. Dengan menyadari manfaat berdana ini berarti seseorang memberi dengan
keyakinan (A. III, 172).
E. Jenis dana
Terdapat
tiga jenis dana dalam buddhisme, yaitu: Amisa
dana, Abhaya dana dan Dhamma dana. Amisa dana, berarti memberikan Catu paccaya, yaitu makanan, jubah, obat
dan tempat bernaung untuk para bhikkhu, dan empat barang materi tersebut untuk
umat awam. Dengan memberikan barang tersebut pemberi tidak hanya menyenangkan
penerima tetapi pemberi juga akan mendapatkan suatu kebahagiaan. Selain itu
penerima akan mendapatkan usia panjang, kacantikan, kebahagiaan dan
kekuatan.sementara itu, dipihak lain pemberi juga dapat mengikis keserakahan
dan keegoisan. Keseluruhan materi untuk diberikan atau didanakan disebutkan
didalam Niddesa (Nd. 2.523). Didalam Niddesa
disebutkan dana berupa jubah, makanan, tempat tinggal, obat, dan kebutuhan
pokok lainnya bagi orang sakit, makanan, minuman, juba, kendaraan, rangkaian
bunga, wewangian, salep, tempat tidur, rumah dan lampu penerangan. Memberikan
jasa, tenaga, waktu, dan berbagai keterampilan bagi seseorang untuk menolong
orang atau untuk membantu institusi dan pengabdian untuk kepentingan organisasi
sosial, keagamaan, juga termasuk di dalam jenis dana.
Abhaya dana, adalah tindakan yang
dilakukan untuk menghilangkan ketakutan seseorang dari api, air, musuh atau
bahaya-bahaya lainya. Menyelamatkan nyawa binatang yang akan dibantai, menolong
seseorang yang sedang tertekan, membebaskan dengan jaminan tahanan-tahanan yang
sedang dipenjara dan orang-orang yang sedang ditahan dipenampungan,
menyembuhkan pasien-pasien yang sedang menderita sakit dan ketidak nyamanan,
atau bahkan sebuah tindakan sepele seperti melepaskan burung juga merupakan Abhaya dana. Pemberi Abhaya dana akan memperoleh panjang umur
dan tidak memiliki musuh.
Dhamma dana, adalah menolong atau
membantu seseorang dalam perkembangan spiritual. Dengan mengetahui Dhamma, maka orang itu memahami apa yang
baik dan apa yang buruk. Karena itu, pemberian ini dikategorikan sebagai
pemberian yang tertinggi. (Sabba danam
dhannadana jinati). Mengajarkan Dhamma
mengadakan kelas dan sekolah Dhamma, menulis
buku tentang subjek keagamaan, serta membantu penyebaran agama dengan cara apa
pun juga, adalah merupakan Dhamma dana.
Pati-pati puja yang juga termasuk di dalam Dhamma dana ini, pada dasarnya adalah menjalankan sila atau
bermeditasi.
‘Sabbadanam
dhammadanam jinati-sabbarasam
dhammarasojinati.
Sabbaratim dhammarati jinati. Tanhakkhayo
sabbadukkham jinati’
(Dhp. 354)
Pemberian Dhamma melampaui semua pemberian. Rasa dhamma melampaui semua rasa. Kegembiraan
dalam Dhamma melampaui segala bentuk
kegembiraan. Penghancuran nafsu keinginan mengatasi semua bentuk penderitaan
atau ketidakpuasan.
F. Cara berdana
1.
Memberi dana dengan tangan sendiri
Saat
kita berdana, berilah dengan tangan kita sendiri. Keterlibatan diri dalam
kegiatan memberi adalah Sangat penting. Karma dihasilkan dalam pikiran kita.
Berdanalah dengan bijak. Maka kita akan menghasilkan kekuatan karma positif
yang mengikuti kita dari kehidupan ke kehidupan, seperti bayangan sendiri.
2.
Memberikan sesuatu yang layak untuk diberikan
Selalu
memberikan sesuatu yang berguna dan dalam kondisi baik. Kita mesti menghormat
dan perduli terhadap orang yang akan menerima dana kita. Kita harus memberikan
dana dengan belas kasih dan kebijaksanaan agar pemberian lebih bermakna untuk
mereka yang membutuhkan. Kita hendaknya jangan memberikan sesuatu ynag akan
dibuang. Sebagian orang membuang sampah ke Vihara, Gereja atau organisasi
kesejehteraan dan berpikir akan berguna bagi orang lain. Itu namanya bukan
berdana. Jika kita ingin mempraktekan dana, lakukanlah dengan cara yang benar.
Jika itu barang elektronik, pastikan dalam kondisi masih berfungsi. Jika itu
rusak, perbaikilah terlebih dahulu. Jika itu kotor, bersihkan. Bungkuslah
dengan baik dan serahkan kepada pengurusnya. Maka kita akan mendapatkan pahala
dan penerima pun juga akan mendapatkan manfaat dari pemberian tersebut.
3.
Berilah dana yang tepat, kepada orang yang
tepat, dan pada waktu yang tepat
Bila
seseorang sedang lapar, berilah makanan. Itulah hal terbaik yang dapat kita
berikan pada saat itu. Ini adalah waktu yang tepat untuk memberi. Bila
seseorang sedang sakit, dana ang terbaik adalah perawatan medis. Meskipun kita
bukan dokter, tetapi kita dapat membawanya ke dokter. Bantulah dia untuk
sembuh. Untuk orang tersesat, arahkan mereka kejalan yang benar. Hiburlah orang
yang berada dalam kesedihan. Dhamma adalah obat yang terbaik untuk mereka yang
mencari kebenaran. Berilah uang kepada orang yang membutuhkan.
G. Tiga hal untuk memenuhi dana
Bagaimana
mempraktekan dana dengan cara yang bermakna?
Kondisi apa
saja yang perlu dipenuhi?
1.
Kemurnian pikiran
‘kehendak
adalah karma’ sabda Buddha. Jika kita tidak memiliki niat untuk memberi, kita
tidak dapat mempraktekan dana pikiran harus penuh dengan kebajikan. Selalu
memberi dengan bermurah hati. Berbelas kasih lah, dan hargailah orang yang
menerima. Penuhi pikiran dengan cinta kasih dan persahabatan. Sadar pada apa
yang muncul dalam pikiran. Jangan biarkan pikiran negatif mencemari kemurnian
pikiran. Pikiran harus bebas dari amarah, kebencian, niat buruk, keterikatan
atau kebodohan batin. Kehendak kita, sebelum, pada saat dan setelah tindakan berdana
Sangat penting. Senang sebelum berdana. Pikiran jernih dan murni pada saat
berdana. Bergembira atas kebaikan yang telah dilakukan.
Kita
mempersembahkan dana kepada para bhikkhu setiap bulan. Pada hari persembahan
itu, ada kelompok umat lain juga membawa makanan untuk dipersembahkan kepada
para bhikkhu. Kita tidak senang. “mengapa mereka harus datang dan berdana? Ini
adalah hari dana kami, mereka seharusnya mendapat izin dari kami lebih dulu.
‘kita kehilangan kemurnian pikiran. Kecemburuan, amarah, keakuan, keserakahan
muncul dipikiran kita. Kita berdana dengan pikiran kotor. Ini bukanlah dana
yang sempurna. Jika kita adalah orang yang bijaksana, kita akan merasa senang
bila orang lain ikut berpartisipasi dalam berdana. Semakin banyak orang
bergabung untuk berdana, maka semakin banyak pahala yang kita peroleh. Dengan
mendorong orang lain untuk bergabung melakukan perbuatan baik, kita akan selalu
mempunyai banyak pengikut dimanapun kita dilahirkan.
Ada
orang miskin datang dan memberitahu kita mengenai kesulitan ekonominya, dia
mencari bantuan, kita sebagai umat yang memiliki sikap yang baik serta
bijaksana maka kita akan menolong orang tersebut. Kita akan memberikan uang
kepadanya agar dapat sedikit membantu kekurangan orang tersebut. Tetapi setelah
kita memberi, kita berpikiran, “oh, saya dapat mengunakan uang tersebut untuk
diri sendiri, saya bisa membeli ini atau itu; saya telah melakukan kesalahan
konyol dengan memberinya uang’ keserakahan muncul dan mencemari kemurnian
pikiran. Ini bukan dana yang murni.
2.
Kekayaan yang diperoleh dengan cara yang benar
Apapun
yang akan kita berikan, haruslah sesuatu yang kita peroleh dengan cara yang
benar. Dalam proses mendapatkan kekayaan, kita seharusnya tidak membawa
penderitaan dan bencana bagi makhluk hidup lainya. Seseorang dengan usaha
narkoba, dia mendapatkan banyak uang dari bisnis ini. Sebuah organisasi sosial
meminta bantuanya untuk membangun rumah sakit. Dia mendanakan sejumlah besar
uang, jika ia memberi dengan belas kasih, benih kebajikan yang ada dalam pikiran
ini akan menghasilkan energy karma baik. Tetapi, kekayaan yang diperoleh tidak
murni karena dia menyebabkan banyak penderitaan dan membawa bencana kepada
sesama manusia dalam proses mendapatkan kekayaanya. Seseorang sedang sakit, dia
tidak memiliki uang untuk berobat. Kita sebagai orang yang bijaksana akan
merasa kasihan terhadapnya. Tetapi kita juga tidak memiliki uang, kita masuk
kesebuah rumah, mencuri uang dan memberikan kepada dia, walaupun kita penuh
belas kasih, hal ini bukanlah dana yang murni. Dalam proses dana ini, kita
menciptakan energi karma positif dan negatif.
Buddhisme
mendorong kita agar menjadi orang baik, memperoleh kekayaan dengan cara yang
benar, berdana dengan belas kasihan dan bijaksana. Demikian dana yang diberikan
harus diperoleh secara murni agar bisa memenuhi keberhasilan dan ayang
sempurna.
3.
Mereka yang layak untuk menerima
Beberapa
orang ingin berdana tetapi mereka tidak tahu kepada siapa dana diberikan. Saat
itu, Raja Kosala bertanya kepada Sang Buddha,”Sang bhagava, kepada siapa dana
seharusnya diberikan?” raja yang mulia, dana seharusnya diberikan kepada mereka
sebagaimana pemberi merasa senang hati”. Jika kita bisa berbahagia dengan
memberi, tidak ada masalah kepada siapapun kita berdana. Yang paling penting
adalah kebahagiaan yang diperoleh dari pemberian tersebut. Kebahagiaan inilah
jasa kebajikan, kekuatan karma inilah yang dapat menimbulkan hasil baik. Kita
seharusnya tidak menyesali pemberian dalam bentuk apapun. Kemudian raja
bertanya lagi, “ Bhagava yang mulia, pemberian kepada siapa akan mendatangkan
hasil yang besar?”. Sang Buddha menjawab, “pemberian yang diberikan kepada Arya
akan menghasilkan pahala yang besar.” Beliau menjelaskan lebih lanjut, “Apa
yang diberikan kepada para arya (mereka yang telah terbebas dari keserakahan,
kebencian, kemalasan dan kelambanan, kegelisahan dan kekhawatiran, keraguan dan
mereka yang memiliki moralitas, konsentrasi, kebijaksanaan) akan membuahkan
jasa kebajikan yang besar.
Disini,
Sang Buddha mengarahkan Sang raja untuk berdana kepada para arya yang telah
melenyapkan semua kekotoran batin dan yang telah mencapai kesucian sempurna.
‘nafsu, kebencian, kebodohan batin dan kemelekatan adalah noda manusia. Dana
yang diberikan kepada mereka (yang telah terbebas dari noda tersebut) akan menghasilkan
pahala yang besar seperti bibit yang ditaburkan di lahan subur, denga jumlah
air yang tepat, akan membuahkan hasil yang berlimpah.
H. Manfaat memberi
Sebagai
siswa Sang Buddha kita pasti mengerti bahwa ini bukanlah kehidupan pertama
kita. Dan bukan kehidupan yang terakhir. Selama kita masih ada dalam kebodohan,
maka kita kan tetap ber-tumimbal lahir di alam samsara. Kekuatan karma yang
dihasilkan akan terus mengikuti kita. Kita adalah pencipta diri sendiri, selama
kita belum mencapai penerangan sempurna, kita akan tetap berada di dalam
lengkaran samsara. Dana menghasilkan kekuatan karma positif yang akan
menghasilkan kekayaan, kemakmuran dan kelahiran dialam surga. Pelenyapan
keserakahan adalah nibbana. Dana bisa melenyapkan keserakahan dan kemelekatan.
Sang Buddha
bersabda:
“wahai para bhikkhu,
seandainya orang-orang tahu, sebagaimana yang saya ketahui, hasil dari bederma
dan berbagi, mereka tak akan makan tanpa memberi terlebih dahulu, ataupun
membiarkan noda kekikiran menguasai diri mereka serta mengakar dalam pikiran
mereka. Kendatipun merupakan cuil terakhirnya, suap terakhirnya, mereka tak
akan menyantapnya tanpa membaginya terlebih dahulu, seandainya ada orang untuk
berbagi makanan tersebut. Namun, para bhikkhu, sebagaimana yang tidak diketahui
orang-orang, sebaimana yang saya ketahui, hasil dari bederma dan berbagi,
mereka tanpa memberi tanpa memberi terlebih dahulu, dan noda kekikiran
menguasai diri mereka serta mengakar dalam pikiran mereka.” (It 26; 18-19).
Tabel implementasi kemurahan hati dalam
kehidupan sehari-hari.
No
|
Kategori
|
Contoh kemurahan hati
|
1
|
Mahasiswa
|
1. Donor
darah. Seperti kita ketahui dengan donor darah sama hal nya kita memberikan
sedikit untuk mereka yang kekurangan darah, atau mungkin untuk mereka yang
kecelakaan membutuhkan darah, kita sebagai mahasiswa bisa mendonor kan darah
kita. Seperti yang diprogramkan oleh BEM Jinarakkhita setiap tahun nya donor
darah untuk membantu para pasien yang membutuhkan darah. BEM tersebut bekerja
sama dengan PMI. Karena berdana tidak hanya dengan materi, tetapi kita
sebagai mahasiswa bisa berdana dengan cara lain seperti donor darah, sama
saja kita dana kehidupan untuk mereka.
2. Memberikan
Dhammadesana, seorang mahasiswa sedang mempraktekkan ‘Dana’. Dia berbelas
kasih kepada orang yang tidak mengerti Dhamma. Dia memberi pengetahuan; Dia
membahas Dhamma. Sebagai mahasiswa yang baik dia akan memberikan dhamma
kepada masyarakat agar mereka bisa mengetahui mana yang baik dan mana yang
buruk.
|
2
|
Remaja
|
1. Dhamadesana.
Remaja juga bisa mempraktekan kemurahan hati atau berdana dengan cara
berdhamadesana, karena dhamadesana merupakan salah satu dana yaitu dhamadana
dimana dana tersebut besar pahalanya sehingga remaja bisa mempraktekan dana
tersebut dengan mudah. Karena dengan remaja memberikan suatu arahan atau
dhamadesana kepada seorang yang tua, muda atau bahkan anak-anak, seseorang
yang mendengarkan dhamadesana tersebut merasa damai, tentram dan senantiasa
hidup bahagia.
2. Banyak anak remaja
yang mungkin kecewa dengan hidupnya. Seseorang kecewa dengan hidupnya. Dia
tertekan. Dia menghadapi banyak masalah dalam hidupnya. Dia hampir bunuh
diri. Kita memahami situasinya. Kita mendekati dia dengan belas kasih. Kita
berbicara dan menghiburnya. Berbagi beban dan membantunya untuk mengatasi
kesulitan. Kita mendorong dia untuk hidup, itu juga termasuk dalam kategori
dana.
|
3
|
Anak-anak
|
1. Menolong
binatang dengan cara memberikan makanan. Banyak anak-anak didesa ataupun di
kota sering kali menolong makhluk yang sedang kelaparan, yang sedang
tenggelam di air atau bahkan makhluk yang tertabrak oleh kendaraan. Anak-anak
senang sekali memelihara binatang dirumah nya karena mereka ingin setiap saat
memberikan makanan kepada binatang tersebut contohnya kucing, mereka senang
sekali saat memberi makan kucing. Dengan tindakan itu sama hal nya mereka
berdana kepada makhluk lain yang kelaparan.
2. Membantu menyebrangkan
wanita tua. Suatu pagi, seorang wanita tua sedang menunggu untuk menyebrang
jalan. Lalu lintas sangat padat. Dia sangat lemah dan tidak dapat berjalan
dengan baik. Beberapa anak sekolah mendekatinya dan membantunya menyebrang
jalan. Mereka membantu dengan belas kasih; mereka memberikan pelayanan, ini
juga termasuk ‘Dana’.
|
4
|
Masyarakat umum
|
1. Memberikan
nasehat atau dhamadesana saat kebaktian. Kita sebagai umat buddha pasti
sering mendengar istilah dhamadesana, dhamadesana merupakan dhammadana dimana
dana tersebut adalah dana yang terbesar pahalanya. Dengan cara ini masyarakat
umum bisa mempraktekan dana dengan hati yang tulus, walaupun mereka tidak
bisa memberikan sebuah materi kepada orang lain tetapi dengan cara ini mereka
juga bisa berdana.
2. Menyumbangkan tenaga
untuk keluarga miskin. Sekelompok orang baik membangun sebuah rumah untuk
keluarga miskin. Bagi orang yang mampu meyumbangkan uang. Jika sebagian
masyarakat tidak memiliki uang, masyarakat bisa membantu membangun rumah
dengan menggunakan tenaga fisik. Masyarakat bisa memberikan bantuan fisik.
|
Daftar
pustaka
Bhikkhu Sikkhananda. 2010. Dana. Chanmyay Yeiktha Meditation Center
Hwawbi: Myanmar.
Dra.
Lanny Anggawati dan Dra. Wena Cintiawati. 2007. Itivuttaka Kitab Suci Agama Buddha. Lembaga Anagarini Indonesia:
Bandung.
Hendra
Widjaja. 2005. Tipitaka Tematik. Ehipassiko
Foundation: Jakarta.
Krishnanda
Wijaya Mukti. 2006. Wacana Buddha Dhamma.
Yayasan Dharma Pembangunan: Jakarta.
Pandita S.
Widyadharma. 1991. Inti Sari Ajaran
Buddha. Yayasan Dana Pendidikan Buddhis: Jakarta.
Sri
Dhammananda. 2005. Keyakinan Umat Buddha.
Ehipassiko Foundation: Jakarta.
Tim
Penterjemah. 1991. Sutta Pitaka, Digha
Nikaya II, CV. Arya Surya Candra: Jakarta.
Tim
Penterjemah. 1991. Sutta Pitaka, Digha
Nikaya III, CV. Arya Surya Candra: Jakarta.
Tim
Penterjemah. 2003. Angutara Nikaya I. Vihara
Bodhivamsa dan Wisma Dhammaguna: Klaten.
Tim
Penterjemah. 2003. Angutara Nikaya III. Vihara
Bodhivamsa dan Wisma Dhammaguna: Klaten.
Tim
Penterjemah. 2003. Angutara Nikaya IV. Vihara
Bodhivamsa dan Wisma Dhammaguna: Klaten.
Tim
Penterjemah. 2005. Dhammapada, CV.
Dewi Kayana Abadi: Jakarta.
Tim
Penterjemah. 2007. Samyutta nikaya I, Wisma
Sambodhi: Klaten.
Tim penyusun.
1991. Buku Pelajaran Agama Buddha SMA
Kelas 1. Paramita Surabaya: Surabaya.
Tim
penyusun. 2011. Pelajaran Agama Buddha
Untuk Remaja. Sekretariat Jendral Sekber PMVBI: Jakarta.
Ven. Hye
Dhammavuddho. 2008. Ajaran Buddha. Penerbit
Dian Dharma: Jakarta.
Ven.
Narada Mahathera. 1998. Sang Buddha dan
Ajaran-ajarannya. Yayasan Dhammadipa Arama: Jakarta.
Ven. K. Rathanasara. 2008. Indahnya Berdana. Education dan Dharma
Propagation Subcommittee: Sri Lankaramaya Buddhis Temple.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar